Musim Kemarau, Majalengka Petakan 30 Desa Rawan Kekeringan

Musim Kemarau, Majalengka Petakan 30 Desa Rawan Kekeringan

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Sabtu, 04 Jul 2026 06:00 WIB
Ilustrasi kekeringan ekstrem
Ilustrasi kekeringan (Foto: The Cool Down)
Majalengka -

Sebanyak 30 desa yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Majalengka diprediksi berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Prediksi tersebut disusun berdasarkan informasi dari BMKG, BPBD Provinsi Jawa Barat, serta data kejadian kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya.

Kepala BPBD Majalengka Agus Tamim mengatakan, wilayah yang diprediksi rawan kekeringan tersebar di Kecamatan Panyingkiran, Kadipaten, Jatitujuh, Kasokandel, Kertajati, Majalengka, Palasah, Cigasong, Lemahsugih, Sumberjaya, Leuwimunding, Bantarujeg, Dawuan, hingga Ligung.

"Prediksi ini kami susun berdasarkan informasi dari BMKG, BPBD Provinsi Jawa Barat, serta data kejadian kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya. Ini menjadi dasar kami untuk melakukan langkah antisipasi lebih awal," kata Agus kepada detikJabar, Jumat (3/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun desa yang masuk dalam daftar potensi rawan kekeringan yakni Desa Bantrangsana, Jatisawit dan Jatipamor di Kecamatan Panyingkiran, Desa Heuleut dan Cipaku di Kecamatan Kadipaten, Desa Jatitujuh, Babajurang, Putridalem, serta Pilangsari di Kecamatan Jatitujuh.

ADVERTISEMENT

Kemudian Desa Girimukti dan Gandasari di Kecamatan Kasokandel, Desa Mekarmulya dan Mekarjaya di Kecamatan Kertajati, ? Kelurahan Cicurug, Cijati, Desa Cibodas, dan Sidamukti di Kecamatan Majalengka, Desa Cisambeng di Kecamatan Palasah, Desa Tenjolayar, Baribis, Kelurahan Cigasong, dan Simpeureum di Kecamatan Cigasong.

Selain itu terdapat Desa Sadawangi dan Mekarwangi di Kecamatan Lemahsugih, Desa Paningkiran dan Garawangi di Kecamatan Sumberjaya, Desa Leuwimunding di Kecamatan Leuwimunding, Desa Bantarujeg di Kecamatan Bantarujeg, Desa Kedungsari di Kecamatan Ligung, serta Desa Karanganyar di Kecamatan Dawuan.

Untuk mengurangi dampak kekeringan, Agus menyampaikan, BPBD telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, baik terhadap kebutuhan air bersih masyarakat maupun sektor pertanian.

Langkah pertama yang dilakukan yakni melalui komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana).

"Kami terus memberikan edukasi kepada masyarakat melalui Destana agar warga lebih siap menghadapi musim kemarau dan potensi kekeringan," ujarnya.

Selain itu, jelas Agus, BPBD Majalengka juga memperkuat koordinasi dengan BMKG, BPBD Provinsi Jawa Barat, TNI, dan Polri guna memantau perkembangan kondisi cuaca selama musim kemarau.

Adapun untuk mengantisipasi krisis air bersih, BPBD menjalin koordinasi dengan PDAM, PMI, serta perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar wilayah rawan agar penyaluran bantuan air bersih dapat dilakukan dengan cepat apabila dibutuhkan.

Sementara untuk mengurangi dampak kekeringan terhadap lahan pertanian, BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dalam penyusunan pola tanam serta langkah antisipasi pengairan.

"Kami berharap dengan koordinasi lintas sektor ini, dampak kekeringan terhadap masyarakat maupun sektor pertanian dapat diminimalkan," pungkas Agus.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads