Tolak Pesangon Rendah, Buruh Pabrik Garmen Sleman Demo di Kantor Bupati

Tolak Pesangon Rendah, Buruh Pabrik Garmen Sleman Demo di Kantor Bupati

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Rabu, 01 Apr 2026 13:19 WIB
Buruh PT Mataram Tunggal Garment melakukan aksi demonstrasi di kompleks Pemkab Sleman, Rabu (1/4/2026). Mereka menuntut nominal pesangon yang layak.
Buruh PT Mataram Tunggal Garment melakukan aksi demonstrasi di kompleks Pemkab Sleman, Rabu (1/4/2026). Mereka menuntut nominal pesangon yang layak. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja.
Sleman -

Massa buruh PT Mataram Tunggal Garment (MTG) menggelar demonstrasi di depan Kantor Bupati Sleman. Mereka menolak pembayaran pesangon sebesar 0,5 kali ketentuan perusahaan dan menuntut pembayaran sebesar 2 kali ketentuan undang-undang.

Pantauan detikJogja, para buruh itu melakukan long march dari lapangan Pemda Sleman menuju kantor Bupati Sleman. Mereka berjalan kaki dan membawa sejumlah poster. Rombongan tersebut sempat berhenti di Kantor Disnaker Sleman dan berorasi.

Mereka kemudian melanjutkan aksi di depan kantor bupati dan lanjut berorasi. Massa aksi menuntut untuk bisa bertemu dengan Bupati Sleman dan perwakilan DPRD untuk menyampaikan aspirasi.

"Tuntutannya saya minta, kita sebagai karyawan minta pesangon dua persen. Karena kita hanya dikasih 0,5," kata salah satu karyawan PT MTG, Hariyani, saat ditemui wartawan di sela aksi, Rabu (1/4/2026).

Buruh PT Mataram Tunggal Garment melakukan aksi demonstrasi di kompleks Pemkab Sleman, Rabu (1/4/2026). Mereka menuntut nominal pesangon yang layak.Buruh PT Mataram Tunggal Garment melakukan aksi demonstrasi di kompleks Pemkab Sleman, Rabu (1/4/2026). Mereka menuntut nominal pesangon yang layak. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja



Ia mengatakan PHK terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama terjadi tak lama setelah pabrik terbakar pada 21 Mei 2025, dengan 989 pekerja terdampak. Sementara gelombang kedua akan berlangsung pada 28 April mendatang, menyasar 379 pekerja.

"Kita masih bekerja dan terakhir rencananya tanggal 28 April kita semua di-PHK, cut-off. (Total semua) 379 pekerja," kata wanita yang sudah 26 tahun bekerja di PT MTG itu.

Pada PHK gelombang pertama, para karyawan tersebut mendapatkan pesangon sebesar 0,75 persen. Sementara rata-rata pekerja yang terdampak PHK di gelombang kedua ini sudah puluhan tahun bekerja di pabrik tersebut.

"Sedangkan kemarin itu lebih dari nol koma lima PHK yang pertama. Kita menolak pesangon nol koma lima karena perjuangan kita yang lebih dari dua puluh lima tahun," tegasnya.

Berdasarkan informasi yang ia terima, alasan pemberian pesangon sebesar 0,5 persen itu karena kondisi keuangan perusahaan. Apalagi setelah kejadian kebakaran yang menghanguskan hampir seluruh pabrik.

Akan tetapi pada kenyataannya, pabrik tetap beroperasi dan mendapatkan pesanan. Ia juga mendengar akan ada rencana pembangunan.

"Karena alasannya katanya bangkrut tetapi kalau bangkrut kenapa masih ada order di luar namanya CMT. Terus masih ada rencana pembangunan," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Divisi Advokasi DPD KSPSI DIY, Waljito, menambahkan berdasarkan data yang pihaknya kumpulkan, PT MTG tidak mengalami kerugian dan order terus berjalan. Oleh karena itu, ia mendampingi para buruh untuk melakukan bipartit di Disnaker Sleman agar perusahaan bisa memberikan hak pesangon sesuai tuntutan.

"Ya kita akan upaya ini nanti bipartit, kita akan berjuang supaya hak kita dipenuhi. Kalau mereka mangkir, mereka melawan, mereka kemudian tidak memenuhi tuntutan kita, ya kita akan melanjutkan ke perjuangan berikutnya," ujarnya.

Para buruh yang melakukan aksi itu kemudian ditemui oleh Bupati Sleman, Wakil Bupati Sleman, Wakil Ketua DPRD Sleman, dan Kepala Disnaker Sleman, dan pejabat lainnya.

Saat menemui para buruh, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyampaikan bahwa pemkab akan menjembatani dan mencarikan solusi bagi para buruh.

"Kami akan mencoba membantu mencarikan solusi. Kami akan berdiskusi dengan manajemen PT MTG, bagaimana solusi yang terbaik," kata Harda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Buruh PT Mataram Tunggal Garment melakukan aksi demonstrasi di kompleks Pemkab Sleman, Rabu (1/4/2026). Mereka menuntut nominal pesangon yang layak.Buruh PT Mataram Tunggal Garment melakukan aksi demonstrasi di kompleks Pemkab Sleman, Rabu (1/4/2026). Mereka menuntut nominal pesangon yang layak. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja



Selain itu, dirinya akan berkomunikasi langsung dengan direksi PT MTG untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini.

"Saya akan berusaha menghubungi Pak Robi (direksi PT MTG). Mudah-mudahan nanti saya bisa berdialog dengan beliau dan mencarikan solusi yang terbaik," ucapnya.

Harda meminta agar para buruh bisa bersabar menunggu solusi dari pemerintah daerah.

"Saya minta panjenengan semua bersabar, beri kesempatan pemerintah daerah untuk mencarikan solusi. Ini bagian dari tanggung jawab kami kepada panjenengan," pungkasnya.



(apl/aku)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads