Peristiwa pemukulan Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Desa Meluntur, Kecamatan Glagah, Munir Thowil oleh Babinsa Koramil Glagah, Serma MS yang merupakan salah satu wali murid MI berbuntut panjang. Atas perlakuan anggotanya, Komandan Kodim (Dandim) 0812 Lamongan Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo meminta maaf.
Peristiwa penganiayaan yang dipicu persoalan kaos kaki siswa itu menyebabkan korban mengalami luka di wajah hingga diduga mengalami keretakan pada hidung. Peristiwa ini sempat viral di media sosial setelah seorang guru mengunggah cerita mengenai kejadian itu melalui akun Instagram Lamongan Update.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (17/10/2026) di Desa Meluntur, Kecamatan Glagah. Insiden bermula ketika pihak sekolah menegur seorang siswa yang tidak mengenakan sepatu dan kaos kaki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait kejadian ini, Dandim Lamongan Deni Suryo menyampaikan permintaan maaf dan memastikan perkara ini diproses melalui jalur hukum militer. Dia mengaku menyesalkan tindakan yang diduga dilakukan anggotanya. Pihak Kodim, kata dia, juga akan mengambil tindakan tegas sesuai ketentuan yang berlaku.
"Saya sebagai Komandan Kodim 0812 Lamongan intinya sangat menyesalkan tindakan yang dilakukan oleh anggota kami. Kami juga akan melaksanakan tindakan tegas kepada anggota kami, serta meminta maaf atas nama komando dan TNI kepada korban maupun pihak yayasan dan sekolah," kata Deni kepada wartawan, Selasa (20/10/2026).
Deni menjelaskan peristiwa itu bermula ketika pihak sekolah melakukan penertiban kedisiplinan siswa yang tidak mengenakan kaus kaki. Salah satu siswa yang diminta pulang untuk mengambil kaus kaki merupakan anak Serma MS. Namun, menurut Deni, terjadi kesalahpahaman usai anak itu melaporkan kejadian itu kepada ayahnya.
"Anaknya laporan ke bapaknya kalau dipukul, lalu bapaknya langsung datang ke sekolahan tanpa konfirmasi dulu. Sementara untuk penanganan internal, kasus ini sudah resmi ditangani oleh Subdenpom V/2-3 Lamongan," jelasnya.
Selain menyerahkan penanganan perkara kepada aparat hukum militer, pihak Kodim juga mengirimkan perwakilan ke Pondok Pesantren Langitan untuk bersilaturahmi dan meminta petunjuk para kiai.
"Hari ini ada perwakilan kami yang datang ke Langitan," ujarnya.
Munir Thowil, Kepsek MI yang menjadi korban pemukulan oleh Serma MS menegaskan dirinya tetap ingin menuntut keadilan meskipun telah ada upaya mediasi. Hal itu dia sampaikan saat memberikan keterangan di Kantor PCNU Lamongan, Senin (19/10).
Munir mengungkapkan bahwa mediasi sempat diinisiasi pihak Koramil Glagah dengan mempertemukan keluarga Serma MS di kediamannya. Namun, upaya itu tidak membuatnya menghentikan proses hukum.
"Enggak ada perdamaian. Kemarin dimediasi oleh Wakil Danramil di rumah saya, semua keluarga diundang untuk mediasi. Kalau secara pribadi, sebagaimana disampaikan kuasa hukum saya, saya maafkan. Tapi hukum, tetap dilanjut sampai akhir," tegas Munir.
Munir mengaku kecewa atas dugaan tindakan kekerasan itu. Menurutnya, anggota TNI, khususnya Babinsa, seharusnya hadir untuk mengayomi dan melindungi masyarakat. Meski mengaku terluka atas kejadian itu Munir menyatakan tak gentar hadapi proses hukum. Ia bahkan mengaku semakin bersemangat untuk memperjuangkan keadilan.
"Saya ini mantan keamanan Langitan, sudah terbiasa. Jadi tidak ada trauma, justru tambah berani dan semangat untuk maju menuntut keadilan," terangnya.
Terkait upaya penyelesaian di luar hukum, Munir membenarkan sempat ada pihak yang memediasi pertemuan di rumahnya. Namun, keputusan dari keluarga besar PCNU Lamongan serta tim kuasa hukum menyepakati laporan di Polisi Militer tidak dicabut dan tidak ada kata damai untuk proses hukumnya.
