Bandung Creative Hub, Ruang Produktif Anak Muda

Bandung Creative Hub, Ruang Produktif Anak Muda

Firyal Hanan Maulida - detikJabar
Rabu, 11 Mar 2026 10:00 WIB
Bandung Creative Hub
Bandung Creative Hub (Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar).
Bandung -

Di persimpangan Jalan Laswi yang sibuk, berdiri sebuah bangunan dengan arsitektur futuristik yang mencolok. Bandung Creative Hub (BCH), begitu namanya dikenal, bukan sekadar monumen visual. Bagi anak muda Bandung, gedung ini adalah tempat pelarian untuk produktif di tengah mahalnya harga sewa ruang kerja atau kopi di kafe-kafe kekinian.

BCH hadir sebagai jawaban atas keresahan mahasiswa ataupun pekerja lepas yang membutuhkan ruang untuk menelurkan ide tanpa harus merogoh kocek. Fasilitas yang disediakan pemerintah kota ini menjadi magnet tersendiri, terutama bagi mereka yang terbiasa bekerja dengan laptop dan koneksi internet.

Salah satu pengunjung setia yaitu Azmi (23). Ia mengaku sudah sekitar lima kali mengunjungi BCH. Baginya, tempat ini telah menjadi rumah kedua untuk menyelesaikan berbagai tugas dan melakukan pertemuan kecil dengan rekan-rekannya. Azmi melihat BCH sebagai solusi cerdas di tengah tren coworking space yang biasanya menagih tarif hanya untuk sebuah meja dan koneksi internet, gedung ini justru membuka pintunya lebar-lebar tanpa syarat biaya sepeser pun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tempat ini kan sebenarnya public space yang emang buat kita bisa tetap produktif, buat kita ngerjain sesuatu hal tapi nggak perlu berbayar. Selain tempatnya nyaman, fasilitas penunjang kaya WiFi juga ada, dan yang paling penting buat yang pengguna laptop, stop kontaknya juga banyak," ujar Azmi saat ditemui oleh detikJabar (10/3/2024).

Bandung Creative HubBandung Creative Hub (Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar).

Namun, pengalaman Azmi di BCH masih terbatas pada area publik. Lantaran domisilinya tercatat sebagai warga Kabupaten Bandung, langkahnya terhenti di meja registrasi untuk fasilitas khusus seperti studio musik atau ruang desain yang memang diprioritaskan untuk pemegang KTP Kota Bandung. Alhasil, ia lebih banyak menghabiskan waktu di area terbuka yang bebas diakses siapa saja.

ADVERTISEMENT

Meski ada batasan administratif, Azmi mengaku sangat terbantu dengan adanya BCH. Menurutnya, atmosfer di dalam gedung sangat mendukung konsentrasi, terutama bagi para lulusan baru (fresh graduate) yang sedang merintis karier namun belum memiliki kantor tetap. Ketenangan menjadi nilai utama yang ia rasakan selama berada di sana.

"Kalau bicara kenyamanan, sejauh ini sih udah sangat nyaman dan fasilitas pendukungnya oke. Cuman ada sedikit kendala di WiFi, mungkin karena ini public space, jadinya sering lemot. Kalau lagi ada meeting, kadang ngelag. Jadi antisipasinya aku masih suka pake kuota internet sendiri aja biar aman," tambahnya.

Selama menghabiskan waktu di BCH, ia justru lebih sering menepi di sudut-sudut arsitektur gedung. Area balkon yang terbuka dan deretan anak tangga ikonik gedung ini menjadi tempat pilihannya karena memberikan perspektif ruang yang lebih lega dibandingkan ruang tertutup. Ia juga memberikan catatan mengenai rasio antara jumlah meja dan kursi yang menurutnya belum seimbang.

"Kayaknya jumlah kursinya perlu ditambah lagi supaya lebih banyak orang yang bisa duduk dengan enak. Karena kalau meja menurutku sudah cukup lebar dan memadai. Tapi kursinya masih dikit, terus masalah WiFi yang agak lemot juga. Harapan aku sih, mungkin akses studio ke depannya bisa diperluas buat kita yang domisilinya di luar Kota Bandung, biar KTP kabupaten juga bisa ngerasain fasilitas lengkapnya," harap Azmi.

Cerita berbeda datang dari Anissa (18). Remaja ini baru pertama kali menginjakkan kaki di gedung penuh warna ini. Ketertarikannya muncul setelah melihat berbagai ulasan estetik di media sosial TikTok. Bersama seorang temannya, Anissa datang dengan ekspektasi tinggi untuk mengerjakan tugas kuliah dan beberapa proyek desainnya.

Anissa mencermati bahwa visual yang ia lihat di layar ponsel hampir serupa dengan kenyataan, namun ia menyadari bahwa manajemen ruang menjadi tantangan tersendiri saat pengunjung sedang membeludak.

"Aku sih sebenarnya tau tempat ini dari TikTok, dan emang tampilannya sesuai sih sama yang ada di videonya. Cuman tantangannya karena kita belum dapet tempat duduk nih, jadi aku belum ngerasa beneran nyaman banget. Kalau di TikTok kan keliatannya luas, mungkin nanti kalau aku sudah beneran dapet tempat duduk dan meja, ekspetasi aku baru benar-benar terpenuhi," ungkap Anissa sambil memandang sekeliling saat berbincang dengan detikJabar (10/3/2024).

Bagi Anissa, aspek paling menonjol dari BCH adalah keberadaan titik-titik pengisian daya listrik yang banyak. Di matanya, ketersediaan stop kontak adalah nyawa utama. Selain itu, ia memuji tingkat keheningan di area public space yang sangat mendukung fokus kerja.

"Menurutku tempat ini cocok buat kerja kelompok. Selain itu, buat anak-anak yang introvert yang butuh waktu sendiri buat fokus, BCH pas sih karena hening. Tapi ada satu minusnya yang aku rasain, karena lokasinya di pinggir jalan besar, suara bising dari jalanan kadang masih terdengar," jelas Anissa.

Bandung Creative HubBandung Creative Hub (Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar).

Menutup percakapan, Anissa menekankan betapa pentingnya keberadaan ruang publik seperti BCH bagi masyarakat luas. Ia berharap fasilitas ini bisa terus dikembangkan, terutama dari segi kapasitas furnitur agar mampu menampung antusiasme pengunjung yang terus meningkat setiap harinya.

"Saran dari aku sih mungkin lebih ke fasilitas fisiknya yang perlu dilengkapi, meja dan kursi diperbanyak supaya kapasitasnya lebih memadai. Jadi kalau pengunjung yang datang banyak, mereka nggak perlu bingung cari tempat lagi. Sayang kan kalau gedungnya sudah gede tapi tempat duduknya masih terbatas," pungkasnya.

Bandung Creative Hub menjadi bukti bahwa pemerintah kota peduli pada ekosistem kreatif. Meski masih ada beberapa catatan mengenai internet dan ketersediaan kursi, tempat di Jalan Laswi ini tetap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin tetap produktif tanpa harus terbebani biaya.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: Masyarakat Desak Hadirnya Ruang Publik yang Aman dari Kekerasan"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads