Pesona Kuningan 1918: 'Eropa Kecil' di Kaki Gunung Ciremai

Lorong Waktu

Pesona Kuningan 1918: 'Eropa Kecil' di Kaki Gunung Ciremai

Fahmi Labibnajib - detikJabar
Sabtu, 11 Jul 2026 09:00 WIB
Pesona Kuningan
Pesona Kuningan (Foto: Fahmi Labibnajib/detikJabar).
Kuningan -

Kabupaten Kuningan merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang dianugerahi panorama alam memukau. Terletak di kaki Gunung Ciremai dengan beragam objek wisata alam, Kuningan menawarkan suasana yang nyaman serta pemandangan yang indah.

Keindahan Kabupaten Kuningan telah diakui sejak masa Hindia Belanda. Hal ini terdokumentasi secara mendalam dalam laporan seorang jurnalis koresponden pada surat kabar Hindia Belanda, De Locomotief, edisi 28 Maret 1918.

Dalam surat kabar tersebut, dikisahkan perjalanan seorang koresponden dari Cirebon menuju Kuningan pada tahun 1918. Pada musim kemarau yang cerah, ia memutuskan menuju kaki Gunung Ciremai guna menghindari cuaca panas dan ancaman malaria di wilayah Pantai Utara Cirebon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kala itu, meski nama Kuningan sudah dikenal, penggunaannya belum seluas sekarang. Mengingat lokasinya yang berbatasan langsung dengan Cirebon, masyarakat lebih sering menyebut wilayah tersebut sebagai dataran tinggi Cirebon.

"Saya ingin menceritakan sedikit tentang daerah dataran tinggi Cirebon yang masih sangat jarang dikenal dan hanya sesekali dikunjungi oleh penduduk dari daerah lain di Jawa," tulis surat kabar De Locomotief edisi 28 Maret 1918.

ADVERTISEMENT

Lantaran belum tersedianya jalur kereta api maupun bus menuju Kuningan, wisatawan dari luar kota biasanya turun di Stasiun Cirebon. Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan kereta kuda kecil (karretje) atau mobil pribadi.

"Meskipun belum ada jalur kereta api yang menuju ke daerah pedalaman yang makmur ini, dan bus dari pihak S.S. (Staatsspoorwegen - Perusahaan Kereta Api Negara) masih belum kunjung tersedia, kawasan ini telah terbuka berkat jalan-jalannya yang indah. Daerah ini pun mudah dicapai dari Cirebon dengan menggunakan kereta kuda kecil (karretje) maupun mobil," tulis surat kabar tersebut.

Meskipun hanya dapat ditempuh dengan kereta kuda atau mobil, pengunjung akan disuguhi panorama pegunungan yang indah serta jalanan berkelok yang menanjak setelah menempuh jarak 9 kilometer dari Cirebon.

Usai melewati tanjakan berliku, pengunjung akan menjumpai desa-desa makmur dengan persawahan subur dan rumah penduduk yang dihiasi tanaman bunga kastuba. Di titik ini, terdapat persimpangan menuju Linggarjati. Jika seseorang berbelok ke jalan kecil di sebelah kanan, ia akan tiba di wilayah tersebut.

"Jalanan kemudian berliku-liku lebih jauh melewati sawah-sawah yang subur dan desa-desa yang makmur seperti Tjibeher (Beber) dan Tzilimoes (Cilimus), dengan pagar-pagar tanaman yang dipenuhi bunga kastuba (poincettia) yang menyala merah dan bunga marigold (mary-gold) yang cerah. Jika seseorang berbelok ke jalan kecil di sebelah kanan, maka ia akan sampai di Linggajati, tempat peristirahatan luar kota (buitenverblijf) milik Residen Cirebon," tulis surat kabar tersebut.

Di Linggarjati, tersedia fasilitas pemandian dan penginapan yang nyaman dengan sarana lengkap. Kejernihan airnya yang menyerupai kristal mendorong didirikannya pabrik es batu di lokasi tersebut. Tak jauh dari sana, terdapat daerah Sangkanurip yang menawarkan pemandian air panas belerang serta penginapan. Pemandian air panas ini kerap dikunjungi oleh warga Tionghoa karena diyakini memiliki khasiat penyembuhan.

Setelah melewati Linggarjati dan Sangkanurip, pengunjung barulah tiba di pusat Kota Kuningan. Pada masa itu, Kuningan dikategorikan sebagai wegdorp atau daerah pedesaan yang berkembang di sepanjang jalan utama. Di sana terdapat alun-alun yang asri dengan latar belakang Gunung Ciremai yang megah. Di pusat kota juga berdiri dua hotel, salah satunya adalah Florahotel yang terletak di sisi selatan kota.

Dari pusat kota, perjalanan berlanjut menuju Cigugur di kaki Gunung Ciremai. Dalam laporannya, sang jurnalis memuji keindahan Kuningan dan menyamakannya dengan Padangsche Bovenlanden (Dataran Tinggi Minangkabau) serta wilayah Belanda bagian selatan.

"Kawasannya sangat kaya akan pemandangan alam yang mengejutkan, air terjun, jembatan-jembatan kecil yang indah, serta desa-desa yang dibangun di atas punggung bukit yang menjorok dengan atap-atap runcing yang mengingatkan kita pada daerah Padangsche Bovenlanden (Dataran Tinggi Minangkabau). Pemandangan alamnya terkadang membuat kita teringat pada wilayah Limburg Selatan di Belanda," tulis surat kabar tersebut.

Lokasinya yang sejuk dengan kontur tanah yang landai menarik minat banyak pendaki untuk melakukan aktivitas hiking. Laporan tersebut juga menyebutkan keberadaan kolam keramat di Cigugur, yakni Kolam Ikan Dewa. Ikan di kolam tersebut digambarkan menyerupai gurame berukuran besar yang jinak. Populasinya yang padat terkadang menyulitkan pengunjung yang ingin berenang.

Masih di wilayah Cigugur, sekitar 1.000 meter dari perkebunan kesemek, terdapat desa tertinggi bernama Palutungan. Kala itu, Palutungan menjadi lokasi rumah peristirahatan milik seorang tuan tanah sekaligus pengusaha gula bernama Ament. Salah satu komoditas pertanian unggulan di daerah tersebut adalah kentang dengan tekstur yang empuk.

Tidak berhenti di desa puncak, jurnalis tersebut melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Ciremai dengan didampingi seorang kepala desa berusia 36 tahun. Sepanjang pendakian, ia melewati padang rumput, hutan cemara, jalur alang-alang, serta menemukan tanaman langka dan kawah manuk (Goa Walet) sebelum akhirnya mencapai puncak.

"Puncak ini menawarkan pemandangan panorama yang tiada bandingnya atas Jawa Barat dan Jawa Tengah, mulai dari Gunung Gedeh hingga Dieng. Namun, pemandangan ke bawah menuju kawah neraka yang menganga dengan solfatara yang berasap, kolam belerang, dan dinding-dinding yang hangus sungguh sangat mendebarkan," tulis surat kabar tersebut.

Selain mendaki Gunung Ciremai, perjalanan koresponden berlanjut menuju Kadugede hingga Ciamis. Ia mencatat aktivitas penduduk sebagai pekerja batu di sungai dan penarik gerobak di jalanan menanjak. Ia juga mengagumi panorama Waduk Darma serta lembah di perbatasan Kuningan-Majalengka sebelum akhirnya tiba di Panjalu, Ciamis.

Pegiat sejarah Kuningan sekaligus Dosen Sejarah di Universitas Islam Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC), Tendi, menjelaskan bahwa sejak masa Hindia Belanda, Kuningan memang sering menjadi lokasi tempat tinggal atau berlibur bagi warga Eropa. Suasana sejuk dan dingin yang menyerupai iklim di Eropa menjadi alasan utama mereka berkunjung.

"Karena orang Eropa itukan biasa di Eropa dingin dan sejuk. Ketika mereka banyak bekerja di Cirebon ada yang di pabrik gula, pabrik rokok, pelabuhan dan mereka itu refreshing dan membangun perumahan itu di daerah Kuningan. Makanya kampung Belanda lama itu adanya di Linggajati, Sangkanhurip, dan Cigugur. Banyak juga peninggalan makam Belanda di daerah itu, karena tempat itu jadi tempat istirahatnya orang Eropa," pungkas Tendi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menikmati Asiknya Bermain Surfing di Ombak Tinggi Aceh "
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads