Tentang Giyombong, Desa Terpencil yang Dulu Jadi Ibu Kota Jawa Tengah

Rinto Heksantoro - detikJateng
Senin, 08 Agu 2022 16:03 WIB
Kantor pemerintahan Jawa Tengah dan dapur umum yang kini menjadi rumah warga,
Kantor pemerintahan Jawa Tengah dan dapur umum yang kini menjadi rumah warga. (Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng)
Purworejo -

Tak banyak yang tahu, pada tahun 1948 Ibu Kota Jawa Tengah pernah dipindahkan ke Kabupaten Purworejo, tepatnya di Desa Giyombong, Kecamatan Bruno. Lalu seperti apakah suasana bekas pusat pemerintahan Jawa Tengah itu saat ini?

Bagi warga masyarakat Kabupaten Purworejo, Kecamatan Bruno dikenal sebagai daerah terpencil dan bergunung-gunung. Namun sebagian besar pasti tak menyangka jika daerah tersebut dulu pernah dijadikan sebagai Ibu Kota Jawa Tengah.

Ya, pusat Pemerintahan Jawa Tengah pernah dipindahkan ke Desa Giyombong. Desa ini terletak sekitar 45 km ke arah barat laut dari Alun-alun Kota Purworejo. Meski berkelok-kelok, jalan utama menuju kantor Kecamatan Bruno sudah halus dan bisa dilalui kendaraan roda empat.


Selepas dari kantor kecamatan menuju arah Desa Giyombong, jalan akan semakin mengecil dengan jalur naik turun, bahkan sekitar 10 km sebelum tiba di lokasi bekas pusat pemerintahan Jawa Tengah ini, kita harus melewati jalur setapak dengan tanjakan dan turunan ekstrem.

Tokoh masyarakat Desa Giyombong, Supri Yogi Santoso (55), menuturkan Ibu Kota Jawa Tengah sempat berada di desa tersebut pada tahun 1948 selama kurang lebih 4 bulan. Pusat pemerintahan yang terletak di perbukitan itu memiliki kantor pemerintahan, rumah gubernur, hingga lapangan.

Namun, semua bangunan tersebut sekarang sudah tidak ada yang tersisa lagi karena sudah ambruk dan sebagian telah digantikan dengan rumah-rumah warga. Bahkan, rumah dinas gubernur yang waktu itu bernama Wongsonegoro kini telah menjadi pekarangan yang ditanami pohon ketela.

"Dahulu memang di sini di Dusun Mentasari, Desa Giyombong pernah menjadi pusat pemerintahan Jawa Tengah pada tahun 1948 selama 4 bulan, namun kami lupa dari bulan apa. Di sekitar sini ada bangunan kantor pemerintahan, rumah tinggal gubernur, dapur umum, lapangan, dan tempat olahraga," kata Yogi saat ditemui detikJateng di lokasi, Senin (8/8/2022).

Terkesan jauh dan terpencil dari perkotaan, namun daerah Bruno menyimpan potensi alam yang sangat luar biasa. Keindahan alam serta suasana sejuk yang menyergap, membuat siapa pun bakal betah berlama-lama di Bruno.

Jika menuju Desa Giyombong, alangkah indahnya kita juga singgah di Curug Gunung Putri serta Puncak Kahyangan Sigendol yang terletak beberapa kilometer sebelum sampai di Desa Giyombong. Tak salah, jika kita menengok petilasan Ibu Kota Jawa Tengah sebagai destinasi sejarah sembari menikmati keeksotikan alam Bruno.

Setibanya di Desa Giyombong, biasanya nampak kabut tipis melambai-lambai menyambut siapa saja yang datang. Warga setempat juga jarang sekali merasakan gerah lantaran sinar matahari tak mampu menyusup sempurna terhalang mendung yang senantiasa memayungi desa ini.

Angin sepoi-sepoi yang menerpa, membuat suasana semakin sejuk. Dengan mata air alami yang terus mengalir, desa ini nyaris tak pernah mengalami kekeringan meski musim kemarau tiba. Jika ingin merasakan air pegunungan yang dinginnya seperti air es, kita bisa langsung mandi dan menikmati sensasinya.

"Di sini memang suasananya seperti ini, mboten nate sumuk (tidak pernah gerah). Saya yang asli sini saja setiap hari pakai jaket," imbuh Yogi.

Peninggalan Gubernur Wongsonegoro di Giyombong, simak di halaman selanjutnya..