SMPN 3 Jetis, Bantul, menyatakan sudah tidak menerima kiriman makan bergizi gratis (MBG) setelah puluhan siswa dan guru mengalami gejala keracunan. Saat ini sebagian besar siswa sudah masuk dan kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).
"Sejak kemarin kami setop. Kejadian hari Senin (14/4/2026) dan hari Selasa kami setop karena Senin pagi sekitar jam 8 suasana sudah tidak begitu kondusif. Anak-anak banyak yang izin ke toilet," kata Kepala SMPN 3 Jetis, Widodo, kepada wartawan di Jetis, Bantul, Rabu (15/4/2026).
Widodo mengatakan, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menghentikan pendistribusian MBG mulai hari ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau SPPGnya tidak melakukan pendistribusian MBG mulai hari Rabu (15/6) hingga waktu yang belum dapat ditentukan dari pihak SPPG," ujarnya.
Terkait kondisi siswanya, Widodo mengatakan sebagian besar telah mengikuti KBM. Dia bilang, hingga saat ini total murid yang mengalami gejala keracunan mencapai 75 orang.
"Yang kemarin ke Puskesmas itu masih kami izinkan di rumah untuk memulihkan stamina dan psikisnya. Untuk yang tidak ke puskesmas kami imbau untuk masuk mengikuti KBM," ucapnya.
Widodo menjelaskan ada juga sebagian guru yang mengalami gejala keracunan. Pasalnya guru-guru tersebut ikut menyantap MBG.
"Untuk guru itu terdampak sekitar 30 orang. Tapi sekarang mereka sudah sehat semua dan melaksanakan tugasnya kembali," kata dia.
Menyoal penyebab gejala keracunan, Widodo menduga dari salah satu menu MBG. Namun, untuk memastikannya Widodo mengaku masih menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan tersebut.
"Dari teman-teman itu yang kemarin mendistribusikan ke anak-anak secara langsung itu sepertinya diduga ayamnya," ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, sejumlah siswa SMPN 3 Jetis Bantul mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG. Para siswa itu selanjutnya mendapatkan perawatan.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, menyampaikan sebelumnya para siswa mengonsumsi MBG pada Senin (13/4). Menu MBG meliputi nasi, ayam bakar, sayur sawi, tahu goreng dan buah semangka.
"Lalu pagi tadi beberapa murid merasakan gejala mual, diare, muntah dan pusing," katanya kepada wartawan, Selasa (14/4/2026).
Mengetahui hal tersebut, guru langsung membawa muridnya yang mengalami gejala keracunan ke Puskesmas 2 Jetis.
Jumlah murid yang mengalami gejala keracunan terus bertambah jumlahnya.
"Berdasarkan laporan dari Puskesmas Jetis 2 ada 71 murid yang diduga mengalami keracunan MBG," ujarnya.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji, menerangkan jumlah siswa yang diduga keracunan mencapai sekitar 80 siswa dan guru yang mengalami keracunan MBG. 77 murid berasal dari SMPN Jetis, kemudian ada dua guru dan satu murid di SMP swasta di Jetis.
"Data terbaru menyebut ada 80 orang yang diduga keracunan itu (MBG). Tapi semuanya sudah terkondisi," jelasnya.
Hermawan menyebut SPPG yang menyuplai SMP di Jetis masih beroperasi usai terjadi dugaan keracunan. Dia meminta agar SPPG itu disetop sementara.
"Kalau dari Satgas Kabupaten berharap tutup dulu sementara hingga diketahui penyebabnya apa. Tapi tadi SPPG dari korwil sudah laporan ke pusat dan tinggal tunggu keputusannya seperti apa dari pusat, karena yang punya wewenang dari pusat," katanya saat dihubungi wartawan, Selasa (14/4/2026)
Terkait penyebab puluhan orang mengalami gejala keracunan makanan, Hermawan mengaku belum bisa mengungkapkannya. Mengingat untuk menentukan penyebabnya harus berdasarkan uji laboratorium terhadap sampel makanan.
"Dari Dinkes (Bantul) sudah mengambil sampel makanan dan saat ini sedang diuji laboratorium," ucapnya.
