Trump Ancam Ambil Alih Kuba yang Lumpuh gegara Krisis Listrik

Internasional

Trump Ancam Ambil Alih Kuba yang Lumpuh gegara Krisis Listrik

Zunita Putri - detikJogja
Selasa, 17 Mar 2026 12:47 WIB
U.S. President Donald Trump gestures during a visit to Verst Logistics in Hebron, Kentucky, U.S., March 11, 2026. REUTERS/Kevin Lamarque     TPX IMAGES OF THE DAY
Presiden AS Donald Trump. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)
Jogja -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersumpah untuk "mengambil alih" Kuba saat pulau itu mengalami pemadaman listrik total. Krisis listrik itu imbas embargo minyak yang mengakibatkan wilayah itu lumpuh.

"Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya telah mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?" kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih dilansir AFP, dilansir detikNews, Selasa (17/3/2026).

"Saya percaya saya akan...mendapatkan kehormatan untuk mengambil alih Kuba," imbuh Trump.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump memastikan AS bakal mengambil alih Kuba yang sedang dalam kondisi lemah ini.

ADVERTISEMENT

"Entah saya membebaskannya, mengambilnya-atau berpikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya, Anda ingin tahu yang sebenarnya. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini," katanya.

Pernyataan Trump ini merupakan salah satu ancaman yang muncul ketika pulau berpenduduk 9,6 juta jiwa itu dilanda pemadaman listrik total.

Listrik Padam Total

Sebagai informasi, pemadaman listrik itu diakibatkan "pemadaman total jaringan listrik nasional," kata Union Navional Electrica de Cuba (UNE) dalam pernyataannya. UNE menyebut pekerjaan untuk memulihkan aliran listrik sudah dimulai.

Sistem pembangkit listrik Kuba yang berusia tua itu sudah dalam kondisi buruk. Imbasnya, pemadaman listrik harian selama 20 jam menjadi hal biasa di beberapa bagian pulau.

Namun, sejak AS menggulingkan sekutu utama Kuba, Nicolas Maduro dari Venezuela awal Januari lalu, ekonomi pulau itu makin terpukul. Sebab, Trump mempertahankan blokade minyak de facto.

Tak ada minyak yang diimpor ke Kuba itu sejak 9 Januari, yang berdampak pada sektor energi dan memaksa maskapai penerbangan mengurangi penerbangan ke pulau tersebut. Hal ini pun memukul sektor pariwisata di Kuba.

Seorang pejabat ekonomi senior di Kuba mengumumkan bahwa para pengungsi Kuba sekarang dapat berinvestasi dan memiliki bisnis di sana. Hal itu dia sampaikan pada Senin (16/3) waktu setempat sebagai upaya mengurangi tekanan ekonomi dan memenuhi tuntutan AS.

"Kuba terbuka untuk menjalin hubungan komersial yang lancar dengan perusahaan-perusahaan AS" dan "juga dengan warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat dan keturunan mereka," kata Menteri Perdagangan Luar Negeri dan juga Wakil Perdana Menteri, Oscar Perez-Oliva, kepada NBC News.

The New York Times melaporkan, mengacu sumber anonim, jika para pejabat pemerintahan Trump telah memberi sinyal kepada para pejabat Kuba bahwa AS ingin Presiden Miguel Diaz-Canel disingkirkan dari kekuasaan.



(ams/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads