Megatruh merupakan satu di antara sebelas tembang Macapat. Dalam budaya Jawa, macapat adalah puisi tradisional yang memiliki aturan penulisan tersendiri. Tembang macapat tak hanya menjadi bagian dari karya sastra semata, namun juga menggambarkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga meninggal dunia.
Setiap tembang macapat memiliki makna dan tahap kehidupan yang berbeda. Tembang Megatruh sendiri merupakan tembang yang melambangkan fase akhir dari kehidupan manusia, yakni saat ruh berpisah dari raga.
Selain memiliki makna filosofis yang mendalam, tembang macapat Megatruh juga memiliki aturan atau pakem tertentu seperti jumlah baris, jumlah suku kata, dan akhiran bunyi setiap baru. Seperti apa makna tembang Megatruh beserta strukturnya? Untuk mengetahui jawabannya, simak penjelasan berikut yang dikutip dari buku Tembang Macapat: Tembang Jawa Indah dan Penuh Makna karangan Zahra Haidar dan Sinau Tembang Macapat karangan Sri Mulyani lengkap dengan contoh tembangnya.
Makna Tembang Megatruh
Tembang Megatruh berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni megat yang berarti 'berpisah' dan ruh yang berarti 'jiwa'. Dengan makna yang lebih luas, Megatruh dapat dimaknai sebagai waktu ketika jiwa manusia telah berpisah dengan raga atau tubuhnya. Peristiwa ini dikenal sebagai kematian.
Dalam urutan tembang macapat, Megatruh berada pada tahap akhir perjalanan hidup manusia, tepatnya sebelum tembang Pocung. Tembang Megatruh menggambarkan waktu menjelang kematian manusia, sehingga nuansanya sering kali terasa sedih dan penuh perenungan.
Pesan yang terkandung dalam tembang Megatruh biasanya berisi nasihat agar manusia mengingat kematian dan menyiapkan diri menuju alam keabadian. Tembang ini juga menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara dan bertapa pentingnya menjalani kehidupan dengan baik.
Struktur Tembang Macapat Megatruh
Sama halnya tembang macapat yang lain, tembang Megatruh juga memiliki aturan tersendiri. Aturan atau pakem tersebut mencakup guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu.
Guru gatra merupakan merupakan jumlah baris dalam sebuah bait. Kemudian, guru wilangan adalah jumlah suku kata pada setiap barisnya. Sedangkan guru lagu merupakan bunyi vokal pada akhir baris atau lariknya.
Berikut ini adalah struktur tembang macapat Megatruh, berdasarkan guru gatra, wilangan, serta lagunya.
Guru Gatra: 5
Guru Wilangan: 12, 8, 8, 8, 8
Guru Lagu: u, i, u, i , o
Contoh Tembang Megatruh
Contoh 1
Sigra milir sang gethek sinangga bajul
Kawan dasa kang njageni
Ing ngarsa miwah ing pungkur
Tanapi ing kanan kering
Sang gethek lampahnya alon
Tembang Megatruh tersebut menggambarkan perjalanan sebuah rakit yang mengalih perlahan di sungai. Hal ini melambangkan perjalanan hidup manusia dengan berbagai rintangan di dalamnya. Terkadang, meski perjalanan terasa lambat, pada akhirnya manusia tetap harus berjalan hingga mencapai tujuan akhirnya.
Contoh 2
Nalikane mripat iki wis katutup
Nana sing isa nulungi
Kajaba laku kang luhur
Kang ditampi marang Gusti
Aja ngibadah kang awon
Makna tembang Megatruh tersebut adalah sebagai pengingat bahwa ketika manusia meninggal dunia, tak ada lagi yang dapat menolongnya selain amal dan perbuatan baik selama hidup di dunia. Oleh karena itu, manusia perlu memiliki keluhuran budi dan menjalankan ibadah dengan penuh kesungguhan.
Contoh 3
Kabeh iku mung manungsa kang pinujul
Marga duwe lahir batin
Joning urip iku mau
Isi ati klawan budi
Iku pirantine uwong
Tembang Megatruh tersebut menggambarkan bahwa manusia perlu memiliki keseimbangan antara jiwa dan raga. Dalam menjalani kehidupan, sebaiknya manusia mengisinya dengan kebaikan. Nilai-nilai tersebut akan menjadi kekuatan bagi manusia untuk menghadapi berbagai pasang surut kehidupan.
Demikian penjelasan tentang tembang macapat Megatruh, mulai dari makna, watak, struktur, hingga 3 contohnya. Semoga bermanfaat.
Artikel ini ditulis oleh Ikfina Kamalia Rizki peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
Simak Video "Keindahan Budaya dan Pariwisata Jawa Barat Menyatu dalam Kekayaan Nusantara"
(sto/ams)