Bocah Difabel Tewas Usai Dibully 2 Anak Tetangga, Tali Sepatu Saksi Bisu

Kabar Regional

Bocah Difabel Tewas Usai Dibully 2 Anak Tetangga, Tali Sepatu Saksi Bisu

Esti Widiyana - detikJabar
Senin, 19 Okt 2026 14:33 WIB
Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menemui keluarga bocah difabel yang meninggal dibully anak tetangga
Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menemui keluarga bocah difabel yang meninggal dibully anak tetangga (Foto: Tangkapan layra)
Surabaya -

Zulkarnain Abdil Aziz (10), anak penyandang disabilitas meninggal dunia. Diduga ia menjadi korban perundungan, dua orang bocah yang salah satunya kini menjalani perawatan di rumah sakit jiwa (RSJ).

Kepala DP3APPKB Kota Surabaya Ida Widayati mengatakan, pendampingan terhadap keluarga korban dilakukan untuk memberikan dukungan di tengah situasi sulit yang dihadapi keluarga. Sementara itu, penanganan terhadap anak yang diduga terlibat dilakukan melalui koordinasi dengan pihak terkait, termasuk kepolisian, guna memastikan kebutuhan penanganan anak dapat ditindaklanjuti.

"Kami berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar anak yang diduga terlibat juga mendapatkan penanganan yang sesuai. Saat ini, anak tersebut menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Menur untuk pemeriksaan dan pendalaman kondisi psikologisnya. Nantinya, langkah penanganan selanjutnya akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan rekomendasi tenaga profesional," kata Ida, Senin (19/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ida menegaskan, penanganan kasus yang melibatkan anak harus mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Hal itu mencakup perlindungan terhadap keluarga korban sekaligus memastikan anak yang diduga terlibat mendapatkan penanganan sesuai kebutuhannya.

Menurutnya, koordinasi lintas sektor diperlukan agar pendampingan terhadap anak dan keluarga dapat berjalan seiring dengan penanganan kasus oleh aparat berwenang.

ADVERTISEMENT

Pemkot Surabaya juga terus memperkuat upaya pencegahan perundungan melalui edukasi kepada anak, orang tua, dan masyarakat. Salah satunya melalui layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), termasuk layanan di balai RW, serta sosialisasi di sekolah dan lingkungan masyarakat.

"Untuk pencegahan, kami terus melakukan edukasi kepada anak, orang tua, dan masyarakat. Kami memiliki Puspaga, termasuk layanan di balai RW, serta sosialisasi di sekolah dan lingkungan masyarakat. Harapannya, orang tua semakin memahami pola pengasuhan yang tepat, sementara lingkungan sekitar juga lebih peduli terhadap perlindungan anak agar perundungan bisa dicegah sejak dini," jelasnya.

Ida mengatakan, edukasi tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan pemahaman tentang pola pengasuhan yang tepat dan pentingnya pengawasan terhadap anak.

"Melalui edukasi ini, kami berharap masyarakat semakin peduli terhadap kondisi anak di lingkungan sekitarnya. Jika menemukan indikasi kekerasan atau perundungan, kami mengajak masyarakat untuk segera melaporkannya agar bisa ditangani sejak dini," ujarnya.

Ia menambahkan, keluarga dan lingkungan memiliki peran penting dalam menciptakan ruang tumbuh yang aman bagi anak. Pemahaman mengenai tanggung jawab pengasuhan, pengawasan, dan perlindungan anak diharapkan dapat membantu mencegah kekerasan sejak dini.

"Kami mengajak seluruh masyarakat, mulai dari keluarga, lingkungan sekitar, hingga sekolah, untuk bersama-sama mengambil peran dalam melindungi anak. Jangan ragu untuk peduli, mengingatkan, dan melaporkan jika menemukan dugaan kekerasan atau perundungan. Perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama agar setiap anak bisa tumbuh dengan aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan," pungkasnya.

Korban Diduga Dicekik Pakai Tali Sepatu

Laras, ayah korban menuturkan saat kejadian penganiayaan itu terjadi pada 12 September 2026 sekitar pukul 09.20 WIB. Saat itu istrinya pulang jualan di pasar tiba tiba berteriak histeris di depan rumah Jalan Tambak Medokan Ayu XI, Surabaya.

"Istri saya teriak-teriak 'Bi, anake wis biru, anak wis biru (anaknya sudah biru, anaknya biru)' saya langsung terjaga dari tempat tidur," kata Laras kepada detikJatim, Jumat (16/10/2026).

Laras yang tengah tertidur seketika terbangun karena teriakan istrinya. Saat keluar rumah, Laras sudah mendapati wajah anaknya membiru dan seutas tali sepatu menjerat lehernya.

"Habis itu saya ambil tali sepatunya. Saya kendorin," ujarnya.

Karena masih bernapas, Laras kemudian meminta bantuan warga dan membawa anaknya ke RSUD Eka Candrarini. Namun, nasib bertakat lain, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Penasaran dengan kematian anaknya, Laras kemudian mengecek CCTV yang ada di jalan. Dari situ diketahui ada dua anak tetangganya berinisial K (10) dan F (8) di depan gang menuju rumahnya.

"Pukul 08.15 WIB pagi itu tanggal 12 September, kedua anak ini masuk," ujar Laras.

Dari rekaman tersebut Laras menyimpulkan bahwa kedua anaknya meninggal diduga dianaiaya oleh kedua anak tetangganya itu. Ia sempat menanyakan dugaan kedua anak tetangganya, namun orang tua saling melempar tanggung jawab.

"Yang F ini ibunya ngaku ke saya, F ini cuma diajak sama K. Tapi orang tuanya K ngomong sama saya, K ini diajak sama F," tuturnya.

Dugaan Laras ke kedua anak tetangganya itu bukan tanpa sebab. Sebab sebelumnya, mereka kerap mengganggu dan membully korban. Keduanya bahkan pernah mengalungkan tali tampar di pundak anaknya yang mengalami keterbatasan.

"Seminggu sebelumnya ada tampar di pundak anak saya, pundaknya itu dikalungkan tampar, saya tanya dapat dari mana, tapi anak saya tidak bisa ngomong, pengeliihatannya juga tidak jelas," ceritanya.

Kasus itu kemudian dilaporkan ke Polrestabes Surabaya pada hari itu. Satu anak berinisial K telah ditetapkan tersangka, sementara F tidak bisa ditetapkan karena masih berusia 8 tahun.

Namun Laras menduga terduga pelaku F tidak ditetapkan tersangka karena anak asuh RT setempat. Untuk itu, ia tetap meminta keadilan atas kematian anaknya itu.

"Saya menuntut kedua pelaku kalau bisa dibina sampai dewasa, sampai dia bisa mengerti mana yang hak dan batil, mana yang baik dan jelek agar tidak merugikan orang lain, jangan cuma satu anak," pungkasnya.

Sebelumnya, seorang anak penyandang disabilitas di Surabaya meninggal dunia karena diduga jadi korban bully atau perundungan. Mirisya, pelaku perundungan tetangga korban yang masih berusia 10 dan 8 tahun.

Cerita tragis meninggalnya korban sempat viral di media sosial. Dalam video kedua orang tua korban menceritakan bagaimana anaknya meninggal dan minta diviralkan agar ada keadilan.

Artikel ini telah tayang di detikJatim. Baca selengkapnya di sini.

(esw/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads