Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kaldera Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), terus meluas dan kini mencapai sekitar 176 hektare. Titik awal api diduga berasal dari jalur tradisional warga di atas perbukitan Blok Bantengan-Jantur yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.
Kondisi medan yang berupa lereng dan tebing curam membuat pemadaman dari darat tak mampu menjangkau seluruh titik api, sementara cuaca dengan angin kencang berpotensi mempercepat perambatan api. Dua helikopter pun disiapkan untuk melakukan water bombing, dengan tiga titik api disebut masih menjadi fokus utama penanganan.
Berikut fakta-fakta terbaru kebakaran Bromo:
1. Luas Kebakaran Capai 176 Hektare
Luas area yang terdampak kebakaran terus bertambah sejak api pertama kali terdeteksi, dari 7,9 hektare, kemudian 44 hektare, 51 hektare, hingga terbaru mencapai sekitar 176 hektare. Gubernur Jawa Timur menyebut peningkatan luasan itu menunjukkan kebakaran di kawasan Bromo berkembang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.
"Ini kita kembali mengalami musibah ya. Kebakaran di Bromo awal itu terkonfirmasi 7,9 hektare, besoknya menjadi 44, jadi 51, sampai tadi pagi 176 hektare," ujar Gubernur Jatim saat ditemui di lokasi hutan Gunung Bromo terbakar, Jumat (7/8/2026).
2. Titik Awal Api Diduga dari Jalur Tikus
TNBTS menduga titik awal kebakaran berasal dari punggungan perbukitan yang membentang dari Blok Bantengan menuju Argosari, tepatnya di jalur yang jarang dilalui wisatawan dan selama ini digunakan masyarakat sebagai akses tradisional menuju kawasan Jantur-Argosari hingga Ranu Pani.
Lokasi tersebut berada di medan yang sulit dijangkau sehingga petugas kesulitan memastikan pemadaman secara langsung dari darat.
"Kalau dugaan kita memang karena dari atas (sumber api). Dari atas punggungan (perbukitan) dari Bantengan ke arah Argosari," ungkap Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha saat dihubungi melalui sambungan telpon, Jumat (7/8/2026), pagi.
3. TNBTS Sebut Kebakaran Dipicu Ulah Manusia
Karakteristik lokasi dan temuan di lapangan membuat TNBTS menduga sumber api berasal dari aktivitas manusia, bukan faktor alam, sedangkan kondisi cuaca yang kering dan berangin disebut hanya mempercepat api membesar serta merambat ke kawasan lain. Dugaan tersebut sekaligus menepis kemungkinan kebakaran muncul secara alami akibat kondisi cuaca.
"Kalau pastinya dari manusia. Bukan dari alam," tegasnya.
"Kalau cuaca itu kan, membuat api membesar, merambat. Tetapi kalau sumber (api) bukan karena cuaca," imbuhnya.
4. Medan Tebing Menyulitkan Pemadaman
Api membakar vegetasi di lereng-lereng perbukitan, termasuk cemara gunung, semak belukar, dan akasia, sementara sebagian titik berada di tebing serta punggungan yang tidak memungkinkan disisir petugas secara manual. Kondisi itu membuat pemadaman udara menjadi pilihan untuk menjangkau titik api yang berada di lokasi sulit diakses.
"Kesulitan selama ini, titik api berada di punggungan bukit. Sulit untuk dijangkau darat," bebernya.
Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"
(irb/hil)