Kisah Kalibacin dan Deretan Wabah yang Meneror Cirebon

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 26 Jul 2026 10:00 WIB
Wabah penyakit di Cirebon di masa Hindia Belanda. (Foto: Istimewa)
Cirebon -

Cirebon pernah mengalami salah satu bencana kesehatan paling mematikan pada masa Hindia Belanda. Dari wabah malaria hingga rabies pernah meneror Cirebon. Lantas, bagaimana masyarakat dan pemerintah Cirebon saat itu berjuang melawan wabah?

detikJabar merangkum deretan wabah yang terjadi di Cirebon pada masa Hindia Belanda. Berikt wabah yang pernah meneror Cirebon:

Malaria Pernah Lumpuhkan Cirebon

Wabah malaria yang mulai merebak pada awal abad ke-19 tidak hanya menyebabkan ribuan kematian, tetapi juga melumpuhkan kehidupan masyarakat hingga menarik perhatian dunia internasional.

Berbagai arsip surat kabar Hindia Belanda dan penelitian sejarah mencatat besarnya dampak wabah tersebut. Salah satunya dimuat dalam De Locomotief edisi 15 September 1926 yang mengutip jurnal medis karya J.M.H. van Dorssen. Dalam jurnal itu disebutkan, epidemi malaria pada 1805 merenggut nyawa sekitar tiga perempat penduduk Cirebon.

Sementara itu, jurnal Belajar dari Sejarah Cirebon karya Tati Rohayati mencatat, sejak kemunculan wabah pada 1805 hingga Januari 1882, sebanyak 3.900 orang meninggal akibat malaria. Jumlah korban terus bertambah dan pada Mei 1882 tercatat mencapai 10.919 orang.

Kondisi lingkungan Cirebon saat itu dinilai memperparah penyebaran malaria. Dokter bedah yang bertugas di Cirebon, Isaach Douglas, menggambarkan Kalibacin sebagai sungai yang mengeluarkan bau busuk ke seluruh kota. Air sungai tersebut bahkan tidak layak digunakan untuk memasak sepanjang tahun.

Douglas juga menjadi salah satu korban wabah. Ia kehilangan istri, dua anak, dan seorang kerabat akibat malaria. Pada 1806, ia mengajukan pengunduran diri karena kondisi kesehatannya terus menurun.

Wabah itu juga menghantam kalangan Kesultanan Cirebon. Catatan De Locomotief menyebut Sultan Kasepuhan kehilangan delapan dari sembilan anaknya, sedangkan Sultan Kanoman meninggal akibat epidemi tersebut.

"De heer van Dorssen vermeldt verder nog dat de sultan Kasepochan acht kinderen van de negen verloor, terwijl de sultan Kanoman zelf aan de epidemie ten offer viel..," tulis De Locomotief.

Beberapa tahun kemudian, penyebaran malaria semakin mengkhawatirkan. Surat kabar Het Vaderland edisi 9 Maret 1915 melaporkan kondisi warga miskin di kawasan Prujakan, Pekiringan, dan Pekalipan sangat memprihatinkan. Meski pemerintah telah mengambil langkah penanganan, penyakit malaria dan demam terus menyebar.

"Jumlah korban semakin bertambah hari ke hari, perkampungan menjadi tergenang air akibat hujan terus menerus. Seorang dokter dari Batavia mengatakan, kondisinya sangat serius," tulis De Locomotief.

Kasus malaria kemudian ditemukan di sejumlah wilayah lain, seperti Kanggraksan, Ciledug, Kapetakan, Losari, Indramayu, hingga Kuningan. Anak-anak sekolah di daerah dataran rendah pun ikut terdampak.

Penelitian yang dimuat Algemeen Handelsblad edisi 22 Juni 1925 menyebut angka kematian akibat malaria meningkat hingga tiga kali lipat pada 1924. Penyebab utamanya diduga berasal dari kelalaian serta pencemaran lingkungan yang meluas.

"Penyelidikan medis terhadap wabah malaria yang tiba-tiba di Cheribon menunjukkan bahwa hal itu disebabkan oleh kelalaian dan polusi yang ekstensif. Angka kematian meningkat tiga kali lipat pada tahun 1924," tulis Algemeen Handelsblad.

Meningkatnya jumlah korban membuat Pemerintah Hindia Belanda mulai mengambil langkah penanganan. Dewan Kota Cirebon mengalokasikan dana sebesar 5.000 gulden untuk memberantas malaria melalui pengeringan kolam dan pengajuan subsidi tambahan sebesar 15.000 gulden kepada pemerintah.

Sebelumnya, pemerintah juga menyetujui pembangunan sistem pembuangan limbah dengan nilai sekitar 455.000 gulden sebagai bagian dari upaya memperbaiki sanitasi kota.

Dalam penanganan wabah, Dr. Scholl memimpin pengendalian malaria di wilayah Kapetakan, sedangkan Dr. Swellengrebel melakukan penelitian terhadap nyamuk dan penderita malaria untuk mengetahui penyebab penyebaran penyakit.

Pegiat sejarah Cirebon, Putra Lingga Pamungkas, mengatakan kondisi lingkungan menjadi penyebab utama mudahnya penyakit berkembang di Cirebon pada awal 1900-an.

"Sehingga dampaknya timbul beberapa penyakit seperti malaria. Kemudian, pemerintah Hindia Belanda di Cirebon menangani serius hal ini dengan cara menutup Kalibacin yang sekarang menjadi Jalan Merdeka, mendirikan rumah sakit Gunung Jati tahun 1917," tutur Lingga.

Menurut Lingga, nama Kalibacin berasal dari kata bacin yang berarti bau busuk. Sungai tersebut kemudian ditimbun pada masa pemerintahan wali kota pertama Cirebon sebagai bagian dari upaya memperbaiki sanitasi kota.

Dalam jurnal Modernisasi Kota dan Bencana Wabah Malaria di Cirebon Tahun 1930-an karya Imas Emalia disebutkan, pada 1933 sebanyak 1.618 pasien malaria menjalani perawatan di Rumah Sakit Oranje Cirebon. Pemerintah membagikan pil kina kepada pasien dan keluarganya melalui tenaga kesehatan dan dokter.

Pemerintah juga menambah jumlah dokter dan mantri, memperbaiki sungai serta jalan, hingga memasang pompa air di sejumlah titik. Berbagai langkah tersebut, ditambah penyemprotan dan kampanye kebersihan, berkontribusi terhadap penurunan jumlah korban malaria pada pertengahan abad ke-20.




(sud/sud)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork