Fakta-fakta Kebakaran Bromo Makin Meluas hingga 176 Hektare

Fakta-fakta Kebakaran Bromo Makin Meluas hingga 176 Hektare

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Sabtu, 08 Agu 2026 09:15 WIB
Gubernur Khofifah saat meninjau kebakaran Bromo
Gubernur Khofifah saat meninjau kebakaran Bromo/Foto: M Rofiq/detikJatim
Malang -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kaldera Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), terus meluas dan kini mencapai sekitar 176 hektare. Titik awal api diduga berasal dari jalur tradisional warga di atas perbukitan Blok Bantengan-Jantur yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.

Kondisi medan yang berupa lereng dan tebing curam membuat pemadaman dari darat tak mampu menjangkau seluruh titik api, sementara cuaca dengan angin kencang berpotensi mempercepat perambatan api. Dua helikopter pun disiapkan untuk melakukan water bombing, dengan tiga titik api disebut masih menjadi fokus utama penanganan.

Berikut fakta-fakta terbaru kebakaran Bromo:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Luas Kebakaran Capai 176 Hektare

Luas area yang terdampak kebakaran terus bertambah sejak api pertama kali terdeteksi, dari 7,9 hektare, kemudian 44 hektare, 51 hektare, hingga terbaru mencapai sekitar 176 hektare. Gubernur Jawa Timur menyebut peningkatan luasan itu menunjukkan kebakaran di kawasan Bromo berkembang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.

"Ini kita kembali mengalami musibah ya. Kebakaran di Bromo awal itu terkonfirmasi 7,9 hektare, besoknya menjadi 44, jadi 51, sampai tadi pagi 176 hektare," ujar Gubernur Jatim saat ditemui di lokasi hutan Gunung Bromo terbakar, Jumat (7/8/2026).

ADVERTISEMENT
Helikopter TNI AL tiba di Ranupani bersiap melakukan operasi water bombing kebakaran di kaldera Gunung BromoHelikopter TNI AL tiba di Ranupani bersiap melakukan operasi water bombing kebakaran di kaldera Gunung Bromo Foto: Istimewa

2. Titik Awal Api Diduga dari Jalur Tikus

TNBTS menduga titik awal kebakaran berasal dari punggungan perbukitan yang membentang dari Blok Bantengan menuju Argosari, tepatnya di jalur yang jarang dilalui wisatawan dan selama ini digunakan masyarakat sebagai akses tradisional menuju kawasan Jantur-Argosari hingga Ranu Pani.

Lokasi tersebut berada di medan yang sulit dijangkau sehingga petugas kesulitan memastikan pemadaman secara langsung dari darat.

"Kalau dugaan kita memang karena dari atas (sumber api). Dari atas punggungan (perbukitan) dari Bantengan ke arah Argosari," ungkap Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha saat dihubungi melalui sambungan telpon, Jumat (7/8/2026), pagi.

3. TNBTS Sebut Kebakaran Dipicu Ulah Manusia

Karakteristik lokasi dan temuan di lapangan membuat TNBTS menduga sumber api berasal dari aktivitas manusia, bukan faktor alam, sedangkan kondisi cuaca yang kering dan berangin disebut hanya mempercepat api membesar serta merambat ke kawasan lain. Dugaan tersebut sekaligus menepis kemungkinan kebakaran muncul secara alami akibat kondisi cuaca.

"Kalau pastinya dari manusia. Bukan dari alam," tegasnya.

"Kalau cuaca itu kan, membuat api membesar, merambat. Tetapi kalau sumber (api) bukan karena cuaca," imbuhnya.

4. Medan Tebing Menyulitkan Pemadaman

Api membakar vegetasi di lereng-lereng perbukitan, termasuk cemara gunung, semak belukar, dan akasia, sementara sebagian titik berada di tebing serta punggungan yang tidak memungkinkan disisir petugas secara manual. Kondisi itu membuat pemadaman udara menjadi pilihan untuk menjangkau titik api yang berada di lokasi sulit diakses.

"Kesulitan selama ini, titik api berada di punggungan bukit. Sulit untuk dijangkau darat," bebernya.

5. 2 Helikopter Dikerahkan untuk Water Bombing

Dua helikopter dikerahkan untuk membantu pemadaman melalui operasi water bombing, masing-masing dari TNI AL dan BNPB, dengan satu armada bantuan dari Kalimantan Tengah yang telah tiba dan mulai dioperasikan di kawasan Bromo.

Helikopter tersebut mengambil air dari Ranupane yang dinilai lebih dekat dengan lokasi kebakaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pemadaman.

"Ada 2 (heli). Yang pertama dari TNI AL atas permintaan Ibu Gubernur. Yang datang kedua, dari BNPB yang saat ini sudah dalam perjalanan dari Banjarmasin- Surabaya," kata Rudijanta.

Operasi water bombing tidak hanya ditujukan untuk mempercepat proses pemadaman, tetapi juga untuk memastikan titik api yang berada di tebing dan punggungan benar-benar padam karena tidak mungkin dijangkau manusia dari darat. Ratusan personel gabungan tetap bersiaga di bawah untuk melakukan penyekatan agar api tidak meluas ke kawasan sabana.

"Kalau di lereng dan tebing-tebing kan harus nunggu heli memang, karena tidak akan terjangkau oleh orang. Helikopter ini bukan sekadar untuk mempercepat, tetapi juga memastikan titik api di tebing-tebing itu benar-benar mati. Kalau tidak pakai alat itu, tidak mungkin terjangkau manusia," ungkapnya.

6. Angin Kencang Jadi Kendala Operasi Udara

Pemadaman menggunakan helikopter menghadapi kendala berupa angin kencang di kawasan Bromo dan Malang, sehingga jumlah sorti yang dapat dilakukan tidak bisa dipastikan setiap harinya. Selain itu, satu helikopter memiliki batas waktu operasi dari Bandara Abdulrachman Saleh hingga sekitar pukul 16.30 WIB sehingga efektivitas water bombing sangat bergantung pada kondisi cuaca.

"Kadang-kadang anginnya cukup kuat di sini, sehingga tidak bisa dihitung secara normal. Kalau dari jam 7 bisa berapa kali sorti, itu tidak semua bisa dihitung karena kalau angin kencang heli tidak bisa beroperasi," jelasnya.

Drone Water Spray turut dikerahkan untuk memadamkan api kebakaran hutan di Bromo.Drone Water Spray turut dikerahkan untuk memadamkan api kebakaran hutan di Bromo. Foto: M Rofiq/detikJatim)

7. Drone Water Spray Sempat Digunakan

Selain helikopter, penanganan kebakaran juga sempat dilakukan menggunakan drone water spray, tetapi kapasitas air yang dapat dibawa hanya sekitar 100 hingga 150 liter sehingga lebih difungsikan untuk pembasahan.

Gubernur menyebut penggunaan drone juga menghadapi persoalan perizinan sehingga penguatan pemadaman tetap mengandalkan helikopter berkapasitas lebih besar.

"Drone itu menurut saya pembasahan ya, karena hanya membawa 100 sampai 150 liter air. Izinnya juga tidak mudah," ungkapnya.

Sumber air untuk operasi water bombing saat ini dapat diambil dari Ranupani sehingga jarak pengambilan air lebih dekat dibandingkan penanganan kebakaran pada 2023 yang menggunakan sumber air dari Kaliandra dan Batu. Kondisi tersebut diharapkan membuat dua helikopter yang beroperasi nantinya dapat melakukan sorti lebih efektif untuk menyasar titik-titik api.

"Supaya lebih dekat, jadi mudah-mudahan besok anginnya landai, mengambil airnya dari Ranupani. Dua heli water bombing bisa maksimal," katanya.

8. Tersisa tiga titik api yang menjadi fokus

Tim gabungan masih memusatkan penanganan pada sekitar tiga titik api, sementara personel di darat terus melakukan penyekatan untuk mencegah kobaran merambat ke area lain. Pemerintah berharap tambahan satu helikopter BNPB dan kondisi angin yang lebih bersahabat dapat membantu mempercepat pemadaman hingga seluruh titik api berhasil dituntaskan.

"Targetnya tinggal tiga titik. Besok insya Allah kalau satu lagi datang mudah-mudahan bisa lintas dan segera padam semua," ujarnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kebakaran Kaldera Bromo Berhasil Dipadamkan, Petugas Masih Lakukan Pendinginan"
[Gambas:Video 20detik] (irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads