Seorang seniman ketoprak asal Imogiri, Bantul, Ngatiman wafat saat sedang melakukan pentas di lingkungan rumahnya. Ngatiman berpulang pada usia ke-57 tahun.
Kabar meninggalnya Ngatiman itu tersebar luas di media sosial, salah satunya melalui akun Instagram @pasekanreborn. Dalam unggahan tersebut, Ngatiman tampak terjatuh kemudian pingsan usai melakukan adegan pentas dengan lawan mainnya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Kabar duka menyelimuti dunia seni dan budaya Bantul. Bapak Ngatiman, salah satu seniman kethoprak ternama asal Kajorkulon, Selopamioro, Imogiri, meninggal dunia saat pentas di panggung pada Selasa (24/3/2026). Semoga almarhum husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Alfatihah," tulis akun tersebut, Jumat (27/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar tersebut dibenarkan oleh menantunya, Irma. Saat dimintai konfirmasi, Irma mengatakan jika ayah mertuanya itu memang sempat mengeluh kurang fit sejak beberapa hari sebelum meninggal saat pentas pada Selasa (24/3) lalu.
Belum lama naik ke panggung, Ngatiman jatuh pingsan. Mulanya, penonton dan keluarga tidak mengira jika Ngatiman pingsan, karena adegan yang diperankan Ngatiman memang sedang jatuh. Namun, menyadari ayah mertuanya tak kunjung bangun, keluarga dan warga langsung membawanya ke rumah sakit.
"Kejadiannya kayak gitu. Pentas kan baru itu tuh, baru masuk, baru awal-awal banget, jatuh. Ya nggak ditolong itu karena memang adegannya tuh memang lagi seperti itu (adegan terjatuh)," kata Irma kepada detikJogja saat ditemui di rumahnya, Bantul, Jumat (27/3).
"Sekitar beberapa menit nggak bangun, baru orang-orang pada nolongin," lanjutnya.
Setelahnya, warga langsung membawa Ngatiman ke rumah sakit. Di rumah sakit sekitar pukul 23.00 WIB, mendiang dinyatakan meninggal dunia.
Menurut Irma, pentas ketoprak tersebut digelar mendiang untuk menghibur masyarakat desa setempat, terutama pemudik. Apalagi momen tersebut bertepatan dengan Lebaran.
"Itu syawalan. Kayak halal bihalal gitu buat pribadi, itu buat kayak menghibur, Bapak pun pengin hibur masyarakat biar seneng katanya gitu," kata Irma.
Irma juga mengklarifikasi terkait berita yang beredar terkait penyebab meninggalnya Ngatiman disebut karena ditonjok oleh lawan mainnya.
"Cuma itu akting, itu akting, berarti nggak beneran. Nggak yang sampai sakit atau melukai fisik, nggak itu," kata Irma.
Irma menjelaskan adegan tersebut memang sudah direncanakan sebelumnya. Ia kembali menegaskan tak ada adegan fisik yang sampai melukai mendiang atau lakon ketoprak lainnya.
Di sisi lain, istri Ngatiman, Suyati, menceritakan mendiang merupakan sosok yang peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Mendiang juga merupakan salah satu tokoh yang cukup dihormati di Dusun Kajor Kulon.
"Dia sayang sesama, di lingkungan itu nomor satu kan. Dia memang jiwanya relawan sekali. Kalau lihat apa di masyarakat yang butuh bantuan, dia langsung terjun. Jalan rusak dia langsung segera memperbaiki," ujar Suyati sembari meneteskan air mata kepada detikJogja saat ditemui di kediamannya, Jumat (27/3).
"Ada orang tetangga membutuhkan segera datang, masyarakat membutuhkan pengin jalan-jalan diajak, pengin ngaji di mana diajak, dia selalu mau," lanjutnya.
Suyati menyebut mendiang selalu mengedepankan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri. Ia tak pernah ragu untuk memberikan bantuan.
"Dia itu walaupun dirinya sendiri kurang, tapi dia selalu memberi ke orang lain. Banyak warga yang kekurangan makan, dia kasih makan. Anak-anak di sini nggak punya uang, dia kasih uang. Kemarin ada anak KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sini, juga ditraktir makanan," jelasnya.
Di mata keluarga, Suyati menyebut mendiang merupakan sosok yang bertanggung jawab. Ngatiman sendiri meninggalkan dua orang putra dan putri, serta dua cucu laki-laki.
"Dia orang baik, bertanggung jawab. Dia selalu mengutamakan kebutuhan keluarga," tegasnya.
