Cerita Arita Hadapi Banjir Bandung, Cari Jalan Tikus Demi Kerja

Cerita Arita Hadapi Banjir Bandung, Cari Jalan Tikus Demi Kerja

Wisma Putra - detikJabar
Minggu, 26 Apr 2026 08:00 WIB
Kondisi banjir di Kampung Cijagra, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Minggu (12/4/2026).
Ilustrasi banjir di Bojongsoang, Bandung. Foto: Yuga Hassani/detikJabar
Bandung -

Namanya Arita Kanindia, seorang ibu muda dengan satu anak yang merupakan warga Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Perempuan berusia 31 tahun yang bekerja sebagai karyawan swasta di kawasan Cikapundung, Kota Bandung ini, sering mengeluhkan bencana banjir yang rutin mengepung wilayahnya setiap musim hujan tiba.

Sosok jangkung berambut pendek itu selalu didera rasa cemas setiap kali hujan deras mengguyur. Bayangan kemacetan parah dan genangan air selalu menghantuinya dalam perjalanan pulang kerja dari arah Kota menuju Kabupaten Bandung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Senyum manis perempuan itu seketika pudar, berganti kerutan di dahi saat melihat Jalan Baleendah-Bojongsoang lumpuh terendam banjir.

"Capek banget, capek badan, capek pikiran," kata Dia, sapaan karib Arita Kanindia kepada detikJabar belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Dia mengungkapkan, untuk sampai ke tempat kerjanya, ia biasa melintasi Jalan Raya Laswi Ciparay yang nantinya tembus ke Jalan Raya Baleendah-Bojongsoang, lalu berlanjut ke arah Buahbatu, Kota Bandung.

"Biasanya titik banjirnya di Cikarees sama di Ampera Bojongsoang, tapi akhir-akhir ini kalau intensitas hujan tinggi di jalan Siliwangi juga banjir," kata Dia.

Jika banjir melanda namun jalan masih bisa ditembus kendaraan roda dua, Dia harus berangkat lebih pagi. Hal itu dilakukan karena jalur tersebut dipastikan bakal mengalami kemacetan panjang.

"Pergi kerja harus lebih pagi dan cari jalan alternatif," ujarnya.

Dia menyebut sering melintasi jalur alternatif via Jembatan Haurhapit yang menghubungkan Baleendah dan Bojongsoang. Meski akses jalan tersebut rusak dan becek saat musim hujan, ia terpaksa memilih jalur itu demi menghindari macet.

"Jalannya agak rusak, becek dan licin. Tapi seengganya nggak macet-macetan dan bisa sampai tempat kerja. Terus masih banyak yang belum tahu jalur itu," ungkapnya.

Bukan setahun dua tahun Dia mengalami kondisi demikian. Sejak bekerja di Kota Bandung hampir 10 tahun silam, ia menyebut banjir yang terjadi pekan ini merupakan salah satu yang terparah.

"Hampir setiap tahun banjir kayak gini tuh dan mungkin tahun ini paling parah karena hujannya deras terus, jadi banjir sudah surut naik lagi, naik lagi," jelasnya.

"Kalau banjir gini tuh jadi double capeknya, kena macet berjam-jam dan ujungnya putar balik," tambahnya.

Selamat dari Maut Jembatan Roboh

Dia menyebut, saat banjir melanda, banyak jalan alternatif yang bisa dilintasi. Salah satunya adalah jembatan-jembatan di atas aliran Sungai Citarum yang menghubungkan wilayah Bojongsoang dan Baleendah. Namun, melintasi jembatan tersebut memiliki risiko tinggi, termasuk ancaman roboh.

Dia mengisahkan pengalamannya lolos dari maut saat Jembatan Cijeruk yang menghubungkan Bojongsoang-Baleendah roboh pada Jumat, 23 Mei 2024, sekitar pukul 19.15 WIB. Jembatan apung tersebut ambruk lantaran tidak kuat menahan beban ratusan sepeda motor yang melintas secara bersamaan.

Beruntung, ia sudah lebih dulu melintas dengan selamat sebelum insiden terjadi. Ia baru menyadari kejadian mengerikan itu setibanya di rumah. Dia mengaku sangat terkejut sekaligus bersyukur karena merasa telah diselamatkan dari maut.

"Waktu Jembatan Cijeruk masih kayu terkahir yang roboh pas aku lewatin selamat alhamdulilah. Pas aku lewat udah miring banget bunyi-bunyi, eh sampai rumah lihat berita jemabatannya roboh," tuturnya.

Saat banjir melanda, Dia selalu memantau media sosial untuk mengetahui informasi terkini. Ia tak pernah memilih jalan memutar yang terlalu jauh seperti via Rancaekek-Cileunyi atau Arjasari-Banjaran-Kopo. Jika banjir benar-benar besar, ia lebih memilih untuk tidak berangkat bekerja.

"Kalu lagi musim kaya gini biasanya selalu mantengin instagram pasti banyak info soal banjir bisa lewat atau enggak, bosen dan capek tapi gimana lagi ya harus di jalanin, mau ngeluh tapi kadang liat anak-anak yang kebanjiran ada happy, jadi malu kalu mau ngeluh," tutur Dia.

"Harapan mungkin sama kaya orang-orang, masa harus seperti ini tiap tahunnya," pungkasnya.

(wip/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads