Ada dua momentum yang dinanti-nanti pada akhir tahun, yakni malam tahun baru dan tentu saja Natal. Natal selalu identik dengan rusa, pohon cemara, Santa Claus, dan juga kado. Kado dan memberi hadiah tidak bisa dilepaskan dari tradisi Natal. Semua orang memberi hadiah, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Beberapa sejarawan memprediksi, budaya memberi kado dan hadiah pada saat Natal, sudah ada sejak era Romawi. Mengutip Encyclopedia Britannica, bangsa Romawi memiliki perayaan festival bernama Saturnalia. Perayaan tersebut dilakukan ketika musim dingin dan mereka saling bertukar hadiah sebagai simbol harapan baik dan kebahagiaan.
Masih mengutip Encyclopedia Britannica, perayaan tersebut masih dipertahankan walaupun memasuki era Kristen, lalu pada tanggal 25 Desember, ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus. Meski demikian, tradisi tukar hadiah tetap dipertahankan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Perayaan Natal
Hari Natal baru resmi dirayakan pada abad ke-4, ketika gereja menetapkan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Nah, penetapan hari lahir Yesus tersebut berdekatan dengan tanggal festival Saturnalia dan perayaan dewa matahari dalam festival Dies Natalis Solis Invicti. Mengutip laman History, tanggal yang berdekatan tersebut menjadi momen tepat untuk merayakan tradisi musim dingin, salah satunya adalah tukar kado bersama.
Pada era Saturnalia, hadiah yang ditukar tak selalu mewah. Hadiah bisa berupa patung lilin, mainan sederhana, buah, atau sekadar makanan kecil. Tujuan dari pertukaran kado adalah menyimbolkan solidaritas, kebahagiaan bersama, dan harapan baik. Dalam laman New Histories, Saturnalia yang kemudian menjadi cikal bakal tradisi tukar kado di Natal.
Kenapa Natal Identik dengan Kado?
1. Warisan Tradisi Romawi
Dalam festival Saturnalia orang saling menukar kado sebagai simbol solidaritas dan suka cita. Tradisi itu kemudian memengaruhi tradisi Natal setelah Kristen menyebar di wilayah Kekaisaran Romawi.
2. Kisah Tiga Orang Majus
Mengutip Encyclopedia Britannica, dalam tradisi Kristen, ada tiga orang Majus yang datang membawa hadiah ketika kelahiran Yesus. Mereka membawa hadiah sebagai bentuk penghormatan. Ini adalah versi lain, bahwa pemberian hadiah kepada Yesus menjadi inspirasi awal tradisi kado di perayaan Natal.
3. Simbol Kasih, Kebersamaan, dan Solidaritas
Ketika momen suka cita, memberi kado adalah bentuk dari perhatian, rasa syukur, dan juga merayakan solidaritas. Tradisi tukar kado membuat Natal menjadi lebih bermakna dan hangat.
4. Kombinasi Pagan dan Kristen
Festival musim dingin, tukar hadiah, dekorasi, dan semangat solidaritas adalah unsur-unsur dari agama Pagan. Namun, kemudian disulap ulang menjadi perayaan agama Kristen. Jadi, perayaan Natal adalah tradisi yang bercampur antara budaya, religiusitas, dan juga solidaritas.
Artikel ini ditulis oleh Zhafran Naufal Hilmy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(par/apl)












































Komentar Terbanyak
Trump Kecewa Sudah Kirim Senjata buat Demonstran Iran, Tapi...
Mojtaba Khamenei Disebut Kritis, Begini Kondisinya
3 Kepala Daerah di Jatim Kena OTT KPK, Ini Kata Gubernur Khofifah