Koripan Klaten, Kampung Pandai Besi Konon Jadi Markas Pangeran Diponegoro

Koripan Klaten, Kampung Pandai Besi Konon Jadi Markas Pangeran Diponegoro

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Sabtu, 11 Jul 2026 15:07 WIB
Suasana kampung pandai besi Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten.

Foto diunggah Sabtu (11/7/2026).
Suasana kampung pandai besi Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Foto: Achmad Husein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Di wilayah Klaten bagian Utara, terdapat perkampungan pandai besi yang populer disebut Koripan. Permukiman yang meliputi tiga desa, Desa Kranggan (Kecamatan Polanharjo), Desa Segaran dan Delanggu (Kecamatan Delanggu) itu pernah jadi base camp atau markas para pejuang yang dipimpin Pangeran Diponegoro saat perang Jawa (1825-1830).

Kisah Diponegoro yang pernah bermukim di Koripan tercatat di berbagai jurnal kolonial Belanda. Salah satunya buku tentang kisah Jenderal Van Geen berjudul De General Van Geen 1737-1846 karya F.M.L Van Geen terbitan 1910.

"...Van Geen zond majoor Sollewijn beve om, ingeval Wijagan werkelijk aangevallen werd, onmiddelijk hulp te verleenen zullende hij alsdan zelf ook terstond zijn 100 man infanterie derwaarts doen oprukken. Werkelijk hield Dipanegara zich te koripan op, doch had een algemeenen aanval op Delanggoe in den zin...

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terjemahan

ADVERTISEMENT

...Van Geen mengirim perintah kepada Mayor Sollewijn untuk memberikan bantuan segera jika Wijagan benar-benar diserang, dan kemudian ia sendiri juga akan segera mengerahkan 100 infanterinya ke arah itu. Dipanegara memang tinggal di Koripan, tetapi ia memiliki rencana serangan umum ke Delanggoe.

Dalam buku yang mengisahkan perjalanan pasukan Jenderal Van Geen tersebut, dituliskan Pangeran Diponegoro dan laskar pejuangnya berada di Desa Koripan tanggal 28 Agustus 1826.

"...des morgena van den 28 Agustus werd aan Van Geen bericht dat Dipanagara zich in de Desa Koripan...(..pada pagi hari tanggal 28 Agustus, sebuah pesan dikirim ke van Geen yang menyatakan bahwa Dipanagara berada di desa Koripan).

Tidak hanya ditulis orang Belanda, keberadaan Pangeran Diponegoro juga ditulis dalam Babad Diponegoro yang ditulis sendiri oleh Diponegoro:

"Kanjeng Sunan ngaterken mring jawi ingkang rayi wus prapta tamtaman mapan
dulya mangkat age samyΔ… kapalan iku yen tinanya sandi agilir marang lajer, punika apan prapta sampun Jeng Pangran nulya utusan mring Koripan mangkana pinuju iki kang baris ing Koripan...,".

Sempat Jadi Markas Pangeran Diponegoro

Kepala Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Gunawan Budi Utomo menjelaskan cerita tentang bermukimnya Pangeran Diponegoro di Koripan memang ada. Keberadaan pasukan Diponegoro berkaitan dengan kebutuhan senjata.

"Keberadaan Pangeran Diponegoro berkaitan dengan senjata. Yang pada waktu itu memang membutuhkan tambahan senjata, yang waktu itu bisa didapatkan di Koripan," kata Gunawan saat ditemui detikJateng, Sabtu (11/7/2026) siang.

Menurut Gunawan, Koripan sendiri sudah sejak zaman dulu merupakan pusat pandai besi. Bahkan konon di zaman Mataram Islam awal di masa Sultan Agung dikenal memiliki dua empu.

"Di Koripan dulunya zaman Mataram Islam ada empu yang membuat senjata yang membuat senjata untuk kerajaan, yaitu empu Supo dan Korip. Bergulirnya waktu kini membuat alat pertanian dan rumah tangga," jelasnya.

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, membenarkan banyak catatan masa kolonial menyebut Desa Koripan. Antara lain buku yang ditulis pelaku perang Diponegoro, Van Geen maupun Tjonte Poland.

"Salah satunya dalam buku Tontje Poland, terus ada juga dalam buku in memorial General Van Geen.Van Geen itu panglima perang Hindia Belanda sebelum diganti jenderal De Kock," terang Hari.

Komunitas pandai besi di Koripan, kata Hari, terbukti eksis di masa HB (Hamengku Buwono) III atau masa Perang Diponegoro. Di Koripan ada aktivitas membuat senjata Jawa yang seringkali disebut di catatan Belanda.

"Eksisnya Koripan terbukti lamanya pangeran Diponegoro bersama laskar di sana, di Koripan karena ada aktivitas membuat senjata. Bahkan dijadikan base camp Diponegoro saat perang Delanggu," ujar Hari.

"Bahkan mungkin bisa mundur lagi, di era Mataram Islam awal di masa Panembahan Senopati atau Sultan Agung. Karena tidak mungkin komunitas pandai besi ujug-ujug ada di situ," imbuhnya.



(ams/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads