- Urutan Raja Mataram Islam dan Profil Singkatnya 1. Panembahan Senopati (1587-1601) 2. Panembahan Hanyokrowati (1601-1613) 3. Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645) 4. Amangkurat I (1645-1677) 5. Amangkurat II (1677-1703) 6. Amangkurat III (1703-1705) 7. Pakubuwono I (1705-1719) 8. Amangkurat IV (1719-1726) 9. Pakubuwono II (1726-1749) 10. Pakubuwono III (1749-1755)
Kerajaan Mataram Islam menorehkan sejarah tersendiri bagi Nusantara yang masih bisa dipelajari hingga saat ini. Termasuk keberadaan raja-raja Mataram Islam di masa lampau dengan kisahnya masing-masing. Untuk lebih mengenal siapa raja Mataram Islam yang pernah berjaya pada masanya, mari simak ulasannya melalui paparan berikut.
Apa itu Kerajaan Mataram Islam? Saat belajar tentang sejarah kerajaan di masa lampau, nama Mataram Islam tidak pernah terlepas untuk disebutkan. Sebab, Kerajaan Mataram Islam adalah kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa. Pada masa tertentu, Kerajaan Mataram Islam berhasil meraih puncak kejayaannya.
Hal tersebut tidak terlepas dari peran raja-raja yang memimpin kerajaan tersebut. Dikutip dari buku 'Kitab Terlengkap Sejarah Mataram' karangan Soedjipto Abimanyu, Kerajaan Mataram Islam berdiri di tahun 1586. Sebelumnya, Mataram Islam adalah kadipaten yang dikuasai oleh Kerajaan Pajang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah Kerajaan Pajang runtuh, Kerajaan Mataram Islam dideklarasikan oleh Sutawijaya atau dikenal juga sebagai Panembahan Senopati. Kendati begitu, Mataram Islam baru mencapai masa kejayaan pada raja ketiga, yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Seiring berjalannya waktu, Mataram Islam bukan hanya sempat mengalami masa-masa keemasan, tapi juga kemunduran. Usaha mengalahkan VOC yang tak kunjung membuahkan hasil membuat Mataram Islam diambang perpecahan. Inilah yang membuat peran dari raja-raja Mataram Islam dalam menjaga kejayaan menjadi hal yang menarik diketahui.
Lantas, siapa saja raja Kerajaan Mataram Islam yang pernah ada dan memimpin di masa lampau? Simak urutan dan biografi singkatnya berikut ini, ya.
Poin Utamanya:
- Kerajaan Mataram Islam dipimpin oleh 10 raja, dimulai dari Panembahan Senopati sebagai pendirinya hingga berakhir di masa pemerintahan Pakubuwono III, yang menandai akhir Mataram Islam sebagai kerajaan tunggal.
- Masa Sultan Agung Hanyokrokusumo menjadi periode kejayaan terbesar Mataram Islam, dengan wilayah luas dan kekuatan politik yang kuat, sebelum akhirnya mengalami pasang surut akibat pemberontakan internal dan campur tangan VOC.
- Konflik berkepanjangan dan tekanan politik Belanda berakhir pada Perjanjian Giyanti, yang membagi Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta sekaligus mengakhiri eksistensi Mataram Islam sebagai satu kerajaan utuh.
Urutan Raja Mataram Islam dan Profil Singkatnya
Menurut buku 'Sang Wali Pamijahan: Rekonstruksi Sejarah, Ajaran, dan Jejak-Jejak Dakwah Syaikh Abdul Muhyi di Tatar Pasundan' tulisan Yandi Irshad Badruzzaman, SPd, Gr, sejarah mencatat Kerajaan Mataram Islam pernah dipimpin oleh setidaknya 10 orang raja. Raja-raja Mataram Islam melalui masa demi masa yang membuat wilayah kekuasaan semakin meluas seiring berjalannya waktu.
Bukan hanya itu saja, setelah mengalami kejayaan di masa pemerintahan Sultan Agung, Kerajaan Mataram Islam juga mengalami kemunduran akibat pemberontakan campur tangan pihak luar hingga adanya konflik di internal.
Dihimpun dari buku yang sama ditambah referensi dari 'Gerilya Terakhir Diponegoro' oleh Tuhidin SPd, 'Kitab Terlengkap Sejarah Mataram' tulisan Soedjipto Abimanyu, 'Sejarah' karya Drs Tugiyono KS, dkk., hingga 'Takhta Raja-raja Jawa' oleh Dwi Lestari, berikut silsilah raja-raja Mataram Islam dari tahun ke tahun.
1. Panembahan Senopati (1587-1601)
Raja pertama Kerajaan Mataram Islam adalah Panembahan Senopati atau yang juga dikenal sebagai Sutawijaya. Sosoknya adalah pendiri sekaligus yang mendeklarasikan Kerajaan Mataram Islam, setelah Kerajaan Pajang runtuh. Disebut-sebut, Panembahan Senopati adalah keturunan dari raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya.
Sutawijaya atau Panembahan Senopati memiliki visi tersendiri dalam memerintah kerajaan ini. Dirinya berupaya menyatukan seluruh tanah Jawa agar menjadi bagian dari Mataram Islam. Kendati begitu, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Sebab, masih ada sejumlah wilayah di Jawa yang belum sepenuhnya dikuasai oleh Mataram Islam.
Disebutkan Panembahan Senopati tidak hanya mengisi kehidupannya sebagai seorang raja dengan urusan politik semata. Akan tetapi, dirinya juga dekat dengan aspek spiritualitas. Berakhirnya masa pemerintahan Panembahan Senopati dikarenakan dirinya tutup usia pada tahun 1601.
2. Panembahan Hanyokrowati (1601-1613)
Setelah Panembahan Senopati wafat, sang putra yang bernama Mas Jolang atau Panembahan Hanyokrowati naik takhta. Mas Jolang bukanlah putra sulung Panembahan Senopati. Sebaliknya, sosoknya adalah putra nomor delapan. Situasi inilah yang membuat posisi Panembahan Hanyokrowati bisa dibilang tidaklah mudah.
Sebagai raja Mataram Islam yang bukan merupakan putra sulung, Mas Jolang alias Panembahan Hanyokrowati kerap mendapatkan perlawanan dari pihak internal. Ada upaya yang berusaha merebut takhta dirinya. Inilah yang membuat Panembahan Hanyokrowati harus menjalani masa kepemimpinan dengan adanya gejolak.
Selama masa pemerintahan Panembahan Hanyokrowati, ada beberapa wilayah di Pulau Jawa yang berusaha ditaklukkan. Bahkan upaya untuk memperkuat wilayah Mataram Islam tak luput dari berbagai pemberontakan. Masa pemerintahan Panembahan Hanyokrowati juga berakhir saat dirinya wafat di tahun 1613.
3. Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645)
Sepeninggal Panembahan Hanyokrowati, Kerajaan Mataram Islam beralih kepemimpinan di tangan Raden Mas Rangsang atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Agung Hanyokrokusumo. Berkat 'tangan dingin' Sultan Agung, nantinya Mataram Islam berhasil meraih puncak kejayaan dan keemasannya.
Raden Mas Rangsang adalah putra Panembahan Hanyokrowati dari permaisuri. Saat naik takhta, Sultan Agung berusia cukup muda yaitu 20 tahun. Sebagai raja ketiga Mataram Islam, Sultan Agung berhasil mengembangkan kerajaan yang dipimpinnya hingga berhasil menjadi yang terbesar. Tidak hanya sebatas di Pulau Jawa saja, tetapi juga Nusantara.
Kendati begitu, Sultan Agung mendapati upaya perlawanan yang diberikan oleh pihak asing, yaitu VOC. Awalnya pihak VOC menawari Sultan Agung untuk bekerja sama. Namun, ditolak mentah-mentah olehnya. Namun, berkat strategi yang disusun oleh raja ketiga Mataram Islam ini, akhirnya VOC bisa 'dimanfaatkan' untuk menguasai wilayah lain.
Berkat kepiawaian Sultan Agung inilah Mataram Islam berhasil mengembangkan wilayahnya, tak hanya di Jawa tapi juga sampai luar pulau. Di masa pemerintahan Sultan Agung juga Kalender Jawa Islam diciptakan. Sultan Agung meninggal dunia di tahun 1645 M yang sekaligus menandai berakhirnya masa pemerintahannya.
4. Amangkurat I (1645-1677)
Raja keempat Mataram Islam kemudian diambil alih oleh Amangkurat I. Lahir dengan nama Raden Mas Sayyidin, Amangkurat I adalah putra Sultan Agung. Nama Amangkurat diambil dari kata 'Amangku' yang berarti 'memangku' dan 'rat' yang bermakna 'bumi. Istilah ini dapat dimaknai sebagai memerintah suatu negara.
Sebagai putra Sultan Agung, Amangkurat I memiliki wilayah Mataram Islam yang begitu luas. Kondisi ini membuat orang-orang di sekitar menyampaikan sumpah setianya. Kendati begitu, di tengah masa pemerintahan Amangkurat I, upaya pemberontakan terus dilakukan.
Salah satu strategi yang dilakukan oleh Amangkurat I guna mempertahankan wilayah kekuasaannya adalah membuat perjanjian dengan VOC. Tidak hanya itu saja, Amangkurat I juga dikenal tegas dan kejam dalam membuat aturan. Ia bahkan tidak segan menghukum anggota keluarganya. Amangkurat I tutup usia saat dalam masa pelarian di tahun 1677.
5. Amangkurat II (1677-1703)
Setelah Amangkurat I wafat, digantikan oleh Amangkurat II atau Raden Mas Rahmat. Sosoknya merupakan putra dari Raden Mas Sayyidin yang tidak lain adalah Amangkurat I itu sendiri. Selama pemerintahan Amangkurat II, ada berbagai hal baru yang diperkenalkan olehnya. Tidak hanya mendirikan Kasunanan Kartasura, Amangkurat II juga cukup terbuka terhadap budaya Barat.
Dirinya tidak segan untuk menggunakan pakaian dinas ala Eropa. Bukan hanya itu saja, disebutkan Amangkurat II dikenal sebagai raja Mataram Islam dengan hati yang lemah. Ini dikarenakan sosoknya mudah untuk dipengaruhi. Ia bahkan sempat bergantung dengan pihak luar, yaitu VOC.
Seiring berjalannya waktu, Amangkurat II mulai hilang hormat terhadap VOC. Tindakan ini membuat VOC juga turut membongkar sisi lain Amangkurat II yang ternyata selama ini hanya berpura-pura saja terhadap mereka. Amangkurat II wafat pada tahun 1703 yang kemudian digantikan oleh putranya.
6. Amangkurat III (1703-1705)
Amangkurat III adalah raja keenam Mataram Islam. Sosoknya bisa dibilang sebagai salah satu raja dengan masa pemerintahan singkat. Dirinya hanya menjadi raja Mataram islam selama 2 tahun, yaitu 1703 sampai 1705 M saja.
Memiliki nama asli Raden Mas Sutikna, Amangkurat III terlibat perselisihan dengan pihak internal. Sebab, di dalam lingkup anggota kerajaan terdapat pandangan tentang sosok yang seharusnya naik takhta menjadi raja pengganti Amangkurat II yang telah tiada. Setelah menyatakan diri sebagai penerus takhta Kerajaan Mataram Islam, terdapat penolakan terhadap Amangkurat III.
Mengingat adanya polemik di lingkup internal, masa pemerintahan Amangkurat III turut mengalami penderitaan. Ini dikarenakan sosoknya menjadi sasaran untuk diburu oleh pasukan dari pihak-pihak yang mengincar kekuasaannya. Kondisi inilah yang membuatnya mau tak mau meninggalkan takhtanya setelah mengalami pemberontakan.
7. Pakubuwono I (1705-1719)
Pangeran Puger bisa dibilang sebagai salah satu pihak yang berseberangan dengan Amangkurat III. Hal inilah yang membuat perang saudara pecah yang membuat Amangkurat III turun takhta digantikan oleh Pangeran Puger dengan gelar Pakubuwono I.
Setelah naik takhta, Pakubuwono tidak hanya memimpin Mataram Islam saja, tapi juga menguasai Kasunanan Kartasura. Dibantu oleh pihak Belanda, kekuatan Pakubuwono I termasuk yang cukup kuat. Sayangnya, di masa pemerintahan Pakubuwono I, ada wilayah kekuasaan Mataram Islam yang justru hilang.
Bukan hanya itu saja, perjanjian dengan Belanda membuat Pakubuwono I harus membayar beras dalam jumlah yang begitu banyak dalam kurun waktu lama. Pakubuwono I mangkat di tahun 1719, sehingga takhta Mataram Islam turun kepada sang putra.
8. Amangkurat IV (1719-1726)
Putra Pakubuwono I bernama Raden Mas Suryaputra. Setelah naik takhta, dirinya mendapatkan gelar sebagai Amangkurat IV. Selama menjabat sebagai raja, ada begitu banyak hal yang terjadi di Mataram Islam. Satu di antaranya terjadinya peristiwa besar dan bersejarah, yaitu Perang Suksesi II.
Ada begitu banyak pihak yang berusaha merebut kekuasaan Kasunanan Kartasura. Sebab, pengangkatan Amangkurat IV sebagai raja bagi Kasunanan Kartasura memicu berbagai reaksi dari anak-anak Pakubuwono I yang lain.
Tidak hanya itu saja, Amangkurat IV juga disebut-sebut sebagai salah satu raja yang dimusuhi oleh rakyatnya sendiri. Salah satu alasannya karena keterlibatan VOC dalam lingkup pemerintahan. Amangkurat IV tutup usia pada tahun 1726. Kabarnya, raja kedelapan Mataram Islam meninggal dunia secara misterius yang diduga telah diracun.
9. Pakubuwono II (1726-1749)
Setelah wafat, takhta Mataram Islam jatuh di tangan Pakubuwono II. Sosoknya adalah putra Amangkurat IV bernama Suyasa yang bergelar Pakubuwono II. Pada saat masa pemerintahan Pakubuwono II inilah Kasunanan Kartasura berpindah ke Surakarta yang lebih dikenal sebagai peristiwa 'boyong kedhaton'.
Pakubuwono II adalah raja pertama bagi Kasunanan Surakarta. Padahal saat itu dirinya masih berusia cukup belia, yaitu 15 tahun. Sama halnya dengan sejumlah raja lainnya, Pakubuwono II harus menghadapi pemberontakan yang dilakukan oleh pihak luar yang berusaha menduduki wilayahnya.
Perselisihan juga terjadi di lingkup internal yang membuat Kasunanan Surakarta pecah menjadi dua bagian. Kendati begitu, situasi tersebut bisa cukup dikendalikan oleh Pakubuwono II. Setelah bertahun-tahun menghadapi pemberontakan dan peperangan, Pakubuwono II jatuh sakit di tahun 1794. Pemerintahan pun diserahkan kepada pihak Belanda.
10. Pakubuwono III (1749-1755)
Pada tahun 1949, Pakubuwono II mangkat di usia 40 tahun. Tak perlu waktu lama, sang putra mahkota bernama Suryakusuma akhirnya dilantik oleh pihak Belanda sebagai raja baru bagi Kasunanan Surakarta. Setelah diangkat, dirinya mendapatkan gelar sebagai Pakubuwono III.
Pada saat Pakubuwono III bertakhta, pemberontakan kuat masih dilakukan. Terutama di kalangan internal yang memicu adanya perebutan takhta. Tidak hanya itu saja, masa pemerintahan Pakubuwono III juga diwarnai dengan kesepakatan dalam Perjanjian Giyanti.
Melalui perjanjian tersebut, Kerajaan Mataram Islam akhirnya terbagi menjadi dua bagian. Pertama, Kasunanan Surakarta dan kedua adalah Keraton Yogyakarta. Nah, pada masa inilah Mataram Islam akhirnya melebur menjadi dua pemerintahan tersebut.
Kerajaan Mataram Islam meninggalkan warisan budaya yang begitu kental dan masih bisa dirasakan hingga saat ini, termasuk sejarah tentang raja-raja yang pernah memimpin di masa lampau. Semoga informasi tadi mampu menambah wawasan baru buat kamu ya, detikers.
(sto/apl)












































Komentar Terbanyak
Kasus Hogi Vs Jambret Disetop, Kapolres-Kasat Lantas Sleman Dicopot
Profil Kombes Edy Setyanto Erning Wibowo Kapolresta Sleman yang Dinonaktifkan
Kasat Lantas Polresta Sleman Juga Dicopot Buntut Kasus Hogi Vs Jambret