Dua pasar di Jogja yakni Pasar Sentul dan Pasar Terban justru sepi pembeli usai direnovasi total. Pedagang pun mengeluh dan berharap ada solusi.
Diketahui Pasar Sentul di Jalan Sultan Agung, Pakualaman Jogja kembali dibuka sejak 2024 lalu usai direnovasi total. Selama direnovasi, pedagang memakai lokasi sementara di Pasar Batikan.
Sementara Pasar Terban di Jalan C Simanjuntak baru sekitar 7 bulan lalu dibuka usai renovasi. Para pedagang kedua pasar itu mengeluhkan hal yang sama, sepi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada yang nggak mau balik sini (dari batikan) bertahan di sana. Terus yang belanja kan itu di sana kan katanya enak nggak naik-naik dan dekat. Kalau sini agak jauh dan naik-naik," ujar Wakinem saat ditemui detikJogja di lapaknya, Pasar Sentul Senin (3/8/2026).
Pasar Sentul memang nampak lebih rapi. Pasar itu punya tiga lantai yang lantai pertama berisi berbagai kebutuhan sayur mayur, lantai 2 berisi daging hingga warung kelontong, di lantai 3 isinya pusat kuliner pujasera.
Selain lebih besar dan bersih, pascarenovasi Pasar Sentul kini juga dilengkapi berbagai fasilitas, toilet bersih di banyak titik hingga eskalator.
Kalah dengan Pedagang Pinggir Jalan
Selain para pelanggan yang enggan beralih dari Pasar Batikan, pedagang pinggir jalan juga dinilai menambah sepi Pasar Sentul.
"Sekarang sudah ndak ada yang masuk, pada beli di sana (tepi jalan) semua. Jadi kalau orang belanja sini sudah bawa ayam semua. Itu kan sudah enak (beli ayam di pinggir jalan), mudah, ndak parkir, murah," sambungnya.
Pasar Sentul, Jogja, Senin (3/8/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
Minta Dibuatkan Event
Sementara, salah satu pedagang kuliner di lantai 3, Ponijo, menyebut area kuliner sepi karena tak terekspose. Dia menilai mayoritas orang tidak tahu ada sentra kuliner di Pasar Sentul.
Selain itu juga minimnya event yang digelar di Pasar Sentul sebagai sarana promosi pasar pascarenovasi.
"Tidak ada akses langsung ke jalan raya, jadi ndak terlihat dari jalan kalau di sini ada pujasera, tertutup. Nggak kayak Kranggan, Prawirotaman," ujar Ponijo.
"Tolong dibikin event, lomba melukis, senam, lomba karaoke, lomba kicau burung, apalah yang bisa buat makan," lanjutnya.
Pasar Terban, Jogja, Senin (3/8/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
Harapan agar dibuatkan event juga muncul di Pasar Terban. Pedagang Pasar Terban, Yani, menyebut promosi pasar sangat kurang.
"Ya kalau dari pedagang sebenarnya juga pengin banget dipromosikan dari dinas, mungkin ada event, karena selama ini masih kurang to promosinya. Jadi banyak yang belum tahu, dari depan aja banyak yang belum tahu kalau ini pasar," harapnya.
Renovasi Terlalu Lama
Pasar yang baru 7 bulan dibuka usai renovasi ini juga dinilai sepi dibanding sebelumnya. Salah satu pedagang tempe di pasar Terban, Siam, menilai renovasi terlalu lama membuat para pelanggan beralih.
"Ya memang pasarnya jadi bagus, tapi nek pembeli belum ke sini piye? Kan yang penting pembeline. 2 tahun relokasi itu, di Batikan. Kesuen jadi pada pergi lengganane. Dapat tempat baru," ujar Siam saat ditemui detikJogja, kemarin.
Dia merasa seperti kembali merintis saat usaha awal. Sebab, pelanggannya yang mayoritas warung gudeg sekitar Pasar Terban dinilai telah beralih ke pedagang lainnya karena proses renovasi.
"Sekarang ya lumayan tapi masih belum mbalik lengganane. Ya namanya baru merintis lagi to," sambungnya.



Komentar Terbanyak
Ulah Oknum Fotografer 'Kuasai' Pelang Jalan Malioboro demi Cuan
Pelukis Jogja Nasirun Tutup Usia
Alasan di Balik Ditutupnya Belasan Dapur MBG di DIY