MUI Purworejo Gelar Rapat Bahas Capit Boneka Haram, Apa Hasilnya?

Rinto Heksantoro - detikJateng
Kamis, 29 Sep 2022 18:02 WIB
Permainan capit boneka di Kabupaten Purworejo, Kamis (22/9/2022).
Permainan capit boneka di Kabupaten Purworejo, Kamis (22/9/2022). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng.
Purworejo -

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo sebelumnya telah menyatakan permainan capit boneka atau claw machine haram. Hari ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Purworejo menggelar rapat untuk membahas masalah itu. Lalu seperti apa hasilnya?

Sebelumnya PCNU Purworejo menyoroti adanya unsur perjudian dalam permainan yang belakangan mulai menjamur di berbagai wilayah ini. Untuk itu dengan tegas PCNU Purworejo menyatakan permainan tersebut haram.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum MUI Kabupaten Purworejo, Achmad Hamid AK mengaku sudah mengetahui tentang pernyataan PCNU Purworejo tersebut. Hari ini pihaknya juga telah merapatkan pernyataan fatwa PCNU tersebut.


"Sore ini kami sudah rapat, ini baru saja selesai udah mau bubar karena maghrib," kata Achmad Hamid saat dihubungi detikJateng, Kamis (29/9/2022) petang.

Rapat yang digelar di sebuah rumah makan di Purworejo itu dihadiri setidaknya sembilan orang dari komisi fatwa MUI Purworejo. Namun, hingga rapat ditutup, peserta rapat belum bisa menghasilkan keputusan bulat terkait hukum permainan capit boneka.

"(Keputusan) masih dalam pembahasan, masih adu argumentasi begitu. Keputusannya mungkin nunggu beberapa hari. Ini belum rampung pembahasannya sampai sore ini, opo ora hebat, podo pinter-pinter kabeh wonge si (apa gak hebat, pada pintar-pintar semua si orangnya)," paparnya.

Rencananya, rapat akan kembali digelar dalam waktu dekat lantaran hari ini belum ada kesepakatan. Ia berharap agar nantinya bisa memperoleh hasil rapat yang terbaik karena tidak gampang dalam mengambil keputusan.

Diwartakan sebelumnya, dilansir dari lamanjateng.nu.or.id, permainan capit boneka ini menjadi pembahasan para pengurus PCNU Purworejo. Permainan yang dulu hanya ada di kota dan pusat-pusat perbelanjaan besar, kini merambah dan menjamur di desa-desa daerah Purworejo khususnya.

Anggota Tim Perumus Masalah KH Romli Hasan mengatakan permainan capit ini sangat diminati anak-anak karena memang merekalah pangsa pasarnya. Dengan modal Rp 1.000 untuk menukarkan satu koin, jarang sekali yang mendapatkan hadiah. Meski begitu, banyak anak yang ketagihan dengan permainan tersebut.

"Kita para ulama di NU tergerak untuk membahasnya, sehingga persoalannya menjadi jelas dan orang tua tidak lagi merasa waswas," ujar saat pembahasan bersama Lembaga Bahtsul Masail NU Purworejo di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kemiri, tepatnya di Masjid Besar Al-Firdaus Kauman, Kecamatan Kemiri, Sabtu (17/9) lalu.



Simak Video "Cerita Warga Korban Banjir Bandang di Semarang, Harta Benda Ludes"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/sip)