Desa Tutup Blora, Kampung Santri Tua yang Pernah Disinggahi Soekarno Kecil

Desa Tutup Blora, Kampung Santri Tua yang Pernah Disinggahi Soekarno Kecil

Achmad Niam Jamil - detikJateng
Minggu, 31 Mei 2026 10:26 WIB
Suasana di Desa tutup, Blora. Konon nama desa ini berasal dari nama Pohgon trutup. Foto diunggah Kamis (28/5/2026).
Suasana di Desa Tutup, Blora. Konon nama desa ini berasal dari nama Pohon trutup. Foto diunggah Kamis (28/5/2026). Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng
Blora -

Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora dikenal sebagai kampung santri tua. Desa ini juga sempat disinggahi oleh Presiden ke-1 RI, Soekarno, saat masih muda.

Sejarawan Blora, Dalhar Muhammadun, mengatakan di Dukuh Sukorame yang berada di Desa Tutup ini menjadi salah satu kampung santri tua di Blora. Konon dukuh ini dikembangkan oleh salah satu pasukan Diponegoro yang berkelana hingga dusun tersebut yang bernama Zaenudin.

"Mbah Zaenudin setelah berada di Sukorame tidak meninggalkan sisa-sisa atau penjelasan asal usul, identitasnya cenderung bisa dikatakan misterius. Hanya sebatas tokoh tersebut bernama Mbah Zaenudin dan merupakan pelarian dari Mataram dan pasukan dari Diponegoro," jelas Madun saat ditemui di Masjid As Syakur Sukorame, Kamis (28/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keturunan Zaenudin lantas membangun masjid serta pesantren di dusun itu. Hal tersebut menjadikan dusun itu memiliki pendidikan dan keagamaan yang cukup kental.

ADVERTISEMENT

Aktivitas keagamaan yang dilakukan di Dukuh Sukorame, Desa Tutup ini menjadikan wilayah tersebut dikenal sebagai kampung santri tua. Meskipun saat itu ada juga kampung santri yang ada di Desa Ngampel, Kecamatan Blora.

"Ini terjadi kisaran akhir abad 19. Dan melihat tahun tersebut menjadi benar jika disimpulkan bahwa Sukorame (Desa Tutup) adalah salah satu kampung santri tua di Blora," ucap pria Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Blora ini.

Dalam catatannya, sekitar tahun 1920 Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau lebih dikenal H.O.S. Cokroaminoto pernah singgah di Dukuh Sukorame, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan. Kehadiran Cokroaminoto bersama rombongan dalam rangka menggelar sebuah pertemuan.

Rumah yang disinggahi berada di sebelah selatan jalan raya Blora-Purwodadi menghadap ke utara. Atau sekarang depan sebuah hotel di Tunjungan. Rumahnya saat ini sudah tidak ada, hanya berupa lahan kosong. Rumah tersebut milik Mbah Schatterder atau sering dipanggil Mbah Skater. Dia merupakan pegawai di Pegadaian yang bertugas sebagai Juru Taksir di Pegadaian.

"Singgah di rumah Mbah Skater atau kadang ada yang menyebut dengan panggilan Mbah Juru, karena beliau memang seorang juru kir pegadaian di jaman Belanda. Mbah Skater adalah adik dari Mbah Citro atau paman dari Mbah Soedarwanto," jelas Madun.

Lebih lanjut, Madun menjelaskan singgahnya Cokroaminoto untuk suatu pertemuan yang dilaksanakan di Sukorame, Desa Tutup.

"Pertemuan di Sukorame ini menjadi masuk akal karena saat itu Cokroaminoto adalah tokoh Sarekat Islam, sementara di Sukorame itu sudah menjadi kampung santri," ucapnya.

Berdasar cerita yang dia peroleh, Desa Tutup sempat kedatangan 3 orang tamu dari Surabaya yaitu tokoh Sarekat Islam. Salah satu tamu tersebut terkonfirmasi adalah H.O.S Cokroaminoto. Sementara salah satu pengikut Cokroaminoto adalah seorang anak muda dengan wajah ganteng yang diperkirakan itu adalah Kusno atau Soekarno muda.

"3 tokoh tamu tersebut, yang 2 orang itu orang tua yang 1 anak muda. Salah satu dari orang tua itu adalah Cokroaminoto, sementara 1 anak muda yang wajahnya ganteng, bagus itu diperkirakan Soekarno muda," jelas dia.

"Saat di Sukorame Desa Tutup, Cokroaminoto bersama anak muda dan anak muda itu oleh para sesepuh Sukorame berdasarkan cerita tahun 1980-an, itu diperkirakan Soekarno muda yang mengikuti Cokroaminoto," ucapnya.

Suasana di Desa tutup, Blora. Konon nama desa ini berasal dari nama Pohgon trutup. Foto diunggah Kamis (28/5/2026).Suasana di Desa Tutup, Blora. Konon nama desa ini berasal dari nama Pohon trutup. Foto diunggah Kamis (28/5/2026). Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Sementara itu, seorang tokoh desa, Yuda Wikanto alias Gilang menyebut bahwa wilayah Sukorame Desa Tutup menjadi salah satu pusat konstelasi politik di Blora. Di daerah ini sudah ada basis Nasionalis, Komunis dan Agamis.

"Sukorame itu sebagai kiblat. Istilahnya kalau kita lihat konstelasi politik di Blora waktu itu, Sukorame menjadi pusat politik. Di situ ada kekuatan Nasionalis, Komunis dan Agamis," jelasnya.

Kehadiran Cokroaminoto di Desa Tutup untuk pertemuan salah satunya melalui jalur perdagangan, mengingat dia sebagai pemimpin Sarekat Islam.

"Secara historis, waktu itu Sukorame atau Desa Tutup menjadi transendental berpikir Blora bagian barat. Karena di sini ada pasar sebagai tempat jual beli hasil bumi. Dari pedagang di situ ada pengaruh sosial politik," terang dia.

Dia juga berkomentar terkait salah satu rombongan Cokroaminoto adalah Soekarno.

"Itu sempat Cokroaminoto bersama pemuda panggilannya kan Kusno (Soekarno). Nama Bung Karno belum Sukarno, atau mungkin sudah diganti tapi nama kecil masih dibawa," jelas dia.

Dia menjelaskan, Cokroaminoto di Desa Tutup untuk mengadakan sebuah pertemuan dengan anggota Sarekat Islam. Dia menyebutkan bahwa pertemuan diadakan di pertigaan Sukorame tepatnya di lorong sebelah barat hotel K. Masuk sedikit ke utara.

"Berkumpulnya para anggota SI (Sarekat Islam) itu lokasinya di belakang hotel K sebelah barat jalan. Ada halaman lebar, di situ dipakai untuk seperti rapat. Sekarang lahan itu menjadi musala dan rumah," jelas dia.




(ahr/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads