KKN di Desa Giyombong Eks Ibu Kota Jateng, Mahasiswa Ungkap Undercover Story

Tim detikJateng - detikJateng
Selasa, 09 Agu 2022 14:08 WIB
Kantor pemerintahan Jawa Tengah dan dapur umum yang kini menjadi rumah warga,
Kantor pemerintahan Jawa Tengah dan dapur umum yang kini menjadi rumah warga. Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng
Solo -

KKN atau kuliah kerja nyata mahasiswa di desa terpencil tak hanya melahirkan kisah misteri seperti dalam film horor KKN di Desa Penari. Usai KKN di Desa Giyombong, Purworejo, sejumlah mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pun menerbitkan sebuah buku 'Undercover Story'. Berikut ceritanya.

Meski tak setenar novel KKN di Desa Penari karya SimpleMan, buku Undercover Story Desa Giyombong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo yang disusun oleh Aditya Aryo Nugroho dkk atau tim KKN UNS Desa Giyombong ini patut diapresiasi.

Sebab, buku yang ditulis delapan mahasiswa ini mengungkap berbagai kisah nyata tentang sisi lain kehidupan masyarakat Desa Giyombong, desa eks Ibu Kota Jawa Tengah yang jarang diketahui ini.


Meski terbilang tipis, terdiri dari 69 halaman, buku yang diterbitkan Unit Pengelola KKN LPPM UNS pada Maret 2017 ini sarat informasi yang dapat membuka wawasan tentang desa terpencil di pegunungan yang menyimpan sejarah awal Jawa Tengah tersebut. Berikut 5 kisah di antaranya.

1. Persembunyian Pejuang Kemerdekaan

Dalam bab pertama, di Wilayah Perjuangan di Atas Pegunungan Itu, ada desa, disebutkan pada tahun 1945-1949, Bruno menjadi markas persembunyian para pejuang kemerdekaan. Setelah Semarang jatuh ke tangan Belanda pada 1948-1949, ibu kota Provinsi Jawa Tengah dipindahkan ke Bruno dengan Desa Kambangan sebagai pusatnya.

"Desa Kambangan ini terletak bersebelahan dengan Desa Giyombong. Kedua desa ini sama-sama terletak di atas pegunungan dengan hutan yang luas. Diketahui dari buku Bunga Rampai Kisah-kisah Kejuangan 45 di Purworejo, wilayah ini memiliki nilai sejarah perjuangan yang kuat." (hlm 7).

2. Desa Terjauh di Purworejo

Desa Giyombong berada di wilayah Kecamatan Bruno, kecamatan terjauh dari pusat Kabupaten Purworejo atau berjarak sekitar 35 kilometer. Sedangkan Giyombong sendiri disebutkan sebagai desa yang terjauh dari pusat Kecamatan Bruno, yaitu sekitar 17 kilometer.

"Desa ini terletak di dataran tinggi yang dikelilingi lereng pegunungan dengan ketinggian sekitar 800-1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo." (hlm. 9)
Secara topografis Desa Giyombong merupakan daerah iklim tropis basah. Rata-rata suhu keseharian dengan suhu antara 19-25 derajat celsius dengan rata-rata tingkat kelembaban 73%.

3. Tanah Subur dari Pelapukan Batuan

Desa Giyombong berada di atas tanah pegunungan yang terbentuk dari pelapukan batuan. Tanahnya tergolong subur. Terdapat bermacam kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan di sana.

"Hasil pertanian Desa Giyombong antara lain ada nira aren, kopi, jahe, sengon putih, kambing, ikan dan lain-lain. Masyarakat Giyombong menanam pohon kopi, aren, jahe, sengon putih, dan buah-buahan yang lain." (hlm 22).

4. Warisan Emas Putih Pohon Aren

Desa Giyombong bisa dibilang sebagai desa penghasil gula aren. Pohon-pohon aren yang hidup tersebar di area desa menjadi sarana penjemput rezeki bagi warga desanya. Tiap hari, warga yang punya pohon aren melakukan penderesan atau mengambil nira dari badhig atau dangu (bunga muda pohon aren).

"Kelebihan dari gula aren Desa Giyombong adalah kemurniannya yang terjaga 100% tanpa campuran bahan apapun. Gula yang dihasilkan benar-benar dari nira pohon aren tanpa campuran air atau bahan apapun yang biasanya digunakan oleh produsen di tempat lain." (hlm 23).

5. Kopi Giyombong Perpaduan Lampung

Di Desa Giyombong juga terdapat tanaman kopi yang tumbuh dan diproduksi secara kecil atau skala industri rumah tangga. Tanaman kopi yang hidup di Giyombong ada varietas lokal dan campuran dari varietas Lampung dan varietas lokal jenis robusta.

"Bagian atas memakai varietas Lampung yang buahnya lebih besar dan bagian bawah varietas lokal yang memiliki keunggulan berakar kuat. Walaupun kopi lokal berbuah lebih kecil namun sebenarnya hasil kuantitatif keseluruhan buah per pohon tidak kalah jauh dengan hasil kopi dari Lampung." (hlm 24).



Simak Video "Kebakaran di UNS Solo, Mahasiswa Dievakuasi dari Jendela"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/apl)