Pendiri Dinasti Mangkunegaran yang Menggentarkan 3 Kekuatan Besar di Jawa

Tim detikJateng - detikJateng
Minggu, 06 Mar 2022 10:50 WIB
Patung di Taman Budaya Tionghoa yang berada di Taman Mini, Jakarta. Singseh atau Tan Sin Ko, Raden Mas Said atau Mangkunegoro 1, Raden Panji Margono, raden Tumenggung Widyaningrat Atau Oey Ing Kiat (bupati Lasem), Sepanjang atau Souw Phan Ciang. Rachman Haryanto/detikcom.
Patung Raden Mas Said di Taman Budaya Tionghoa di Taman Mini, Jakarta. Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Solo -

Sejak remaja dia sudah memilih jalan hidup sebagai pejuang. Pada umur 15 tahun, dia bertekad turut melawan VOC dalam Geger Pacinan.

Berawal dari pertempuran yang dipicu oleh pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia pada 1740 itu, dia menjadi pendiri sekaligus 'raja' pertama dinasti Mangkunegaran, meski itu bukanlah cita-cita awal perjuangannya.

Masa Kecil Mas Said

Raden Mas Said namanya, Pangeran Sambernyowo julukannya. Putra sulung Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegoro dan Raden Ayu Wulan ini lahir pada 7 April 1725. Pada umur tiga tahun, dia sudah ditinggal kedua orang tuanya.

Ayahnya, Arya Mangkunegoro, disebut-sebut sebagai pewaris tahta kerajaan Mataram. Namun, karena sikap kerasnya menentang VOC, Arya Mangkunegoro diasingkan ke Tanjung Harapan (Afrika Selatan) pada 1728. Tak lama kemudian, istrinya meninggal dunia.

Sejak itu Mas Said terlunta-lunta di lingkungan Keraton Kartasura meski sang raja, Pakubuwono (PB) II, adalah pamannya sendiri. Tak seperti anak bangsawan pada umumnya, sejak kecil Mas Said terbiasa bermain dengan abdidalem dan rakyat kecil.

"Tidak jarang ia tidur di kandang kuda, karena memang situasi dibuat demikian oleh Patih Danurejo yang selalu khawatir, Raden Mas Said akan membalas dendam kepadanya," tulis Eko Punto Hendro dalam jurnalnya, Strategi Kebudayaan Perjuangan Pahlawan Nasional Pangeran Sambernyowo (Endogami: Jurnal Ilmiah kajian Antropologi Vol 1 No 1, 2017:42).

Dari Geger Pacinan

Pertempuran yang berpangkal di Batavia ini merembet ke Semarang hingga ke Kartasura pada 1741 - 1742. Ribuan orang Jawa pun turut bergabung dengan orang-orang Tionghoa.

Selain bersifat anti-VOC, Ricklefs mengemukakan, perang tersebut juga bersifat anti-PB II. Sebab, PB II yang semula ikut menyerang markas VOC di Semarang dicurigai berbalik mendukung VOC (Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, M.C. Ricklefs, 2007:212).

Walhasil, Keraton Kartasura pun diserbu pada 1742 sehingga PB II menyelamatkan diri ke Ponorogo. Berkat pertolongan 'bersyarat' dari VOC dan Cakraningrat IV (penguasa Madura), PB II bisa merebut kembali Kartasura yang hancur.

Geger Pacinan akhirnya mereda setelah pimpinannya, Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning - cucu Amangkurat III yang 'dibuang' VOC, menyerah pada 1743. Namun, masih ada beberapa tokoh kunci yang belum tunduk, termasuk Mas Said.

Sementara itu, PB II memilih mendirikan istana baru di Desa Sala, Kasunanan Surakarta Hadiningrat. "Bangunan baru ini selesai pada 1745 dan kepindahan resminya pada Februari 1746" (Ricklefs, 2007: 217).

Sampai Paliyan Nagari

Meski sudah menempati istana baru, PB II masih saja galau. Sebab, Mas Said dan sejumlah pangeran lain terus bergerilya. PB II pun membuat sayembara berhadiah 3.000 cacah tanah di Sukowati (Sragen) untuk menyingkirkan Mas Said dan pasukannya.

Pangeran Arya Mangkubumi yang mengemban tugas itu, meski dia sebelumnya tak berpihak pada Kartasura saat Geger Pacinan.

"Meskipun Mangkubumi berhasil, para penasihat PB II menasihatinya agar tidak memenuhi janji yang telah dibuatnya" (Ann Kumar dalam jurnalnya di buku Cultural Contact and Textual Interpretation, C.D. Grijns & S.O. Robson, 1986:10).

Pangeran Mangkubumi akhirnya meninggalkan PB II dan bersekutu dengan Mas Said. Menurut Ricklefs, kepergian Mangkubumi karena kecewa pada PB II yang terpaksa menyewakan daerah kekuasaannya di pesisir Jawa kepada VOC dengan tarif murah tanpa berkonsultasi dengan dirinya dan pembesar keraton lainnya.

Pada pengujung 1749, PB II yang jatuh sakit menyerahkan kedaulatan kerajaannya kepada VOC yang berujung pada pengangkatan sang putra mahkota sebagai PB III pada 15 Desember 1749 (Ricklefs, 2007:220).

Perjanjian Giyanti

Namun, sebelum penobatan PB III terlaksana, pada 12 Desember 1749, Mangkubumi diangkat sebagai raja oleh pengikutnya di markasnya di Mataram, Jogja. Mangkubumi menggunakan gelar Susuhunan Pakubuwana. Tak lama kemudian, Raden Mas Said diangkat menjadi patihnya.

Sejak itu, pertempuran antara Mataram dan Surakarta semakin sengit pada 1750 -1752. VOC dapat mempertahankan PB III, tapi tak mampu menundukkan kerajaan lawannya. Begitu juga sebaliknya, meski meraih banyak kemenangan, Mataram tak mampu menyingkirkan PB III dari Surakarta.

Kebuntuan itu berlanjut sampai 1752, hingga terjadi perpecahan antara Mangkubumi dan Mas Said karena perbedaan visi. VOC tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu yang ujung-ujungnya kita kenal dengan adanya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Dalam perjanjian itu, VOC memberikan separuh bagian kerajaan Surakarta kepada Mangkubumi dan mengakui gelar barunya, Sultan Hamengkubuwono (HB) I (Ricklefs, 2007: 220-223).

Namun, perang belum berakhir. Mas Said belum menyerah. Kini dia sendirian menghadapi tiga kekuatan besar, yaitu VOC, PB III, dan HB I. Tapi dia masih cukup kuat menyerang. Bahkan, pada Februari 1756, Mas Said dan pasukannya hampir berhasil membakar istana baru HB I di Jogja.

Bagaimana kisah selanjutnya, simak hanya di detikjateng.com.



Simak Video "Tarik Minat Wisatawan, Pura Mangkunegaran Solo Adakan Latihan Tari"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/mbr)