Di persimpangan Jalan Laswi yang sibuk, berdiri sebuah bangunan dengan arsitektur futuristik yang mencolok. Bandung Creative Hub (BCH), begitu namanya dikenal, bukan sekadar monumen visual. Bagi anak muda Bandung, gedung ini adalah tempat pelarian untuk produktif di tengah mahalnya harga sewa ruang kerja atau kopi di kafe-kafe kekinian.
BCH hadir sebagai jawaban atas keresahan mahasiswa ataupun pekerja lepas yang membutuhkan ruang untuk menelurkan ide tanpa harus merogoh kocek. Fasilitas yang disediakan pemerintah kota ini menjadi magnet tersendiri, terutama bagi mereka yang terbiasa bekerja dengan laptop dan koneksi internet.
Salah satu pengunjung setia yaitu Azmi (23). Ia mengaku sudah sekitar lima kali mengunjungi BCH. Baginya, tempat ini telah menjadi rumah kedua untuk menyelesaikan berbagai tugas dan melakukan pertemuan kecil dengan rekan-rekannya. Azmi melihat BCH sebagai solusi cerdas di tengah tren coworking space yang biasanya menagih tarif hanya untuk sebuah meja dan koneksi internet, gedung ini justru membuka pintunya lebar-lebar tanpa syarat biaya sepeser pun.
"Tempat ini kan sebenarnya public space yang emang buat kita bisa tetap produktif, buat kita ngerjain sesuatu hal tapi nggak perlu berbayar. Selain tempatnya nyaman, fasilitas penunjang kaya WiFi juga ada, dan yang paling penting buat yang pengguna laptop, stop kontaknya juga banyak," ujar Azmi saat ditemui oleh detikJabar (10/3/2024).
Namun, pengalaman Azmi di BCH masih terbatas pada area publik. Lantaran domisilinya tercatat sebagai warga Kabupaten Bandung, langkahnya terhenti di meja registrasi untuk fasilitas khusus seperti studio musik atau ruang desain yang memang diprioritaskan untuk pemegang KTP Kota Bandung. Alhasil, ia lebih banyak menghabiskan waktu di area terbuka yang bebas diakses siapa saja.
Meski ada batasan administratif, Azmi mengaku sangat terbantu dengan adanya BCH. Menurutnya, atmosfer di dalam gedung sangat mendukung konsentrasi, terutama bagi para lulusan baru (fresh graduate) yang sedang merintis karier namun belum memiliki kantor tetap. Ketenangan menjadi nilai utama yang ia rasakan selama berada di sana.
"Kalau bicara kenyamanan, sejauh ini sih udah sangat nyaman dan fasilitas pendukungnya oke. Cuman ada sedikit kendala di WiFi, mungkin karena ini public space, jadinya sering lemot. Kalau lagi ada meeting, kadang ngelag. Jadi antisipasinya aku masih suka pake kuota internet sendiri aja biar aman," tambahnya.
Selama menghabiskan waktu di BCH, ia justru lebih sering menepi di sudut-sudut arsitektur gedung. Area balkon yang terbuka dan deretan anak tangga ikonik gedung ini menjadi tempat pilihannya karena memberikan perspektif ruang yang lebih lega dibandingkan ruang tertutup. Ia juga memberikan catatan mengenai rasio antara jumlah meja dan kursi yang menurutnya belum seimbang.
"Kayaknya jumlah kursinya perlu ditambah lagi supaya lebih banyak orang yang bisa duduk dengan enak. Karena kalau meja menurutku sudah cukup lebar dan memadai. Tapi kursinya masih dikit, terus masalah WiFi yang agak lemot juga. Harapan aku sih, mungkin akses studio ke depannya bisa diperluas buat kita yang domisilinya di luar Kota Bandung, biar KTP kabupaten juga bisa ngerasain fasilitas lengkapnya," harap Azmi.
Simak Video "Video: Masyarakat Desak Hadirnya Ruang Publik yang Aman dari Kekerasan"
(mso/mso)