Makam ayahanda dari Bernadetta Petra, istri seniman Jogja mendiang Djaduk Ferianto, di pemakaman umum Pekuncen, Kota Jogja, dirusak oleh juru kunci makam. Alasannya, si juru kunci merasa tidak pernah menerima 'uang kebersihan' dari ahli waris makam.
Petra menceritakan, kerusakan yang terjadi di makam ayahnya yakni patah dan hilangnya dua nisan. Ia pertama kali mendapati kerusakan itu saat sedang berziarah hari Selasa kemarin (11/8). Saat itu Petra mengaku kesusahan mencari makam ayahnya lantaran nisan sudah tidak ada.
"Bapak saya kan meninggale tahun 71, sejak tahun 1971 wis makam wis lawas banget gitu kan, artinya sudah sekian puluh tahun kok sekarang dirusak gitu lho," terang Petra saat dihubungi, Rabu (12/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petra pun sontak menanyakan keberadaan juru kunci untuk menanyakan perihal kerusakan ini. Ia menanyakan kepada petugas kebersihan yang kerap ia temui saat berziarah. Pasalnya, selama ini Petra mengaku tidak pernah bertemu dengan juru kunci makam.
Namun, petugas kebersihan itu enggan memberi informasi alamat hingga nomor telpon si juru kunci. Petra pun memilih untuk melapor ke Polsek Wirobrajan. Akhirnya, Polsek Wirobrajan berhasil menemukan alamat si juru kunci yang kemudian mendatanginya bersama Petra.
"Tidak lama petugasnya (kepolisian) sudah ke kantor lagi bilang, 'Bu itu sudah ditemukan (rumah juru kunci) Ibu tindak sana aja kami dampingi'," ujar Petra.
"Saya ke sana ketemu juru kuncine ibu-ibu, terus bilang begini, 'Niki nek mboten kula ngetenke jenengan rak mboten madosi kula toh?' gitu (ini kalau saya tidak merusak malam, anda tidak akan mencari saya kan?)," imbuh Petra menirukan ucapan si juru kunci.
Baca juga: Cuaca Jogja Hari Ini: Kawasan Pantai Cerah |
Ternyata, kata Petra, si juru kunci nekat merusak makam ayahnya lantaran tersinggung tidak pernah diberi uang kebersihan saat Petra berziarah. Padahal, saat Petra sedang berziarah tidak pernah ada si juru kunci, namun Petra selalu memberikan uang kepada petugas kebersihan yang ada di makam saat itu.
"Saya kalau ke sana ya wis sak selone (sesenggangnya) saya gitu kan. Lah belakangan ini, saya kalau ke sana pagi. Nah ketika saya datang pagi itu, makam masih sepi, nggak ada orang ya kan. Tapi saya selalu pakai bunga, jadi orang tahu kalau ada sing niliki gitu lho," ujarnya.
"Ya kan ada bekasnya (taburan bunga), ada tandanya gitu. Nah ternyata ini tidak berkenan di tempatnya juru kuncinya, karena ada sing nyekar tapi kok ora ninggali apa-apa, gitu lho. Masalahnya itu," ungkap Petra.
Masalah ini pun ditengahi oleh Polsek Wirobrajan. Hari ini, digelar mediasi dari kedua pihak. Kapolsek Wirobrajan, Kompol Arif Darmawan mengatakan, mediasi berjalan lancar dan sudah disepakati titik temunya.
Di sisi lain, Arif menambahkan, makam tempat ayah Petra dikebumikan adalah makam kuno yang dikelola warga setempat. Tanah itu bukan milik Pemkot Jogja, sehingga sebenarnya tidak ada aturan pasti mengenai retribusi.
"Bukan, bukan (makam lama bukan milik Pemkot), saya nek masalah lahan nggak tahu tapi itu sing ngurus orang-orang kampung situ," ujar Arif.
"Ada 27 di makam itu namanya apa ya, makam lama apa ya? Makam lama itu yang makam dulu, terus makam yang baru Pakuncen yang baru itu makam yang dikelola Pemkot itu toh. Lah itu yang bukan punya Pemkot. Jadi masyarakat situ, ada 27 orang yang ngurusin di situ," sambungnya.
Adapun si juru kunci yang diketahui berinisial S, sudah turun temurun menjadi juru kunci. Selama itu, S mengaku selalu dapat 'uang kebersihan' dari peziarah meski tidak pernah mematok besarannya.
"Turun-temurun itu dari simbahnya, orang tuanya terus ke dia. Saya juga nggak bisa menyimpulkan itu, karena itu sudah kebiasaan dan seperti itu yang terjadi di makam situ. Katanya yang lain-lain itu ya ke situ ya ngaruhke sama itu (juru kunci) untuk ninggali untuk kebersihan seikhlasnya gitu," ujar Arif.
"Seikhlasnya, seikhlasnya ninggalinya. Lha yang ini cuma nggak pernah ketemu aja sama si itu, ketemunya sama yang anak buah yang bersih-bersih ini. Jadi yang dikasih itu, yang khusus untuk juru kunci untuk perawatan itu ora tau ketemu, itu aja," pungkasnya.

Komentar Terbanyak
Mahasiswa UGM Terancam Sanksi Buntut Hina Pasien BPJS Yurizal
Ulah Pemotor Mabuk lalu Ngamuk Rusak Palang KA di Sleman
Ancaman Sanksi Pemasang Pelang Jalan Malioboro Ilegal