Sejarah Dusun Jenengan Sleman, Konon Berasal dari Sapaan Prajurit

Sejarah Dusun Jenengan Sleman, Konon Berasal dari Sapaan Prajurit

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Jumat, 20 Mar 2026 12:00 WIB
Gapura Padukuhan Jenengan yang terletak di Kalurahan Maguwoharjo, Depok, Sleman.
Gapura Padukuhan Jenengan yang terletak di Kalurahan Maguwoharjo, Depok, Sleman. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja.
Sleman -

'Jenengan' adalah kata dalam bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia bermakna 'kamu' atau 'Anda'. Tapi, di Kapanewon Depok, Jenengan merupakan nama salah satu padukuhan yang ada di Kalurahan Maguwoharjo. Bagaimana sejarahnya?

Dukuh Jenengan, Jamadi Tomorejo, menjelaskan padukuhan ini terdiri dari dua dusun. Jenengan dan Daengan. Kedua dusun itu tak bisa dilepaskan dari akar sejarah Padukuhan Jenengan.

"Penduduk Jenengan terdiri dari dua dusun, Dusun Jenengan dan Dusun Daengan (yang berasal) dari kata Daeng," kata Jamadi, saat berbincang dengan detikJogja di kediamannya, Selasa (3/3/2026).

Cikal bakal padukuhan itu ada sekitar tahun 1825 pada masa perang Diponegoro. Kala itu ada prajurit dari Makassar datang ke Jogja. Itu menurut penuturan para sesepuh kampung yang diturunkan lintas generasi hingga mencapai generasi sekarang.

"Kan menurut keterangan sesepuh-sepuh kurang lebih tahun 1825 ya kalau enggak salah perang Diponegoro. Katanya di sini ada prajurit dari Makassar, tapi yang sudah lama di Jogja," kata Jamadi.


Nama Padukuhan Jenengan disebut berasal dari peristiwa ketika prajurit Makassar tersebut disapa menggunakan bahasa Jawa. Saat ditanya asal mereka, prajurit tersebut tidak memahami bahasa Jawa.

"Katanya prajurit Diponegoro menyapa dengan bahasa Jawa, 'Panjenengan dari mana?'. Orang Makassar itu bingung, lalu menyebut dirinya dari Makassar, dari Daeng. Dari situ kemudian muncul nama Jenengan," jelas Jamadi.

Para prajurit itu disebut memiliki gelar 'Daeng', gelar kebangsawanan dari Makassar. Dari sebutan itulah kemudian muncul nama Dusun Daengan yang terletak di sebelah barat Stadion Maguwoharjo.

"Menurut cerita orang-orang tua, dulu ada prajurit dari Makassar yang disebut Daeng. Dari kata Daeng itu kemudian muncul nama Dusun Daengan," ujarnya.

Jamadi mengaku cerita tersebut masih sebatas penuturan para sesepuh karena belum ada penelitian khusus mengenai sejarah dusun tersebut.

"Yang saya tahu hanya dari cerita sesepuh. Benar atau tidaknya saya juga tidak tahu, karena memang belum ada penelitian khusus tentang sejarah dusun ini," katanya.

Ejaan Padukuhan Jenengan pun beberapa kali berganti. Awalnya dari Panjenegan menjadi Njenengan, hingga terakhir menjadi Jenengan yang digunakan sampai saat ini.

"Dulu panjenengan terus tahun berapa itu jadi jenengan. Jenengan dulu zaman lama juga pakai Njenangan terus sekarang baru pakai J, Jenengan. Sejarahnya singkat seperti itu," ujarnya.

Dalam perkembangannya, Padukuhan Jenengan masa lalu hanya berupa tanah yang penuh dengan sawah dan ilalang. Saat ini wilayah seluas 54 hektare itu dihuni oleh sekitar seribu orang. Baik warga asli maupun mahasiswa pendatang. Dia berharap generasi selanjutnya dapat melestarikan dan tidak melupakan akar budaya dari Padukuhan Jenengan.

"Penduduknya sekarang yang teradministrasi bukan yang bermukim ya, yang beradministrasi 870. Kalau sama anak-anak kos sama orang kontrak ya lebih dari 1.000. Luas wilayah kan ada 54 hektare," ucapnya.

Sejarah lisan ini pun terus dijaga oleh generasi muda setempat. Umar, salah seorang pemuda Jenengan, mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi tutur yang ia terima dari para sesepuh, penggunaan kata "Panjenengan" bukan sekadar sapaan biasa.

"Karena para pengikut Pangeran Diponegoro dulu dianggap sebagai orang yang sangat dihormati, maka warga menggunakan kata Panjenengan (Krama Inggil), bukan Koe. Meskipun artinya sama-sama 'Anda', namun Panjenengan mencerminkan rasa hormat yang mendalam," terang Umar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Dia menambahkan bahwa perubahan nama dari 'Panjenengan' menjadi 'Jenengan' secara administratif mulai terlihat menjelang masa kemerdekaan Indonesia. Sebagai perwakilan anak muda, Umar berharap agar sejarah ini menjadi fondasi bagi generasi selanjutnya.

"Harapan kami adalah terciptanya generasi baru yang lebih solid, loyal, dan harmonis tanpa ada cibir-mencibir. Kami ingin Jenengan bisa jadi inspirasi bagi dusun lainnya, terutama di Kalurahan Maguwoharjo dalam bidang digital," pungkasnya.



(apl/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads