2 Heli Water Bombing Diterjunkan Padamkan Kebakaran Bromo

2 Heli Water Bombing Diterjunkan Padamkan Kebakaran Bromo

Muhammad Aminudin - detikJatim
Jumat, 07 Agu 2026 10:44 WIB
Kondisi terkini kebakaran di Gunung Bromo
Kondisi terkini kebakaran di Gunung Bromo/Foto: Istimewa
Malang -

Dua helikopter water bombing dikerahkan untuk upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kaldera Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Rencananya, dua helikopter ini akan diterjunkan pada Jumat (7/8/2026).

Kedua helikopter tersebut akan difokuskan untuk memadamkan titik-titik api yang berada di lereng perbukitan dan sulit dijangkau petugas darat.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, satu helikopter berasal dari TNI Angkatan Laut (AL) atas permintaan Gubernur Jawa Timur. Sementara satu helikopter lainnya merupakan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sedang menuju Surabaya dari Banjarmasin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Rencana ada 2 (heli). Yang pertama dari TNI AL atas permintaan Ibu Gubernur. Yang datang kedua, dari BNPB yang saat ini sudah dalam perjalanan dari Banjarmasin-Surabaya," kata Rudijanta, Jumat (7/8/2026).

Pengerahan helikopter dilakukan karena titik api berada di punggungan bukit sehingga menyulitkan proses pemadaman melalui jalur darat. Hingga kini, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan telah mencapai sekitar 120 hektare.

"Sudah 120 hektare terdampak kebakaran. Kesulitan selama ini, titik api berada di punggungan bukit. Sulit untuk dijangkau darat," ujarnya.

Rudijanta menjelaskan, hasil penelusuran sementara menunjukkan titik awal kebakaran berada di kawasan perbukitan Blok Bantengan menuju Jantur. Lokasi tersebut merupakan jalur tradisional yang biasa dilalui warga dari Argosari menuju Ranu Pani.

"Kalau dugaan kita memang karena dari atas (sumber api). Dari atas punggungan (perbukitan) dari Bantengan ke arah Argosari," ungkapnya.

Menurutnya, kawasan tersebut bukan lokasi yang umum dilalui wisatawan, melainkan hanya digunakan masyarakat setempat sebagai akses penghubung antardesa.

"Dilewati masyarakat, karena itu jalur tradisional masyarakat daerah Argosari ke arah Ranu Pani," tuturnya.

Berdasarkan kondisi di lapangan, Balai Besar TNBTS menduga sumber api berasal dari aktivitas manusia, bukan dipicu faktor alam maupun cuaca. Meski demikian, cuaca kering dan angin kencang mempercepat penyebaran kobaran api.

"Kalau pastinya dari manusia. Bukan dari alam," tegas Rudijanta.

Ia menambahkan, cuaca hanya memperbesar dan mempercepat rambatan api, bukan menjadi penyebab munculnya titik awal kebakaran.

"Kalau cuaca itu kan, membuat api membesar, merambat. Tetapi kalau sumber (api) bukan karena cuaca," imbuhnya.



(mua/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads