Jaran Kepang Papat: Tari Keramat yang Tetap Pentas Tanpa Penonton

Eko Susanto - detikJateng
Rabu, 29 Jul 2026 18:02 WIB
Pementasan Jaran Kepang Papat di halaman rumah Jesaparjo Dusun Mantran Wetan, Girirejo, Ngablak, Kabupaten Magelang saat Saparan, Rabu (29/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng
Magelang -

Ada yang unik saat perhelatan Saparan di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Terdapat kesenian warisan leluhur bernama Jaran Kepang Papat, yang berbeda dari jaran kepang biasa.

Kenapa berbeda? Jaran Kepang Papat yang dimainkan oleh 4 orang ini tetap diselenggarakan meski tidak ada yang menonton.

Selain personelnya yang hanya 4 orang, jaran kepang atau kuda lumping itu dicat warna hijau dan kuning. Perbedaan lainnya dari jaran kepang biasa adalah iringan musik yang ditabuh hanya bende, terbang dan kecer. Untuk bende yang ditabuh ada tiga macam.

Satu lagi, para penari yang memainkan Jaran Kepang Papat ini turun temurun. Saat berlangsungnya Saparan, Jaran Kepang Papat ini sebagai pembuka yang harus dimainkan.

Sesaji disiapkan sebelum pentas digelar. Selama pementasan, para penari ada yang mengalami kesurupan, dan memberikan nasihat bagi warga Mantran Wetan.

Saat memainkan selain jaran kepang, dua penari yang depan membawa pedang. Sedangkan yang dua penari di belakangnya membawa tombak berbendera warna merah.

Setelah Jaran Kepang Papat dimainkan, baru pementasan wayang kulit dihelat siang dan malam hari. Pentas kesenian menyambut Saparan di Mantran Wetan berlangsung hingga Sabtu (1/8).

"Yang main memang dari keturunan dari mbah-mbah dulu. Saya sudah keturunan yang keempat. Saya hanya meneruskan warisan dari mbah-mbah tidak boleh memberhentikan Jaran Kepang Papat dan diteruskan kepada anak-anak," kata Ketua Jaran Kepang Papat Mantran Wetan, Jesaparjo, kepada wartawan di sela-sela pementasan di halaman rumahnya, Rabu (29/7/2026).

Pentas Jaran Kepang Papat, kata Jesaparjo, hanya dipentaskan saat Saparan pada Rabu Pahing, satu Syawal dan satu Suro. Pentas wajib di Mantran Wetan setahun ada tiga kali.

"Bulan Sapar di hari Rabu Pahing, tanggal 1 Syawal dan 1 Suro untuk jamasan. Terus warna jarannya kuning sama hijau. Dulu, pernah diganti warna hitam sama putih, tapi mbau rekso (penunggu gaib) jaran kepang nggak mau. Harus minta ganti yang hijau sama kuning lagi," sambungnya.

Pementasan Jaran Kepang Papat di halaman rumah Jesaparjo Dusun Mantran Wetan, Girirejo, Ngablak, Kabupaten Magelang saat Saparan, Rabu (29/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng

Ketika adegan berperang menggunakan pedang, terkadang penari ada yang kesurupan. Si penari kemudian memberikan wejangan bagi warga.

"Biasa (kerasukan) ada (pesan) disampaikan kepada warga. Khususnya kepada anggota dan masyarakat dusun sini. Pesan dari yang (kerasukan) warga diminta untuk lebih hati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya," ujarnya.

Jesaparjo menambahkan, para penarinya masih mempunyai hubungan saudara.

"Turun-temurun. Nggak bisa (asal orang). Yang ngrekso Jaran Kepang Papat, yaitu Eyang Slamet, terus Syeh Rohman," imbuhnya.

Filosofi peperangan dalam pementasan, kata dia, bahwa dalam bertempur ada salah satu yang gugur, tapi ada satu yang jaya.

"Jaran Kepang Papat ini kadang ada yang nanggap. Biasanya orang yang punya nazar. Kalau nazar itu sesajennya lebih komplet," bebernya.




(apu/afn)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork