Kisah Jacob Ponto, Raja Siau yang Diasingkan di Kuningan

Kisah Jacob Ponto, Raja Siau yang Diasingkan di Kuningan

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Senin, 06 Apr 2026 11:00 WIB
Suasana makam Raja Jacob Ponto di Kuningan
Suasana makam Raja Jacob Ponto di Kuningan. Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar
Kuningan -

Di kawasan pemakaman umum Desa Sangkanurip, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, terdapat sebuah pusara bersejarah milik seorang tokoh yang diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Makam tersebut merupakan tempat peristirahat terakhir Jacob Ponto, seorang Raja asal Siau (Sulawesi Utara) yang menjalani masa pembuangan pada era Hindia Belanda.

Untuk mencapai lokasi makam, pengunjung yang datang dari arah Jalan Baru Lingkar Timur harus melewati akses jalan yang menanjak. Di sepanjang jalur tersebut, suasana asri terasa dengan deretan pepohonan rindang serta pemukiman penduduk setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah melewati bangunan Posyandu, pengunjung akan menemukan struktur makam yang paling mencolok. Makam tersebut dibangun menggunakan material keramik berwarna putih dengan atap genting yang kokoh, serta dikelilingi oleh pagar besi berwarna putih.

Tepat di bagian ujung makam, berdiri batu nisan berukuran besar yang dilengkapi dengan prasasti. Prasasti tersebut memuat keterangan: Raja Jacob Ponto Kerajaan Siam Keresidenan Manado Bertahta Selama Tahun 1851-1890 M yang diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1889 ke Tjirebon dan Wafat pada 3 Mei 1990 di Sangkanurip.

ADVERTISEMENT

Juru kunci makam, Rosta, menjelaskan bahwa wafatnya Jacob Ponto di Kuningan disebabkan oleh penyakit kulit parah yang dideritanya. Saat menjalani masa pengasingan di Cirebon, kondisi kesehatan Jacob Ponto menurun akibat perlakuan tidak manusiawi dari Pemerintah Hindia Belanda selama perjalanan menggunakan kapal menuju lokasi pembuangan.

Karena tidak ada fasilitas pemandian air panas alami di Cirebon, Jacob Ponto disarankan menjalani terapi pengobatan di mata air alami Sangkanurip, Kuningan. Namun, di tengah masa pengobatan tersebut, sang raja mengembuskan napas terakhirnya.

"Asalnya dari Sulawesi. Diasingkan sampai Cirebon. Saat diasingkan, punya penyakit gatal. Karena di Cirebon nggak ada itu air panas. Lalu pergi ke Sangkanurip, Kuningan Sampai di sini diurusin supaya sehat. Tapi malah nggak tahan dan sampai meninggalnya di sini, di Sangkanhurip," tutur Rosta.

Suasana makam Raja Jacob Ponto di KuninganSuasana makam Raja Jacob Ponto di Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Jacob Ponto sendiri merupakan Raja Siau ke-14. Selama masa kepemimpinannya, ia dikenal teguh menolak tunduk kepada otoritas Hindia Belanda. Salah satu bentuk perlawanannya adalah menolak mengibarkan bendera Belanda di halaman istananya, yang memicu kemarahan pihak kolonial.

Setelah berbagai upaya penundukan gagal, Belanda akhirnya menggunakan siasat licik yang serupa dengan penangkapan Pangeran Diponegoro. Belanda mengundang Jacob Ponto untuk datang ke Siau dan menaiki kapal di Pelabuhan Ulu Siau. Namun, setibanya di atas kapal, sang raja justru ditawan dan langsung dibawa menuju pengasingan di Cirebon.

Rosta memaparkan bahwa pada awalnya, identitas makam tersebut sebagai pusara seorang raja tidak diketahui secara luas oleh masyarakat. Status bangsawan Jacob Ponto baru terungkap setelah salah satu keturunannya, GD Ponto datang ke Kuningan pada tahun 1960 untuk memastikan bahwa makam tersebut adalah milik leluhurnya yang wafat dalam pengasingan.

Pada tahun 2018, makam Jacob Ponto direnovasi oleh Pangkalan TNI AL (Lanal) Cirebon seperti yang tertulis dalam keterangan yang ada di depan makam. Hingga saat ini, menurut Rosta, makam tersebut rutin dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah, terutama mereka yang ingin mempelajari sejarah perjuangan Jacob Ponto. Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, nama Jacob Ponto kini diabadikan sebagai nama jalan menuju makam di Desa Sangkanurip, Kuningan.

"Beliau kan pahlawan karena melawan penjajah, Raja Siau Muslim ke 14 yang sedang berobat air panas di Sangkanhurip. Dari kecil kan saya sudah di sini, kebanyakan yang ziarah itu dari luar kota bahkan luar pulau, kayak keturunannya dari Sulawesi itu masih ada yang ziarah ke sini," pungkas Rosta.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads