Desa Tutup Blora Konon Jadi Tempat Sembunyi Pasukan Diponegoro

Achmad Niam Jamil - detikJateng
Minggu, 31 Mei 2026 07:30 WIB
Rumah peninggalan keluarga Mbah Datuk yang diyakini menjadi orang yang babat alas di Desa Tutup, Blora. Foto diunggah Rabu (28/5/2026). Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng
Blora -

Desa Tutup merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, menyimpan kisah perjuangan melawan penjajah. Daerah bernama unik tersebut konon menjadi tempat persembunyian prajurit Diponegoro.

Kala itu untuk menghindar dari pasukan Belanda, sebagian dari pasukan Diponegoro mengungsi ke sejumlah daerah lain. Satu diantara tempat pelarian adalah Blora.

Sejarawan Blora, Dalhar Muhammadun menyebut bahwa terdapat beberapa pasukan Diponegoro yang bersembunyi di Blora. Diantaranya, Raden Ngabehi Honggowijoyo yang pada sekitar tahun 1830 mulai menetap di Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Blora. Kemudian, Raden Kerto Joyo menetap di Dukuh Setro, Desa Tamanrejo, Kecamatan Tunjungan dan seorang lagi menetap di Dukuh Maguan, Desa Tamanrejo, Kecamatan Tunjungan. Sayang sekali nama tokoh terakhir tidak tercatat.

"Jumlah penduduk di basis laskar Diponegoro menyusut. Penyusutan itu tidak hanya karena gugur di medan tempur, tapi juga mengungsi ke sejumlah wilayah lain. Blora menjadi salah satu daerah pelarian," ucapnya saat diwawancara, Kamis (28/5/2026).

Dia mengatakan pelarian pasukan tersebut merupakan imbas dari perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830) disebut sebagai perang terbesar sepanjang kekuasaan kompeni. Madun menyebut, imbas perang dahsyat tersebut merenggut nyawa 8000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi dan 200.000 orang Jawa.

Di Desa Tutup pasukan yang bersembunyi adalah Raden Ngabehi Honggowijoyo pada masa itu dikenal dengan sebutan Mbah Datuk. Mbah Datuk ini dikenal sebagai tokoh yang babat alas dan memberi nama Desa Tutup yang dikenal sekarang.

Suasana di Desa tutup, Blora. Konon nama desa ini berasal dari nama Pohgon trutup. Foto diunggah Kamis (28/5/2026). Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Pada pelarian Mbah Datuk, tiba di sebuah daerah di mana daerah tersebut banyak pohon trutup. Disanalah Mbah Datuk beristirahat dan bersembunyi.

"Mbah Datuk pas masuk di Desa Tutup itu istirahatnya atau semedi di bawah pohon trutup. Terus di wilayah itu memang banyak pohon trutup," papar dia.

Pelarian Mbah Datuk ini diyakini menjadi awal mula penamaan Desa Tutup. Madun menyebutkan bahwa Tutup artinya menutup diri dari pasukan Belanda. Lebih banyak menyembunyikan identitas atau aktivitas yang sekiranya berdampak pada keamanan.

"Kenapa menjadi Desa Tutup. Bahwa desa setempat itu tempat pelarian, tempat persembunyian pasukan Diponegoro. Maka desa situ memang tertutup, memproteksi diri, menutup diri. Menutup diri dari pengawasan orang luar, kehadiran orang luar termasuk pasukan musuh," papar Madun.

Sementara itu, seorang tokoh Desa Tutup, Yuda Wikanto alias Gilang mengatakan bahwa memang tempo dulu Desa Tutup menjadi sebuah tempat persembunyian dari pasukan Diponegoro.

"Kalau saya membacanya bukan pelarian, tapi penyebaran invasi Diponegoro. Itu terjadi kan sebelum Pangeran Diponegoro ditangkap," jelas dia.

Menurutnya, pelarian tentara Diponegoro sebagai strategi untuk perluasan basis pasukan.

"Itu pengembangan orang-orang Diponegoro agar bisa menguasai suatu basis," jelas dia.

Mbah Datuk alias Raden Ngabehi Honggowijoyo di akhir hayatnya dimakamkan di pemakaman keluarga yaitu Makam Keluarga Trah Honggowijoyo di Desa Tutup.



Simak Video "Video: Puluhan Rumah di Blora dan Grobogan Rusak Usai Diterjang Hujan Angin"

(ahr/afn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork