Heboh Fenomena Halo Matahari di Langit Jogja, Begini Penjelasan BMKG

Heboh Fenomena Halo Matahari di Langit Jogja, Begini Penjelasan BMKG

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Rabu, 14 Jan 2026 15:53 WIB
Fenomena matahari yang tampak seperti dilingkari cincin atau halo matahari muncul di langit Hubei, China. Ini penampakannya.
Ilustrasi Halo Matahari. Foto: Liu Shanghua/VCG via Getty Images
Jogja -

Viral di media sosial warga melihat fenomena halo matahari di langit Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Begini penjelasan BMKG soal munculnya fenomena cincin matahari tersebut.

Fenomena tersebut terlihat oleh masyarakat dan diunggah di akun Instagram @merapi_uncover. Disebutkan, fenomena cincin matahari itu terlihat warga siang tadi dari Jalan Kaliurang, Sleman.

"Fenomena Halo matahari terpantau dari Jalan Kaliurang Sleman. Rabu pukul 10.00," tulis keterangan dalam postingan itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta, Warjono menjelaskan fenomena halo matahari sering terlihat di berbagai daerah, termasuk di Jogja.

"Fenomena ini terjadi ketika cahaya matahari dibiaskan dan dipantulkan oleh kristal es di awan tinggi, khususnya awan cirrostratus," kata Warjono saat dihubungi wartawan, Rabu (14/1/2026).

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan kristal es ini berbentuk heksagonal, seperti prisma, dan berada di ketinggian 5 hingga 10 kilometer di atas permukaan bumi. Pemantulan cahaya matahari oleh kristal-kristal es di awan cirrus atau cirrostratus yang dingin dan tipis membentuk lingkaran cahaya dengan matahari di tengahnya.

Dijelaskannya, awan-awan ini biasanya muncul sebelum atau selama cuaca buruk, sehingga halo seringkali menjadi indikator pendekatan sistem cuaca.

"Fenomena halo matahari menandakan udara lembab di ketinggian dan tidak menyebabkan suhu udara menjadi lebih panas di permukaan bumi," katanya.

Dia menegaskan, ini adalah fenomena optis alamiah yang tidak berbahaya dan tidak memiliki hubungan dengan perubahan suhu udara. Fenomena halo matahari tidak menimbulkan dampak apa pun terhadap cuaca ekstrem, permukaan laut, atau bencana alam.

"Ini adalah fenomena alam optik atmosferik alami biasa dan indah yang disebabkan oleh interaksi cahaya matahari dengan kristal es di awan tinggi. Fenomena ini lebih merupakan penanda kondisi atmosfer daripada penyebab perubahan cuaca secara langsung yang biasa dan tidak berbahaya," pungkasnya.



(alg/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads