MUI Purworejo Belum Simpulkan Capit Boneka Haram: Nggak Mudah

MUI Purworejo Belum Simpulkan Capit Boneka Haram: Nggak Mudah

Rinto Heksantoro - detikJateng
Kamis, 29 Sep 2022 18:53 WIB
Permainan capit boneka di Kabupaten Purworejo, Kamis (22/9/2022).
Permainan capit boneka di Kabupaten Purworejo, Kamis (22/9/2022). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng.
Purworejo -

Hari ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Purworejo menggelar rapat untuk membahas masalah permainan capit boneka yang diharamkan PC NU Purworejo. Komisi fatwa MUI yang hadir mengaku belum bisa mengambil kesimpulan karena tidak semudah yang dibayangkan.

Rapat yang digelar di sebuah rumah makan di Purworejo itu dihadiri setidaknya sembilan orang dari komisi fatwa MUI Purworejo. Namun, hingga rapat ditutup, peserta rapat belum bisa menghasilkan keputusan bulat terkait hukum permainan capit boneka karena dirasa tidak gampang dalam mengambil keputusan.

"Hari ini belum selesai, nggak semudah yang dibayangkan ternyata," kata Ketua Umum MUI Kabupaten Purworejo, Achmad Hamid AK saat dihubungi detikJateng, Kamis (29/9/2022) petang.


Karena keterbatasan waktu, rencananya rapat akan kembali digelar dalam waktu dekat lantaran hari ini belum ada kesepakatan. Ia berharap agar nantinya bisa memperoleh hasil rapat yang terbaik.

"Sore ini kami sudah rapat, ini baru saja selesai udah mau bubar karena magrib," imbuhnya.

"(Keputusan) Masih dalam pembahasan, masih adu argumentasi begitu. Keputusannya mungkin nunggu beberapa hari. Ini belum rampung pembahasannya sampai sore ini, opo ora hebat, podo pinter-pinter kabeh wonge si (apa nggak hebat, pada pintar-pintar semua si orangnya)," sambungnya.

Diwartakan sebelumnya, dilansir jateng.nu.or.id, permainan capit boneka ini menjadi pembahasan para pengurus PCNU Purworejo. Permainan yang dulu hanya ada di kota dan pusat-pusat perbelanjaan besar, kini merambah dan menjamur di desa-desa daerah Purworejo khususnya.

Anggota Tim Perumus Masalah KH Romli Hasan mengatakan permainan capit ini sangat diminati anak-anak karena memang merekalah pangsa pasarnya. Dengan modal Rp 1.000 untuk menukarkan satu koin, jarang sekali yang mendapatkan hadiah. Meski begitu, banyak anak yang ketagihan dengan permainan tersebut.

"Kita para ulama di NU tergerak untuk membahasnya, sehingga persoalannya menjadi jelas dan orang tua tidak lagi merasa was-was," ujar saat pembahasan bersama Lembaga Bahtsul Masail NU Purworejo di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kemiri, tepatnya di Masjid Besar Al-Firdaus Kauman, Kecamatan Kemiri, Sabtu (17/9) lalu.



Simak Video "Cerita Warga Korban Banjir Bandang di Semarang, Harta Benda Ludes"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/ams)