Padi hingga Jagung Jadi Andalan Majalengka untuk Swasembada Pangan

Padi hingga Jagung Jadi Andalan Majalengka untuk Swasembada Pangan

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Kamis, 07 Mei 2026 23:30 WIB
Hamparan sawah di Majalengka
Hamparan sawah di Majalengka (Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar)
Majalengka -

Kabupaten Majalengka terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Produksi padi yang melimpah hingga komoditas jagung dan tebu menjadi andalan daerah berjuluk 'Kota Angin' itu untuk menjaga ketahanan pangan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Majalengka Gatot Sulaeman mengatakan, produksi pangan terbesar di Majalengka masih didominasi sektor padi. Pada tahun 2025 lalu, total produksi padi di Majalengka mencapai 656.840 ton dari luas areal tanam sekitar 102.976 hektare.

"Produksi pangan di Majalengka ada padi dan palawija. Untuk produksi padi kita totalnya 656.840 ton di tahun 2025 dengan luas areal 102.976 hektare," kata Gatot kepada detikJabar, Kamis (7/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melimpahnya hasil panen membuat Majalengka kini berada dalam kondisi surplus beras. Dari total produksi gabah 656.840 ton, setelah dikonversi menjadi beras menghasilkan sekitar 420.509 ton.

ADVERTISEMENT

"Itu sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan masyarakat Majalengka yang jumlah penduduknya sekitar 1,3 juta jiwa. Jadi kita surplus," ujar Gatot.

Menurutnya, sebagian surplus hasil panen tersebut diserap Bulog hingga membuat gudang penyimpanan di Majalengka sempat penuh saat program serapan gabah petani berlangsung.

"Nah kemarin waktu sergap (serapan gabah petani) dengan Bulog, gudang-gudang Bulog di Majalengka juga sempat penuh," ungkapnya.

Selain padi, komoditas palawija juga menjadi penopang ketahanan pangan di Majalengka. Jagung menjadi komoditas terbesar dengan luas lahan mencapai 15.666 hektare dan produksi sebanyak 122.375 ton sepanjang 2025.

Sementara komoditas lainnya meliputi kedelai 18 ton, kacang tanah 389 ton, kacang hijau 132 ton, ubi kayu 1.377 ton dan ubi jalar 7.124 ton.

Tak hanya itu, sektor perkebunan tebu juga terus didorong untuk mendukung program swasembada gula nasional. Gatot menyebut, pada 2025 lalu Majalengka berhasil memenuhi target program bongkar ratoon seluas 1.000 hektare.

"Tahun kemarin target bongkar ratoon 1.000 hektare dan Alhamdulillah tercapai. Tahun ini ada lagi target bongkar ratoon dan perluasan untuk swasembada gula total 2.200 hektare," ujarnya.

"Tetapi hingga saat ini kita masih terus berupaya, karena per hari ini kita masih mencapai sekitar 5.029 hektare untuk komoditi tebu," sambungnya.

Untuk menjaga produktivitas pertanian tetap stabil, Pemkab Majalengka melakukan berbagai strategi mulai dari pendampingan petani, penyediaan bibit unggul hingga penguatan sarana irigasi.

"Kita koordinasi dan kolaborasi dengan para penyuluh pertanian dan POPT. Untuk serapan gabah petani juga dibantu TNI dan Polri melalui Bulog," tutur Gatot.

Di sisi lain, pemerintah juga memberikan dukungan berupa bantuan bibit unggul padi dan jagung, pupuk subsidi, hingga obat-obatan pertanian seperti insektisida, herbisida dan fungisida.

Selain itu, bantuan alat mesin pertanian dan perbaikan irigasi terus dilakukan agar kebutuhan air petani tetap tercukupi. Program irigasi perpompaan, perpipaan hingga perbaikan jaringan tersier juga dilakukan bersama pemerintah pusat dan BBWS.

"Dari pusat ada program irigasi perpompaan, irigasi perpipaan maupun perbaikan jaringan tersier. Jadi kecukupan air bisa dipenuhi sesuai kebutuhan wilayah," jelasnya.

Menurut Gatot, dukungan pemerintah juga diberikan pada proses pasca panen hingga penyerapan gabah petani. Saat ini Bulog menerima gabah padi dengan harga dasar Rp6.500 per kilogram dan jagung Rp6.400 per kilogram.

"Itu menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjamin kesejahteraan petani," katanya.

Sementara itu, di tengah ancaman cuaca ekstrem dan fenomena El Nino, Pemkab Majalengka juga mulai melakukan langkah antisipasi. Salah satunya dengan percepatan masa tanam agar produksi pangan tetap terjaga saat musim kemarau datang.

"Beberapa lokasi yang sudah mau panen dipercepat untuk tebar benih. Jadi setelah panen, lahannya bisa langsung diolah dan ditanam kembali," ujar Gatot.

Selain itu, pemerintah juga mengusulkan perbaikan jaringan irigasi di sejumlah wilayah serta menyalurkan bantuan pompa air dan alat mesin pertanian guna mengantisipasi dampak kekeringan.

"Kemudian kemarin juga kita sudah mendata dan mengusulkan untuk perbaikan jaringan-jaringan irigasi di seluruh Majalengka. Bahkan ada beberapa titik yang saat ini masih dalam proses verval, verifikasi dan validasi lokasi. Lalu bantuan pompa air atau alsintan dari pemerintah, itu juga salah satu upaya kita pencegahan agar nanti dampak El Nino juga bisa kita antisipasi," pungkasnya.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads