Anak Enggan Bercerita Saat Jadi Korban Bullying, Kenali Penyebabnya

Tim detikEdu - detikJateng
Rabu, 27 Jul 2022 01:00 WIB
One young elementary school girl (age 7)  wearing school uniform and backpack sitting on a corridor floor crying. Childhood and education concept. copy space
Ilustrasi. Foto: Thinkstock
Solo -

Anak-anak rentan menjadi korban bullying atau perundungan di lingkungannya, baik di pertemanan kampung maupun sekolah. Namun, biasanya mereka cenderung memilih diam dan enggan menceritakan hal yang dialami, termasuk kepada orang tuanya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan anak enggan menceritakan pengalaman buruknya itu. Padahal, bullying bisa terus berlanjut tanpa ada penanganan yang tepat. Dampaknya bisa bermacam-macam, bahkan bisa berujung depresi hingga kematian.

Dikutip dari detikEdu, seorang konselor Nicole Macquet menjelaskan beberapa penyebab anak memilih diam saat mengalami perundungan dari teman-temannya.


1. Korban Bullying Tak Ingin Dicap Pengadu

Anak-anak yang menjadi korban bullying atau perundungan enggan bercerita masalahnya ke orang tua lantaran enggan dicap sebagai anak yang suka mengadu. Mereka khawatir stigma tersebut akan menjadi bahan baru bagi teman-temannya untuk melanjutkan perundungan.

Kemungkinan tersebut memperlihatkan bahwa orang tua perlu untuk terus membangun komunikasi yang baik dengan anak. Tujuannya agar mereka lebih terbuka dengan hal-hal yang dialaminya tiap hari.

2. Khawatir Orang Tua Terlalu Mencampuri

Meski mengalami perundungan yang sangat tidak mengenakkan, seorang anak terkadang justru lebih tertekan saat orang tuanya terlalu reaktif dalam merespons perundungan yang dialami anaknya.

Ketakutan itu membuat anak memilih untuk diam. Mereka takut situasi akan menjadi lebih buruk.

3. Tertekan Rasa Malu

Seorang anak yang mengalami perundungan biasanya tertekan oleh rasa malu. Bercerita kepada orang lain, termasuk orang tua, akan menambah rasa malu bagi mereka.

Tanda-tanda anak menjadi korban bullying di halaman berikutnya