Infografis: Kisah Angin Kumbang Pembawa Petaka di Cirebon

Infografis: Kisah Angin Kumbang Pembawa Petaka di Cirebon

Tim detikJabar - detikJabar
Senin, 24 Agu 2026 09:00 WIB
Infografis petaka angin kumbang di Cirebon.
Foto: deitkJabar
Cirebon -

Sebagai wilayah pesisir Pantura, Cirebon sejak dahulu dikenal memiliki iklim panas, terutama ketika musim kemarau. Pegiat sejarah dan naskah kuno Farihin menyebut kondisi tersebut bukan fenomena baru. Menurutnya, posisi Cirebon yang berada di kawasan pesisir membuat daerah ini sejak dulu menghadapi suhu panas.

"Karena kita pesisir jadi memang iklimnya panas," tutur Farihin belum lama ini.

Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi orang Eropa yang tinggal di Cirebon pada masa Hindia Belanda. Farihin menyebut banyak warga Eropa dan Belanda dahulu bermukim di kawasan sekitar pesisir, termasuk sekitar wilayah BAT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Catatan surat kabar Hindia Belanda menunjukkan bahwa panas dan kemarau di Cirebon juga berkaitan dengan fenomena angin kumbang. Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie edisi 22 Mei 1911 menyebut musim kemarau sebagai masa yang rawan penyakit. Angin kumbang yang bertiup saat muson timur disebut dapat memicu 'Usum Penyakit' atau musim sakit. Kala itu, kolera dan demam bahkan tercatat kerap menimbulkan korban.

ADVERTISEMENT
Keraton Kanoman Cirebon tempo duluKeraton Kanoman Cirebon tempo dulu Foto: foto arsip KITLV Perpustakaan Leiden

Koran Nederlands Indie edisi 12 September 1935 menjelaskan angin kumbang sebagai angin dari wilayah pegunungan yang bertiup menuju lereng dengan kecepatan tinggi. Angin ini biasanya muncul pada musim kemarau, sekitar Juli hingga akhir September. Nama angin tersebut merujuk pada salah satu bukit di sisi tenggara Gunung Ciremai.

Catatan tersebut juga menggambarkan dampaknya terhadap tubuh manusia. Angin kumbang dapat membuat kulit kering, bibir pecah-pecah, serta tubuh terasa panas. Dalam catatan dokter bedah Isaac Douglas yang dimuat Bataviaasch nieuwsblad pada 20 September 1926, paparan panas matahari antara pukul 10.00 hingga 15.00 juga disebut berbahaya bagi orang Eropa. Douglas mencatat keluhan seperti sakit kepala, pusing, kejang-kejang, hingga sesak napas.

Untuk menghadapi iklim tropis, orang Eropa di Hindia Belanda turut menyesuaikan kebiasaan sehari-hari. Dalam jurnal Akulturasi dalam Turisme di Hindia Belanda karya R Achmad Sunjayadi disebutkan bahwa mereka biasa tidur siang sekitar pukul 14.00 hingga 16.00 untuk menghindari paparan panas. Mereka juga lebih sering mandi setelah bangun tidur untuk menyegarkan tubuh.

Angin kumbang tidak hanya berdampak terhadap kesehatan. Angin kencang tersebut juga mempercepat penyebaran kebakaran. Het nieuws van den dag voor Nederlansch-Indie edisi 16 November 1905 melaporkan kebakaran di Gunung Ciremai yang menyebar cepat akibat angin tenggara atau angin kumbang. Api membakar semak, pepohonan rendah, dan alang-alang hingga menjalar ke wilayah Beber. Kebakaran baru padam sekitar satu setengah hari kemudian.

Fenomena serupa terjadi dalam kebakaran di Pekalangan, Cirebon, pada 1937. Bataviaasch nieuwsblad edisi 16 Juli 1937 melaporkan sekitar 100 rumah terbakar dan beberapa anak kecil meninggal. Api yang bermula dari dapur rumah menyebar dengan cepat karena hembusan angin kumbang.

Dampak kemarau dan angin kumbang juga terasa pada sektor pertanian. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie edisi 21 Januari 1933 mencatat Cirebon mengalami cuaca kering dengan curah hujan yang tidak merata. Angin kumbang yang bertiup selama beberapa hari turut mengganggu tanaman hingga warna daun mengalami perubahan. Petani kemudian menambah pasokan air untuk menjaga tanaman dan mempertahankan hasil panen.

Berbagai catatan tersebut menunjukkan bahwa panas, kemarau, dan angin kumbang telah menjadi bagian dari kondisi lingkungan Cirebon sejak masa Hindia Belanda. Selain memengaruhi kesehatan masyarakat, fenomena tersebut juga berdampak terhadap kebakaran hutan, permukiman, dan kegiatan pertanian di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads