Ada yang unik saat perhelatan Saparan di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Terdapat kesenian warisan leluhur bernama Jaran Kepang Papat, yang berbeda dari jaran kepang biasa.
Kenapa berbeda? Jaran Kepang Papat yang dimainkan oleh 4 orang ini tetap diselenggarakan meski tidak ada yang menonton.
Selain personelnya yang hanya 4 orang, jaran kepang atau kuda lumping itu dicat warna hijau dan kuning. Perbedaan lainnya dari jaran kepang biasa adalah iringan musik yang ditabuh hanya bende, terbang dan kecer. Untuk bende yang ditabuh ada tiga macam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu lagi, para penari yang memainkan Jaran Kepang Papat ini turun temurun. Saat berlangsungnya Saparan, Jaran Kepang Papat ini sebagai pembuka yang harus dimainkan.
Sesaji disiapkan sebelum pentas digelar. Selama pementasan, para penari ada yang mengalami kesurupan, dan memberikan nasihat bagi warga Mantran Wetan.
Saat memainkan selain jaran kepang, dua penari yang depan membawa pedang. Sedangkan yang dua penari di belakangnya membawa tombak berbendera warna merah.
Setelah Jaran Kepang Papat dimainkan, baru pementasan wayang kulit dihelat siang dan malam hari. Pentas kesenian menyambut Saparan di Mantran Wetan berlangsung hingga Sabtu (1/8).
"Yang main memang dari keturunan dari mbah-mbah dulu. Saya sudah keturunan yang keempat. Saya hanya meneruskan warisan dari mbah-mbah tidak boleh memberhentikan Jaran Kepang Papat dan diteruskan kepada anak-anak," kata Ketua Jaran Kepang Papat Mantran Wetan, Jesaparjo, kepada wartawan di sela-sela pementasan di halaman rumahnya, Rabu (29/7/2026).
Pentas Jaran Kepang Papat, kata Jesaparjo, hanya dipentaskan saat Saparan pada Rabu Pahing, satu Syawal dan satu Suro. Pentas wajib di Mantran Wetan setahun ada tiga kali.
"Bulan Sapar di hari Rabu Pahing, tanggal 1 Syawal dan 1 Suro untuk jamasan. Terus warna jarannya kuning sama hijau. Dulu, pernah diganti warna hitam sama putih, tapi mbau rekso (penunggu gaib) jaran kepang nggak mau. Harus minta ganti yang hijau sama kuning lagi," sambungnya.
Pementasan Jaran Kepang Papat di halaman rumah Jesaparjo Dusun Mantran Wetan, Girirejo, Ngablak, Kabupaten Magelang saat Saparan, Rabu (29/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Ketika adegan berperang menggunakan pedang, terkadang penari ada yang kesurupan. Si penari kemudian memberikan wejangan bagi warga.
"Biasa (kerasukan) ada (pesan) disampaikan kepada warga. Khususnya kepada anggota dan masyarakat dusun sini. Pesan dari yang (kerasukan) warga diminta untuk lebih hati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya," ujarnya.
Jesaparjo menambahkan, para penarinya masih mempunyai hubungan saudara.
"Turun-temurun. Nggak bisa (asal orang). Yang ngrekso Jaran Kepang Papat, yaitu Eyang Slamet, terus Syeh Rohman," imbuhnya.
Filosofi peperangan dalam pementasan, kata dia, bahwa dalam bertempur ada salah satu yang gugur, tapi ada satu yang jaya.
"Jaran Kepang Papat ini kadang ada yang nanggap. Biasanya orang yang punya nazar. Kalau nazar itu sesajennya lebih komplet," bebernya.
"Untuk Saparan sajennya biasanya ada kembang, kinang, gula, terus gula kacang, suruh, kemenyan, rokok, kopi. Kalau nazar ada ingkung sejodo, tumpeng, jajan pasar, jenang abang dan putih, terus perlengkapan lauk pauk," lanjut dia.
Sementara itu, tokoh warga Mantran Wetan, Supadi Haryanto menambahkan untuk Jaran Kepang Papat sejarah secara detailnya tidak mengetahui.
"Tapi, hampir ada kesamaan, Jaran Kepang Papat dengan di daerah Sawangan ada Gangsir Ngentir, Blabak Gangsir Ngentir, di sana ada enam, ada delapan. Tapi, identik yang di wilayah Gunung Andong, Merbabu, Jaran Kepang Papat kok kebetulan hanya di Mantran Wetan," kata Supadi.
"Jaran Kepang Papat entah berdirinya kapan, tidak tertulis, tidak ada catatan secara detail. Tapi, Jaran Kepang Papat di sini untuk warga masyarakat Mantran Wetan amat sangat disenangi, disukai. Dipentaskan tiap-tiap hari-hari besar seperti hari ini, Saparan," ujar Supadi.
Supadi mengatakan, warga saking senangnya dengan Jaran Kepang Papat sampai disakralkan.
"Saking senangnya Jaran Kepang Papat itu disakralkan, bahkan sampai jadi keramat. Bahkan menjadi pusoko kesenian di Mantran Wetan. Di sini, Jaran Kepang Papat tidak ditambahi jadi lima, enam, sepuluh nggak, oleh para sesepuh tetap," katanya.
"Kita hidup berkesenian itu tetap meminta, memohon kepada Yang Kuasa, dari kiblat papat lima pancer. Jaran Kepang Papat ini filosofinya ya sebagai empat penjuru semoga keselamatan, rezeki, jodoh, selalu diberikan dari Tuhan Yang Maha Kuasa," tegas Supadi.
Yang unik lagi, kata Supadi, warna hijau untuk yang jantan dan kuning untuk betina.
"Dari sesepuh juga tidak ubah, tapi ini ada makna tersendiri bahwa hijau dilambangkan mendapatkan kemakmuran karena mayoritas warga petani (hortikultura). Yang kuning melambangkan kemurnian, lahir dan batin, semoga lahir dan batin tetap tulus, ikhlas dan membawa keberkahan bagi petani di Dusun Mantran Wetan," bebernya.
Salah satu warga yang pernah menanggap Jaran Kepang Papat, Sih Agung Prasetyo dari Sudiworo, Grabag, Kabupaten Magelang. Saat itu, ia bernazar jika menjadi kepala dusun bakal menanggap Jaran Kepang Papat.
"Kalau tidak salah tahun 2021. Saya waktu itu istilahnya punya ujar atau nazar bahwa kalau menjadi Kepala Dusun Sudimoro akan ngaturi rawuh dari kadhang Jaran Kepang Papat," ujar Sih Agung.
"Waktu itu bersamaan dengan merti dusun. Itu juga nggak ada panggung, dekorasi, nggak ada sound system pokoknya pentas ngluwari ujar. Terus, setelah itu juga diberi pesan yang mbau rekso Jaran Kepang Papat (mengawal menjadi kadus). Setelah nanggap rasanya plong," kata dia.
Warga Mantran Wetan lainnya, Giyanto, menambahkan Jaran Kepang Papat tanpa penonton tetap dimainkan.
"Ada penonton atau tidak, Jaran Kepang Papat tetap dimainkan," kata Giyanto.

