Contoh Tembang Gambuh: Pengertian, Watak, Guru Gatra, Guru Wilangan

Contoh Tembang Gambuh: Pengertian, Watak, Guru Gatra, Guru Wilangan

Sri Wahyuni Oktafia - detikJateng
Kamis, 08 Jan 2026 21:00 WIB
Contoh Tembang Gambuh: Pengertian, Watak, Guru Gatra, Guru Wilangan
Ilustrasi tembang gambuh. (Foto: Kal 347/Pexels)
Solo -

Tembang gambuh adalah salah satu bagian dari 11 tembang macapat yang sarat akan nasihat kehidupan. Tembang gambuh menjadi sarana untuk menyampaikan ajakan moral kepada generasi muda.

Mempelajari tembang gambuh bukan hanya menjadi cara untuk melengkapi tuntutan belajar di sekolah. Memahami tembang ini, bisa menjadi cara kita untuk mengetahui lebih dalam dan mencintai kebudayaan Indonesia yang beragam.

Untuk kamu yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai tembang gambuh, artikel ini akan membahas tuntas teori dasar beserta contoh tembang gambuh yang bisa menambah wawasan kamu detikers. Yuk simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengertian Tembang Gambuh

Dikutip dari buku Macapat Tembang Jawa Indah dan Kaya Makna karya Zahra Haidar, gambuh bermakna cocok atau jodoh sehingga tembang gambuh berisikan cerita mengenai seseorang yang telah menemukan pasangannya. Tembang gambuh menggambarkan keselarasan dan kebijaksanaan, di mana dapat menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Tembang gambuh juga berisikan cerita dan nasihat kehidupan. Tembang ini dapat membahas rasa persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan.

ADVERTISEMENT

Watak Tembang Gambuh

Tembang gambuh mengangkat berbagai tema kehidupan, mulai dari persoalan asmara hingga tuntutan nilai keagamaan dan filosofinya. Melalui liriknya, tembang ini berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan nasihat bijak yang mengandung makna mendalam.

Watak utama tembang gambuh mencerminkan semangat kebersamaan, kerukunan, serta rasa kekeluargaan yang erat. Nilai-nilai tersebut menjadikan tembang gambuh sarat dengan pesan moral yang menyejukkan bagi pendengarnya.

Aturan Penulisan Tembang Gambuh

Tembang macapat menggunakan aturan yang disebut guru gatra, guru lagu dan guru wilangan. Guru gatra adalah banyaknya jumlah baris dalam satu bait. Guru lagu merupakan persamaan bunyi sajak pada akhir kata dalam setiap baris. Sementara guru wilangan adalah banyaknya suku kata dalam setiap baris. Berikut aturan penulisan untuk tembang gambuh.

  1. Guru gatra, tembang gambuh terdiri dari lima baris pada setiap baitnya.
  2. Guru wilangan, tembang gambuh terbentuk dari susunan jumlah kosa kata masing-masing yakni:
    • Baris pertama terdiri dari 7 kosa kata
    • Baris kedua terdiri dari 10 kosa kata
    • Baris ketiga terdiri dari 12 kosa kata
    • Baris keempat terdiri dari 8 kosa kata
    • Baris kelima terdiri dari 8 kosa kata
  3. Guru lagu, tembang gambuh memiliki pola u-u-i-u-huruf vokal, rinciannya:
    • Pada baris pertama dan kedua diakhiri huruf u
    • Pada baris ketiga diakhiri dengan i
    • Pada baris keempat kembali ke huruf u
    • Pada baris terakhir diakhiri dengan huruf vokal

Contoh Tembang Gambuh dan Artinya

Perhatikan contoh tembang gambuh yang dikutip dari Serat Wulangreh pupuh III karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta.

Aja nganti kabanjur,
'jangan sampai terlanjur'
barang polah ingkang nora jujur
'bertingkah polah yang tidak jujur'
yen kebanjur sayekti kojur tan becik,
'jika terlanjur tentu akan celaka dan tidak baik'
becik ngupayaa iku,
'lebih baik berusahalah'
pitutur ingkang sayektos.
'ikuti ajaran yang sejati'


Tutur bener puniku,
'ucapan yang benar itu'
sayektine apantes tiniru
'sejatinya pantas untuk diikuti'
nadyan metu saking wong sudra papeki,
'meskipun keluar dari orang yang rendah derajatnya'
lamun becik nggone muruk,
'jika baik dalam mengajarkan'
iku pantes sira anggo.
'itu pantas digunakan'


Ana pocapanipun,
'ada sebuah ungkapan'
adiguna adigang adigung
'adiguna, adigang, adigung'
pan adigang kidang adigung pan esthi,
'adigang itu seperti kijang, adigung itu seperti gajah'
adiguna ula iku,
'adiguna itu ular'
telu pisan mati sampyuh.
'ketiganya mati bersama secara sia-sia'

Si kidang ambegipun,
'si kijang memiliki watak'
ngendelaken kebat lumpatipun,
'menyombongkan kecepatannya berlari'
pan si gajah ngendelaken gung ainggil,
'si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar'
ula ngendelaken iku
'ular menyombongkan'
mandine kalamun nyakot
'keampuhannya ketika menggigit'

Iku upamanipun,
'itu sebuah perumpamaan'
aja ngendelaken sira iku,
'jangan menyombongkan diri'
suteng nata iya sapa kumawani,
'anak seorang raja siapa yang berani'
iku ambeke wong digang,
'itu perilaku adigang'
ing wasana dadi asor.
'pada akhirnya malah merendahkan martabat'

Adiguna puniku,
'watak adiguna itu'
ngendelaken kapinteranipun,
'menyombongkan kepandaiannya'
samubarang kabisan dipundheweki,
'seolah semua bisa dilakukan sendiri'
sapa bisa kaya ingsun,
'siapa yang bisa seperti aku'
togging prana nora enjoh
'pada akhirnya tak bisa berbuat apa-apa'

Ambek adigung iku,
'watak orang adigung itu'
angungasaken ing kasuranipun,
'menyombongkan keperkasaannya'
para tantang candhala anyenyampahi,
'semua ditantang berkelahi dan diremehkan'
tinemenan nora pecus,
'padahal jika diladeni, ia tak berdaya'
satemah dadi geguyon
'akhirnya menjadi bahan tertawaan'

Ing wong urip puniku,
'dalam kehidupan manusia'
aja nganggo ambek kang tetelu
'jangan sampai memiliki watak ketiga tadi'
anganggoa rereh ririh ngati-ati
'milikilah sifat sabar, cermat, dan berhati-hati'
den kawangwang barang laku,
'selalu introspeksi pada tingkah laku'
kang waskitha salahing wong.
'pandailah membaca perilaku orang'

Demikianlah pembahasan mengenai tembang gambuh, watak, aturan, serta contohnya. Tembang gambuh bukan sekedar puisi indah yang eksis di Jawa. Tembang ini juga menjadi media pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia. Semoga bermanfaat, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(sto/dil)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads