Kekeringan Ancam Majalengka, Ribuan Hektare Sawah Berstatus Waspada

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Senin, 13 Jul 2026 21:00 WIB
Ilustrasi petani di Majalengka. (Foto: Rengga Sancaya)
Majalengka -

Ancaman kekeringan mulai menghantui lahan pertanian di Kabupaten Majalengka seiring memasuki musim kemarau. Meski belum ada lahan yang mengalami gagal panen (puso), ribuan hektare sawah kini telah berstatus waspada, bahkan sebagian sudah masuk kategori kekeringan ringan.

Ketua Tim Kerja/Analis Ketahanan Pangan Bidang Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka, Ratih Fatimah Fatmawati mengatakan, ancaman kekeringan di Majalengka tidak jauh berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Perbedaannya hanya terletak pada ketersediaan sumber air di masing-masing wilayah.

"Ancaman kekeringan di Kabupaten Majalengka hampir sama dengan kabupaten lain karena kondisi cuaca terjadi secara menyeluruh. Yang membedakan hanya ketersediaan sumber airnya," kata Ratih kepada detikJabar, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, Majalengka mengandalkan pasokan air dari Sungai Cilutung, Sungai Cimanuk, hingga Waduk Jatigede yang mengalir ke Bendungan Rentang. Namun, wilayah yang jauh dari sumber air mulai merasakan dampak musim kemarau.

Ratih menuturkan, sejumlah petani di daerah yang jauh dari aliran sungai sudah tidak memiliki pilihan untuk melanjutkan musim tanam (MT) ketiga karena cadangan air semakin terbatas.

"Bahkan ada petani yang sudah melakukan pengeboran sumur hingga kedalaman sekitar 60 meter, tetapi airnya tidak ditemukan. Artinya, cadangan air tanah di lokasi tersebut memang sangat terbatas," ujarnya.

Selain tidak memiliki sumber air tanah, wilayah tersebut juga tidak dilintasi sungai sehingga petani tidak dapat memanfaatkan pompa air. Akibatnya, mereka dipastikan tidak bisa melaksanakan MT3.

Sebaliknya, sawah yang berada di sekitar aliran Sungai Cilutung, Cimanuk, maupun wilayah Sukawana dan Balida masih berpeluang melakukan MT3 apabila pasokan air mencukupi.

"Kalau air tersedia dan didukung sarana seperti IRPOM (Irigasi Perpompaan) maupun perpipaan, petani masih bisa menanam padi. Tapi kalau air diperkirakan tidak cukup, alternatifnya beralih ke jagung, kedelai atau kacang hijau yang kebutuhan airnya lebih sedikit," jelasnya.

Ribuan Hektare Sawah Berstatus Waspada

Ratih menjelaskan, berdasarkan pemantauan DKP3, luas lahan yang mulai terdampak kekeringan terus bertambah.

Pada Juni 2026, lahan yang masuk kategori kekeringan ringan tercatat seluas 24 hektare di Kecamatan Jatiwangi dan Ligung. Sementara lahan berstatus waspada mencapai sekitar 3.313 hektare.

Memasuki Juli, luas lahan kategori ringan meningkat menjadi 108 hektare yang tersebar di Kecamatan Jatiwangi, Kertajati, Jatitujuh, Ligung, dan Sindang. Sedangkan lahan berstatus waspada bertambah menjadi sekitar 4.715 hektare.

Ia menjelaskan, status waspada belum masuk kategori kekeringan karena masih dapat ditangani melalui berbagai upaya, salah satunya pompanisasi.

"Dalam kategori kekeringan itu ada ringan, sedang, berat, dan puso. Alhamdulillah di Majalengka belum ada yang masuk kategori puso, masih kategori ringan," ungkap Ratih.

Pompanisasi Disiapkan Selamatkan MT2

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, Pemkab Majalengka mendapat dukungan program irigasi perpompaan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian.

Program tersebut memanfaatkan sumber air permukaan maupun air tanah melalui pengeboran sumur, terutama di wilayah yang jauh dari aliran sungai.

Ratih mengatakan, bantuan tersebut diharapkan dapat menyelamatkan tanaman padi musim tanam kedua (MT2) yang saat ini masih membutuhkan pasokan air hingga menjelang panen.

"Kalaupun belum bisa mendukung MT3, minimal bisa menyelamatkan MT2 karena di beberapa lokasi tanaman sudah mulai kekurangan air menjelang panen," katanya.

Tahap pertama, bantuan IRPOM telah disalurkan kepada 76 kelompok tani yang tersebar di sejumlah kecamatan. Wilayah penerima terbanyak berada di Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, dan Dawuan.

Selain IRPOM, Majalengka juga memperoleh alokasi pembangunan perpipaan sebanyak 13 titik pada 2026 untuk membantu mengalirkan air ke lahan pertanian yang belum memiliki jaringan irigasi permanen.

Panen Raya Bergeser

Di sisi lain, Ratih mengungkapkan, panen MT2 tahun ini belum menyeluruh. Beberapa kecamatan seperti Kertajati dan Jatitujuh masih belum memasuki masa panen, sedangkan Kadipaten, Panyingkiran, Kasokandel, Dawuan, dan sebagian Sumberjaya mulai memanen padi.

Ia menyebut, kondisi tersebut dipengaruhi pola tanam yang tidak serempak. Bahkan di beberapa desa, petani sengaja menunda tanam untuk menghindari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), terutama tikus.

"Panen raya diperkirakan baru berlangsung akhir Juli sampai Agustus karena tahun ini terjadi pergeseran jadwal tanam. Harapan kami, sentra produksi padi seperti Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Jatiwangi, dan Dawuan bisa melewati MT2 dengan aman hingga masa panen," pungkasnya.




(sud/sud)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork