Kenapa Presiden Venezuela Ditangkap Amerika? Ini Penjelasannya

Kenapa Presiden Venezuela Ditangkap Amerika? Ini Penjelasannya

Nur Umar Akashi - detikJogja
Minggu, 04 Jan 2026 10:36 WIB
Kenapa Presiden Venezuela Ditangkap Amerika? Ini Penjelasannya
Presiden Venezuela. Foto: @RapidResponse47/HO via REUTERS
Jogja -

Mata dunia tertuju ke benua Amerika akhir pekan ini. Presiden Venezuela, NicolΓ‘s Maduro, bersama istrinya, Cilia Flores, dikabarkan ditangkap oleh Amerika Serikat (AS) pada Sabtu pagi, 3 Januari 2026. Penangkapan ini terjadi bersamaan dengan serangan udara Amerika ke ibu kota Venezuela.

Dilansir Reuters, pada Sabtu sore, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez memberikan pernyataan terkait aksi Washington. Dalam siaran langsung televisi yang menampilkan Rodriguez dan sejumlah pejabat tinggi lain, ia mengecam tindakan tersebut sebagai 'penculikan'.

"Kami menuntut pembebasan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores," ujar Rodriguez.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami menyerukan pembelaan kehidupan. Tidak seorang pun warga Venezuela, baik pria maupun wanita, boleh berdiam diri, karena para ekstremis yang telah memprovokasi agresi bersenjata ini terhadap negara kita akan dihukum oleh sejarah dan keadilan," tutur Rodriguez, dikutip dari detikNews.

Usai diekstraksi, Maduro diangkut naik kapal USS Iwo Jima. Setelah itu, Maduro dinaikkan pesawat yang kemudian terlihat mendarat di New York pada Sabtu Malam. Lantas, kenapa Presiden Nicolas Maduro ditangkap?

ADVERTISEMENT

Kenapa Presiden Venezuela Ditangkap Amerika?

Dirujuk dari The Guardian, NicolΓ‘s Maduro adalah presiden Venezuela yang naik tampuk kepemimpinan pada 2013, menggantikan Presiden Hugo Chavez. Chavez sendiri dikenal sebagai seorang sosialis yang memedomani retorika anti-Amerika Serikat.

Tidak heran jika hubungan AS dan Venezuela terasa panas, bahkan sejak akhir abad ke-20. Perkembangan terbaru, dalam beberapa bulan terakhir, Presiden Donald Trump berkali-kali menyerukan penggulingan Maduro.

Presiden Amerika yang kembali menjabat pada 2025 itu menyebut Maduro mengirim narkoba dan kriminal ke wilayah AS. Ia juga menuduh Maduro mencuri minyak AS. Di lain pihak, Maduro menolak tuduhan itu dan mengatakan bahwa Amerika berupaya menggulingkan kekuasaannya demi mengambil alih cadangan minyak Venezuela.

Menurut keterangan dari laman resmi US Department of State, pada Maret 2020 lalu, Maduro didakwa atas tuduhan terorisme narkoba, konspirasi impor kokai, kepemilikan senapan mesin dan alat perusak, serta konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan alat perusak.

Keterangan senada dituliskan Jaksa Agung AS, Pamela Bondi, melalui akun X-nya, @AGPamBondi. Ia mengatakan Maduro dan istrinya didakwa atas sejumlah hal.

"Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah didakwa di distrik selatan New York. Nicolas Maduro telah didakwa dengan konspirasi Narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senjata api dan perangkat destruktif lainnya, dan konspirasi untuk menggunakan senjata mesin dan perangkat destruktif terhadap Amerika Serikat," tulisnya, dilihat pada Minggu (4/1/2026) pagi.

US Department of State/Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sempat menawarkan hadiah untuk informasi yang berguna bagi penangkapan dan/atau penghukuman Maduro. Jumlahnya terus meningkat dari 2020. Terakhir, pada 7 Agustus 2025, mencapai 50 juta dolar AS.

Bagaimana Nasib Presiden Maduro Selanjutnya?

Disadur dari CBS News, Maduro dan Flores kemungkinan akan dihadirkan di pengadilan federal Manhattan pada Senin (5/1/2025). Hal ini berkaitan dengan dakwaan yang dijatuhkan kepadanya dan beberapa orang lain pada Maret 2020 lalu.

Sebagai informasi, dalam dakwaan di distrik selatan New York itu, selain Maduro dan Flores, ada empat orang lain yang termasuk. Keempatnya adalah putra Maduro, Nicolas Ernesto Maduro; Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello; mantan menteri dalam negeri Venezuela, Ramon Rodriguez Chacin; dan pemimpin geng Tren de Arague, Hector Rusthenford Guerrero Flores.

Masih belum diketahui apakah AS juga turut menangkap Ernesto Maduro sehingga bisa diajukan ke meja hijau. Tiga terdakwa lainnya juga tidak ditahan. Adapun Maduro dan istrinya, Presiden Trump memastikan keduanya akan diadili.

"Maduro dan istrinya akan segera menghadapi kekuatan penuh keadilan Amerika dan diadili di tanah Amerika," beber Presiden Trump dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya di Florida Selatan, Mar-a-Lago, pada Sabtu (3/1/2026) pagi.

Berdasar informasi dari Independent, sementara waktu, Presiden Maduro dan istrinya mungkin ditahan di Metropolitan Detention Center yang berlokasi di Brooklyn. Kabar terbaru jadwal pengadilan Maduro masih dinantikan dari pihak yang memiliki otoritas.

Siapa yang akan Memimpin Venezuela?

Penangkapan Presiden Maduro yang masih berkuasa menimbulkan tanda tanya baru. Apakah Wakil Presiden Delcy Rodriguez langsung dilantik jadi presiden baru? Ataukah ada intervensi lanjutan dari AS?

Menurut keterangan dari CBC, Delcy Rodriguez mengatakan bakal mengambil alih kekuasaan dari Maduro. Meski begitu, ia menegaskan bahwa dirinya tidak berencana untuk menggantikan sang presiden.

"Hanya ada satu presiden di Venezuela, dan namanya adalah Nicolas Maduro Moros," ujar Rodriguez.

Sebelumnya, dikutip dari AP News, dalam konferensi pers di kediamannya, Trump mengatakan bahwa AS akan memimpin sementara Venezuela. Trump mengklaim, wakil presiden Delcy Rodriguez sudah dilantik menjadi presiden sesaat sebelum konferensi pers itu dimulai.

"Pada dasarnya, dia bersedia melakukan apa yang menurut kami perlu untuk menjadikan Venezuela hebat kembali. Sangat sederhana," kata Trump.

Pernyataan dari Trump dan Rodriguez terkesan kontradiktif sehingga ketidakpastian masih berlangsung. Meski begitu, Laura Dib, kepala program Venezuela di Washington Office on Latin America (WOLA), mengonfirmasi bahwa Rodriguez tetaplah wakil presiden.

"Meskipun Maduro mungkin sudah tidak berkuasa lagi, itu tidak serta merta berarti bahwa transisi kekuasaan telah terjadi. Delcy Rodriguez tetap menjabat sebagai wakil presiden, dan masih ada ketidakpastian tentang bagaimana situasi akan berkembang," katanya, dilansir Aljazeera.

"Salah satu skenario terburuk yang dapat diprediksi oleh warga Venezuela adalah apa yang saya sebut transisi tanpa transisi," tambah Dib.




(par/par)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads