Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyebut pengaruh El Nino memperkuat dan memperpanjang musim kemarau di Jawa Timur pada 2026. Kondisi tersebut menyebabkan periode tanpa hujan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah.
Forecaster on Duty BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Retno Wulandari mengatakan, periode tanpa hujan yang panjang saat ini merupakan kombinasi karakteristik musim kemarau dengan pengaruh fenomena iklim skala global. Pada musim kemarau, Jawa Timur dipengaruhi dominasi Monsun Australia yang membawa massa udara relatif kering dari Australia ke Indonesia.
"Secara meteorologis, pada musim kemarau wilayah Jawa Timur dipengaruhi oleh dominasi Monsun Australia, yang membawa massa udara relatif kering dari Australia menuju wilayah Indonesia," ujar Retno pada, Kamis (24/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi atmosfer yang lebih kering ini menyebabkan pembentukan awan hujan menjadi lebih terbatas, sehingga peluang terjadinya hujan semakin rendah dan Hari Tanpa Hujan dapat berlangsung cukup panjang," tambahnya.
Menurut Retno, kondisi tersebut semakin diperkuat oleh fenomena El Nino pada 2026. Berdasarkan pemantauan terbaru BMKG, El Nino diprediksi masih bertahan hingga awal 2027 dan saat ini justru menunjukkan penguatan.
"Untuk kondisi tahun 2026, pengaruh tersebut kemudian diperkuat oleh fenomena El Nino. Berdasarkan pemantauan terbaru BMKG, tahun ini kemarau lebih panjang karena pengaruh dari El Nino yang diprediksi masih bertahan hingga awal 2027 dan saat ini menunjukkan penguatan," lanjutnya.
Retno menjelaskan, pengaruh El Nino turut memperpanjang periode musim kemarau. Kondisi tersebut juga membuat awal musim hujan 2026/2027 berpotensi datang lebih lambat atau mundur dari biasanya.
"Fenomena ini berkontribusi memperparah dan memperpanjang periode musim kemarau serta menyebabkan awal musim hujan 2026/2027 berpotensi datang lebih lambat/mundur," katanya.
Kondisi kekeringan diperkirakan masih perlu diwaspadai dalam dua bulan ke depan. Retno menyebut Oktober hingga November 2026 menjadi periode yang perlu mendapat perhatian karena curah hujan di sebagian besar wilayah Jawa Timur masih diprediksi rendah.
"Pada Oktober, hampir seluruh wilayah Jawa Timur masih diprediksi mendapatkan curah hujan pada kategori rendah, bahkan di sebagian besar wilayah berada pada kisaran 0-20 mm dan 21-50 mm per bulan. Kondisi ini menunjukkan kondisi yang relatif kering dan periode tanpa hujan panjang masih berpotensi berlanjut," jelasnya.
Memasuki November, curah hujan diprediksi mulai meningkat di sejumlah wilayah. Namun, sebagian besar wilayah Jawa Timur masih berada dalam kategori rendah hingga menengah sehingga kekeringan meteorologis masih menjadi perhatian.
Sebelumnya, dalam pemantauan BMKG per 20 September 2026, Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut di Jawa Timur pada umumnya telah berada dalam kriteria kekeringan ekstrem, yakni lebih dari 60 hari. Pada periode yang sama, distribusi curah hujan dasarian II September juga secara umum berada dalam kategori rendah.
"Bulan Oktober dan November merupakan periode yang paling perlu diwaspadai untuk keberlanjutan kekeringan meteorologis. Namun, mulai Desember 2026 terlihat perubahan yang cukup jelas. Curah hujan diprediksi mulai meningkat," pungkasnya.
