Kisah Mbah Mangun Pemimpin Pasukan Berkuda di Mangundikaran Nganjuk

Kisah Mbah Mangun Pemimpin Pasukan Berkuda di Mangundikaran Nganjuk

Bakrie - detikJatim
Kamis, 12 Feb 2026 10:00 WIB
Makam Raden Mas Rekso Mulyo atau Mbah Mangun Kusumo di Kelurahan Mangundikaran Nganjuk
Makam Raden Mas Rekso Mulyo atau Mbah Mangun Kusumo di Kelurahan Mangundikaran Nganjuk (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Nama Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk Kota tidak lepas dari kisah Mbah Mangun yang kala itu memimpin pasukan berkuda melawan penjajah Belanda.

Mbah Mangun Dikoro dimakamkan di wilayah Kelurahan Mangundikaran, tidak jauh dari alun-alun dan pusat pemerintah Nganjuk.

Toha, juru kunci makam menceritakan perjalanan Mbah Mangun hingga wafat di wilayah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mbah Mangun lahir dengan nama Raden Mas Rekso Mulyo atau Mangun Kusumo. Beliau bergabung dengan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda.

"Karena oleh Pangeran Diponegoro dipandang mumpuni, maka Mbah Mangun diberi nama Raden Mas Wongso Megoro atau Mangun Kusumo," ungkap Toha ditemui detikJatim, Kamis (12/2/2026).

ADVERTISEMENT

Setelah mendapat kepercayaan dari Pangeran Diponegoro, Mbah Mangun kemudian memimpin para bawahannya. Mereka antara lain Iro Kuwoso, Iro Ito, Iro Nadi, Iro Guno, Iro Kromo, Iro Tirto, Iro Kusumo, Iro Bayan, Iro Boyo hingga Iro Moyo.

"Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda, Laskar Diponegoro yang dipimpin Mbah Mangun, yang sebagian besar merupakan pasukan berkuda, kemudian lari ke selatan, yaitu Bojonegoro," tambahnya.

Di Bojonegoro, karena telah dirasa cukup aman, pasukan ini beristirahat sebentar dan makan.

"Kejadian makan dan istirahat di situ kemudian menjadi napak tilas atau petilasan yang saat ini dinamakan Desa Padangan (Bojonegoro). Pasangan itu diambil dari Bahasa Jawa madang, yang artinya makan," papar Toha.

Kemudian pasukan ini meneruskan perjalanan sampai ke Desa Ngluyu, Desa Gowar, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk menuju ke barat. Maka di Desa Mlorah terdapat cungkup-cungkup kecil yang tidak diketahui nama atau identitasnya.

Melanjutkan perjalanan ke selatan, sampai di kaki Gunung Wilis, Laskar Mangun bertempur lagi dengan pasukan Belanda di Desa Dodol, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Pertempuran itu menyebabkan bawahan Mbah Mangun meninggal dunia.

"Berawal dari situ, maka wilayah tersebut dinamakan Desa Salam Judek yang merupakan desa paling selatan di Nganjuk," tambah Toha.

Setelah pertempuran hebat, Panembahan Mangun Kusumo bersama tiga bawahannya, Iro Boyo, Iro Bayan, dan Iro Moyo menuju ke arah utara. Dalam perjalanannya, bawahan Mbah Mangun gugur tertembak semua.

Kemudian, Mbah Mangun mendiami suatu tempat, yang kemudian dikenal Sangrahan Mangunan sampai situasi dirasa aman.

"Untuk menutupi jati diri Eyang Mangun Kusumo, beliau berganti nama Eyang Mangundikoro. Kemudian mencari daratan tinggi atau tanah putuk untuk bertempat tinggal," jelas Toha.

Hingga sekarang, terkenal dengan Desa atau Tanah Mangundikoro atau Kelurahan Mangundikaran.

"Jadi, Kelurahan Mangundikaran diambil dari kisah Mbah Mangun Kusumo dalam memperjuangkan kemerdekaan. Di mana wilayah ini merupakan lokasi terakhir Mbah Mangun Kusumo berlindung hingga wafat," tandasnya.

Kini, makam Mbah Mangun Dikoro dirawat dengan baik. Banyak peziarah datang di waktu-waktu tertentu, baik dari dalam maupun luar Nganjuk.




(hil/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads