Dalam banyak film dan karya berlatar Natal, misalnya film Home Alone, Natal selalu identik dengan penggambaran penuh salju. Lantas, kenapa ya Natal identik sama salju?
Dikutip dari laman McGill University, kondisi Natal bersalju ini disebut sebagai 'white christmas'. Meski populer dengan salju, sebenarnya fenomena white christmas jarang terjadi di wilayah Amerika Serikat dan beberapa wilayah 4 musim lainnya.
Nah, buat kamu yang penasaran dengan kaitan antara salju dan Natal, ternyata ada sejarah yang tersimpan di baliknya. Penasaran ingin tahu gambaran lengkapnya? Simak pembahasan asal-usul dan makna filosofinya berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal-usul Natal Identik dengan Salju
Dikutip dari laman USA Today, asosiasi Natal dengan salju kemungkinan muncul karena Charles Dickens. Sosok yang satu ini adalah penulis populer yang dikenal telah 'melahirkan' karya-karya klasik. Satu di antaranya adalah novel best seller yang berjudul 'A Christmas Carol'.
Novel ini menggambarkan suasana Natal di London yang diselimuti salju, cuaca dingin, dan ice skating. Menurut Thomas Ruys Smith, seorang profesor dari University of East Anglia, buku yang dipublikasikan pada 1843 ini kemudian mengukuhkan Dickens sebagai salah satu penulis sastra Natal yang paling signifikan.
Menurut laman McGill University, novel Christmas Carol ditulis Dickens pada era Victoria. Berbeda dengan kondisi pada masa kini, Dickens mengalami kehidupan awal dengan salju yang lebih banyak, lebih dingin dan menusuk, serta dengan waktu yang lebih panjang. Masa-masa tersebut dikenal sebagai periode Little Ice Age.
Periode Little Ice Age juga akhirnya melahirkan penggambaran musim dingin di Eropa dalam berbagai lukisan dan karya seni lainnya. Karya-karya seputar Natal pada era tersebut memiliki elemen salju dan ice skating. Salah satu karya populer lainnya yang berkaitan dengan Natal bersalju adalah novel Little Women. Novel tersebut dimulai dengan latar hari bersalju sebelum Natal.
Asosiasi Natal dengan salju tidak hanya muncul pada karya sastra dan seni dari Eropa, tetapi juga muncul dan dilanggengkan oleh media-media Amerika Serikat. Asosiasi ini misalnya muncul pada karya sastra berjudul A Visit from St. Nicholas, film How the Grinch Stole Christmas, hingga penggambaran Natal bersalju pada karya Norman Rockwell.
Penggambaran Natal dalam media-media tersebut akhirnya membuat Natal identik dengan salju. Penggambaran Natal pada lagu-lagu yang kerap didengar pada masa kecil, misalnya lagu White Christmas karya Irving Berlin, juga memunculkan nostalgia setiap Natal.
Bagaimana Makna Filosofi Salju yang Identik dengan Natal?
Setelah mengetahui asal-usul Natal tak pernah lepas dari keberadaan salju, kamu juga mungkin dibuat penasaran dengan makna filosofi di balik itu semua. Dikutip dari laman Christmasphere, salju yang diasosiasikan dengan Natal menjadi simbol kemurnian dan pembaruan.
Salju putih pun dapat memberikan nuansa magis pada Natal dan seringkali menyatukan orang-orang dalam sukacita yang sama. Inilah yang membuat salju menjadi salah satu ikon dari perayaan Natal yang juga selalu dinanti-nantikan oleh banyak orang.
Demikian penjelasan tentang asal-usul Natal yang identik dengan salju beserta makna filosofinya. Sekarang sudah paham, kan, mengapa Natal bisa identik dengan salju?
Artikel ini ditulis oleh Arum Sekar Pertiwi peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(anm/alg)

Komentar Terbanyak
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Viral Pria Bawa Seprai Putih Disebut Pocong Mau Maling di Gunungkidul
Dadan dkk Ternyata Juga Main-main Penentuan Titik Dapur SPPG