Liburan yang seharusnya membawa kebahagiaan bagi karyawan RS Bina Sehat (RSBS) Jember justru berubah menjadi duka mendalam. Rombongan yang baru saja pulang dari wisata Gunung Bromo mengalami kecelakaan maut di jalur menurun kawasan Probolinggo.
Bus pariwisata yang ditumpangi 55 orang itu diduga mengalami rem blong hingga melaju tak terkendali. Akibatnya, kendaraan menghantam pembatas jalan, pagar rumah warga, hingga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Fakta-fakta Petaka Bus Karyawan RS Sehat Jember Usai Wisata di Gunung Bromo
1. Rem Blong Jadi Dugaan Awal Penyebab
Sopir bus, Albahri, menyebut kendaraan yang dikemudikannya tiba-tiba kehilangan kendali setelah angin rem habis. Meski sempat mengerahkan rem tangan, bus tetap melaju kencang hingga akhirnya menabrak pagar rumah warga.
"Kondisi bus saat berangkat dan bahkan saat pulang sebelum sampai di Jatian masih aman, tidak ada apa-apa. Tiba-tiba remnya ngeblong dan angin langsung habis," kata Albahri.
2. Bus Mengangkut 55 Penumpang
Bus pariwisata bernopol P 7221 UG itu membawa 55 penumpang rombongan RSBS Jember. Mereka baru saja pulang dari acara wisata ke Gunung Bromo.
"Jadi saya langsung banting ke kanan, karena di depan itu kosong. Jadi rem blong itu sudah dari Jatian itu anginnya sudah tidak ada. Hand rem juga saya fungsikan tapi juga tidak bisa, saya sudah pasrah," ujar Albahri.
3. Benturan Keras Membuat Kaca Depan dan Samping Bus Hancur
Kerasnya benturan membuat kaca depan dan kaca samping bus hancur. Sejumlah penumpang bahkan sampai terlempar keluar dari kendaraan. Sang sopir dan kondektur selamat.
Albahri sempat meminta kondektur bus untuk segera pindah ke bagian belakang bus karena dia merasa rem bus semakin tidak beres.
4. Terdengar Suara 'Dar Dar'
Supriadi, warga di sekitar lokasi mengaku sedang berada di rumah ketika bus itu melaju kencang dari arah Bromo menuju Probolinggo hingga akhirnya berhenti usai menabrak pagar rumah warga.
"Saat di dalam rumah, saya dengar suara keras 'dar dar'. Ketika keluar, ternyata bus sudah menabrak pagar rumah dan sepeda motor," ujar Supriadi.
(auh/hil)