Bocah Surabaya Diduga Bully Anak Difabel hingga Tewas Dirawat di RSJ

Esti Widiyana - detikJatim
Senin, 19 Okt 2026 12:45 WIB
Ortu anak difabel dibully hingga meninggal di Surabaya/Foto: Andina Winanda/detikJatim
Surabaya -

Pemkot Surabaya memberikan pendampingan kepada keluarga Zulkarnain Abdil Aziz (10), anak penyandang disabilitas yang meninggal dunia dan diduga menjadi korban perundungan. Satu dari dua bocah yang diduga terlibat dalam kasus tersebut juga mendapat pendampingan dan menjalani perawatan di rumah sakit jiwa (RSJ).

Kepala DP3APPKB Kota Surabaya Ida Widayati mengatakan, pendampingan terhadap keluarga korban dilakukan untuk memberikan dukungan di tengah situasi sulit yang dihadapi keluarga. Sementara itu, penanganan terhadap anak yang diduga terlibat dilakukan melalui koordinasi dengan pihak terkait, termasuk kepolisian, guna memastikan kebutuhan penanganan anak dapat ditindaklanjuti.

"Kami berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar anak yang diduga terlibat juga mendapatkan penanganan yang sesuai. Saat ini, anak tersebut menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Menur untuk pemeriksaan dan pendalaman kondisi psikologisnya. Nantinya, langkah penanganan selanjutnya akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan rekomendasi tenaga profesional," kata Ida, Senin (19/10/2026).

Ida menegaskan, penanganan kasus yang melibatkan anak harus mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Hal itu mencakup perlindungan terhadap keluarga korban sekaligus memastikan anak yang diduga terlibat mendapatkan penanganan sesuai kebutuhannya.

Menurutnya, koordinasi lintas sektor diperlukan agar pendampingan terhadap anak dan keluarga dapat berjalan seiring dengan penanganan kasus oleh aparat berwenang.

Pemkot Surabaya juga terus memperkuat upaya pencegahan perundungan melalui edukasi kepada anak, orang tua, dan masyarakat. Salah satunya melalui layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), termasuk layanan di balai RW, serta sosialisasi di sekolah dan lingkungan masyarakat.

"Untuk pencegahan, kami terus melakukan edukasi kepada anak, orang tua, dan masyarakat. Kami memiliki Puspaga, termasuk layanan di balai RW, serta sosialisasi di sekolah dan lingkungan masyarakat. Harapannya, orang tua semakin memahami pola pengasuhan yang tepat, sementara lingkungan sekitar juga lebih peduli terhadap perlindungan anak agar perundungan bisa dicegah sejak dini," jelasnya.

Ida mengatakan, edukasi tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan pemahaman tentang pola pengasuhan yang tepat dan pentingnya pengawasan terhadap anak.

"Melalui edukasi ini, kami berharap masyarakat semakin peduli terhadap kondisi anak di lingkungan sekitarnya. Jika menemukan indikasi kekerasan atau perundungan, kami mengajak masyarakat untuk segera melaporkannya agar bisa ditangani sejak dini," ujarnya.

Ia menambahkan, keluarga dan lingkungan memiliki peran penting dalam menciptakan ruang tumbuh yang aman bagi anak. Pemahaman mengenai tanggung jawab pengasuhan, pengawasan, dan perlindungan anak diharapkan dapat membantu mencegah kekerasan sejak dini.

"Kami mengajak seluruh masyarakat, mulai dari keluarga, lingkungan sekitar, hingga sekolah, untuk bersama-sama mengambil peran dalam melindungi anak. Jangan ragu untuk peduli, mengingatkan, dan melaporkan jika menemukan dugaan kekerasan atau perundungan. Perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama agar setiap anak bisa tumbuh dengan aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan," pungkasnya.



Simak Video "Video: Rombongan Kloter Pertama Haji Embarkasi Surabaya Tiba di Tanah Air"

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork