Suasana berbeda terlihat di kawasan objek wisata Nepal Van Java Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Wisatawan yang datang khusus hari ini gratis hingga dipersilakan mampir ke rumah masing-masing warga.
Bagi warga setempat hari ini ada yang berbeda. Pasalnya warga Dusun Butuh yang persis berada di lereng Gunung Sumbing tengah punya gawe Merti Bumi atau Saparan bertepatan dengan hari, Sabtu Pon (25/7/2026).
Saat memasuki gerbang masuk atau tiket masuk tertulis objek wisata tutup. Meski tutup pengunjung maupun orang datang silih berganti. Bahkan jalanan di kawasan Nepal Van Java padat dipenuhi pemotor dan pejalan kaki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Potret keramaian Saparan di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Sabtu (25/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Tradisi ini juga dihiasi momen unik yang biasa ditemui setiap Lebaran. Warga terbiasa open house dan datang berkunjung dari satu rumah menuju rumah lainnya. Kebanyakan perantau pun memilih pulang saat momen saparan ini.
"Saya asli sini (Butuh), tapi ikut suami di Bandongan. Terus, saya balik karena saparan membantu simbok masak. Biasanya kalau saparan banyak tamu-tamu," kata Nur Sofi (40) kepada wartawan, Sabtu (25/7/2026).
"(Sama Lebaran) Ramai saparan. Saparan itu kan yang pernah tua tetap mertamu (berkunjung), kalau Lebaran yang muda-muda bertamu yang tua. Tapi, kalau saparan ini tua, muda, semua bertamu," sambung Nur.
Ia mengatakan, orang yang sudah dikenal maupun tidak boleh datang silaturahmi. Mereka bertamu dipersilakan menikmati berbagai makanan. Kemudian, sebelum pamit warga yang berkunjung diminta makan.
"Pokoknya nggak ditanya (rumah dan sebagainya), bersilaturahim. Ini nyelamati dusun, kita bersyukur atas hasil sayuran. Ya kayak Lebaran habis Rp 2 jutaan (menjamu tamu) kurang lebih," imbuhnya.
Saat saparan ini warga asal Butuh yang merantau pun kembali menuju kampung halamannya. Hal ini telah berlangsung secara turun temurun.
Potret keramaian Saparan di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Sabtu (25/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
"Saya asli dari dusun sini. Sekarang kerja di Jakarta. Iya sengaja pulang," kata Ahmad Solikin.
Warga yang datang bersilaturahmi bukan hanya dari sekitar Kaliangkrik maupun Magelang. Melainkan ada juga yang datang dari Wonosobo.
"Iya memang datang ke sini. Tahu ada saparan soalnya ada saudara di sini. Baru kali ini datang. Saya sampai sini jam 11.30 WIB. Setelah Dzuhur suasana ramai," kata Risa (23) warga Kalikajar, Wonosobo.
Potret keramaian Saparan di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Sabtu (25/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Dalam merti dusun ini pun ada gunungan yang dikirab dengan star dari rumah kepala dusun dibawa keliling Dusun Butuh. Adapun dalam kirab ini juga diikuti tiga penari tayub dari Wonosobo.
Gunungan hasil bumi yang ada meliputi klempak, sayuran ada loncang, wortel, brokoli maupun lainnya. Gunungan hasil bumi tersebut diperebutkan.
"Dua kali datang ke sini saat saparan. Ikut rebutan gunungan, tadi pool anget (susah berebutnya). Ini dapat loncang, wolter, kentang dan brokoli," kata Wasilah (39) warga Sapuran, Wonosobo.
Sementara itu, Kepala Dusun Butuh, Lilik Setyawan mengatakan, acara ini melestarikan adat budaya Jawa yang merupakan peninggalan dari para leluhur.
Potret keramaian Saparan di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Sabtu (25/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
"Merti bumi ini jatuh pada bulan sapar, jadi disebut saparan. Ini menjadi bagian khususnya di wilayah lereng gunung seperti Merbabu, Sumbing, Sindoro ada bersih desa," kata Lilik.
Lilik mengatakan, untuk harinya di Dusun Butuh fleksibel, namun ada pedoman khusus yakni malam minggu pertama di bulan sapar. Kemudian untuk pasarannya tidak masalah yang penting pada malam minggu pertama tersebut.
"Tapi, ini kebetulan malam minggu kedua. Karena yang malam minggu pertama sudah diminta Dusun Marongan, Desa Sukomakmur (Kajoran) yang jauh-jauh hari menghubunginya," ujar Lilik.
Pentas Tayub 12 Jam
Lilik menambahkan, dalam saparan diawali dengan mujahadah yang berlangsung di rumahnya. Dalam mujahadah ini diikuti seluruh kepala keluarga (KK) yang dipimpin kaum (tokoh agama Islam) setempat.
"Terus dilanjutkan kirab gunungan hasil bumi, tumpeng dan ingkung. Sebagai bentuk rasa syukur menuju Tuk Sijago (mata air)," ujarnya.
"Dilanjutkan tradisi atau hiburan seni tayub dari Giyanti Wonosobo. Mulai jam 16.00 WIB sampai Magrib istirahat. Nanti mulai lagi jam 21.00 WIB sampai jam 09.00 WIB pagi," tambah Lilik.
Pentas selama 12 jam tersebut, kata Lilik, sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun.
"Tayuban juga berlakukan sampai pagi," bebernya.
Lilik mengungkapkan, warga yang bertamu merupakan salah satu nilai dari adat saparan menjadi ajang silaturahim.
"Kalau Lebaran yang muda ke yang tua. Tapi, di saparan atau merti dusun ini tidak berlaku. Yang tua ke saudara yang muda itu sudah biasa. Jadi ajang silatuhim, selain tasyakuran juga untuk mempererat tali silaturahim saudara, teman, kenalan, siapapun itu," lanjutnya.
"Ya lebih ramai karena nggak ada barengan. Satu tempat, satu acara. Tapi, kalau Lebaran kan serentak di mana-mana. Wisata dua hari (gratis) Sabtu dan Minggu. Kita tidak ada pelayanan, tapi kan tidak bisa tutup. Untuk pendakian ditutup karena tidak ada pelayanan, kita alihkan ke Mangli atau Adipura (basecamp terdekat)," pungkasnya.




