Duduk Perkara Siswi SMAN 1 Banguntapan Diduga Dipaksa Berhijab-Pindah Sekolah

Tim detikJateng - detikJateng
Senin, 01 Agu 2022 18:17 WIB
Ilustrasi siswi mengenakan hijab. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Yogyakarta -

Pemaksaan mengenakan hijab yang dialami oleh siswi baru SMAN 1 Banguntapan, Bantul membuat heboh. Akibat pemaksaan tersebut, siswi tersebut mengalami depresi hingga akhirnya memilih pindah dari sekolah. Begini duduk perkara kasus yang membuat geger tersebut.

Awalnya seorang siswi kelas 10 di SMAN 1 Banguntapan mengaku dipaksa berhijab oleh guru BK di sekolah tersebut. Hal itu disampaikan oleh Yuliani yang mendampingi korban.

Pemaksaan Saat MPLS

"Itu ada MPLS mengenal lingkungan sekolah itu anaknya nyaman-nyaman aja tidak ada masalah. Terus masuk pertama itu tanggal 18 Juli itu masih nyaman. Kemudian tanggal 19 menurut WA di saya ini, anak itu dipanggil di BP diinterogasi 3 guru BP," ujar Yuliani ditemui di ORI perwakilan DIY, Jumat (29/7).

Yuliani yang juga bagian dari Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan (Sarang Lidi) DIY mengatakan saat dipanggil itu, siswi tersebut merasa terus dipojokkan. Selain itu, siswi itu dipakaikan hijab oleh guru BK.

Usai dipakaikan hijab itu siswi tersebut kemudian minta izin ke toilet. Di situ dia kemudian menangis selama satu jam.

"Anaknya minta izin ke toilet. Nangis satu jam lebih di toilet. Izin ke toilet kok nggak masuk-masuk kan mungkin BP ketakutan terus digetok, anaknya mau bukain pintu dalam kondisi sudah lemas terus dibawa ke UKS. Dia baru dipanggilkan orang tuanya," bebernya.

Akibat kejadian itu siswi berusia 16 tahun itu mengalami depresi. Bahkan menurut penuturan Yuliani si anak masih mengurung diri hingga saat ini.

"(Mengurung diri) Dari hari Selasa (26/7) kemarin. Jadi Senin (25/7) itu dia sempat pingsan di sekolah karena dipanggil ini terus dia tanggal 26-nya mengurung diri," sambungnya.

Dipertemukan Pihak Sekolah

Yuliani pun sempat dipertemukan dengan pihak sekolah. Dalam pertemuan itu, menurut Yuliani pihak sekolah justru berkilah bahwa sebenarnya terjadi permasalahan keluarga.

"Jadi kemarin saya sudah dipertemukan pihak sekolah oleh dinas. Saya minta dipertemukan, yang datang dinas dan (guru) BK dua. Seolah-olah dia mengkambing hitamkan bahwa ini adalah ada persoalan di keluarga," bebernya.

"Terus saya bilang saya bisa buktikan kalau sekolah itu memaksa akhirnya tak tunjukin (sekolah) menjual hijab dengan label (SMAN 1) Banguntapan. Dari situ sekarang pemaksaannya, nggak mau pakai hijab dipaksa pakai hijab biarpun itu di ruangan BK. Itu sudah pemaksaan kedua," ucapnya.

ORI DIY Panggil Pihak Sekolah

Sementara itu, Kepala ORI perwakilan DIY Budhi Masturi telah memanggil pihak sekolah untuk meminta klarifikasi. Pada pemanggilan itu, Kepala SMAN 1 Banguntapan Agung Istiyanto hadir secara langsung.

Sepenuturan kepala sekolah, lanjut Budhi, memang tidak ada kewajiban bagi siswi untuk mengenakan hijab. Namun, hal ini perlu dikaji lebih dalam dan mesti dicocokkan dengan peraturan tata tertib sekolah.

"Secara lisan dia mengatakan tidak ada kewajiban cuman tadi lisan mengatakan disarankan dengan sangat. Kita masih cek tata tertibnya. Nanti narasi di tata tertib seperti apa," katanya.

Baca Disdikpora Turun Tangan di halaman berikutnya..




(apl/sip)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Foto

detikNetwork