Riuh rendah Jalan Rangga Gading tak pernah benar-benar reda. Di antara derap langkah mahasiswa yang memburu makan siang, kepul asap dari wajan panas milik Ahmad (57) menjadi pemandangan karib.
Pria asal Cirebon ini tampak tangkas membolak-balik adonan di tengah kepungan gerobak kuliner yang memadati kawasan tersebut, mulai dari sate ayam hingga es doger yang menyegarkan tenggorokan.
Di balik kegesitannya melayani pembeli, Ahmad harus berulang kali menjelaskan skema harga baru kepada pelanggan yang mampir ke gerobaknya.
"Satu Rp1.500, empat Rp5.000," kata Ahmad, saat ada pembeli yang menanyakan harga gorengan yang dijual.
Menu yang ditawarkan Ahmad sebenarnya cukup klasik; ada bala-bala, gehu, tempe goreng, hingga martabak telur. Namun, mempertahankan harga agar tetap terjangkau di tahun 2026 ini bukan perkara mudah. Saat berbincang, gurat keletihan tampak di wajahnya ketika menyinggung harga bahan pokok di pasar yang terus merangkak naik tanpa ampun.
"Terigu yang murah saja jadi Rp10 ribu. Tadinya kan Rp8 ribu perkilogramnya. Harga-harga lainnya juga naik semua," keluh Ahmad.
Kenaikan harga bahan baku ini bak buah simalakama bagi Ahmad. Jika tidak menaikkan harga jual, dapur rumahnya terancam tidak mengepul. Namun, meski harga sudah disesuaikan, margin keuntungan yang ia bawa pulang justru kian menyusut karena besarnya modal yang harus dikeluarkan di awal.
"Keuntungan berkurang, pendapatan sekarang dapat paling Rp400-500 ribu. Sebelumnya sama sih, tapi sekarang modalnya lebih besar," terang pria yang sudah menekuni usaha gorengan sejak 2011 ini.
Jauh sebelum menetap dengan gerobak gorengannya, Ahmad adalah saksi hidup pasang surut ekonomi jalanan. Ia sudah mulai berjualan sekoteng dan nasi goreng sejak tahun 1993. Sebagai orang yang melewati masa mudanya di era kepemimpinan Presiden Soeharto, ia kerap membandingkan daya beli masyarakat dulu dan sekarang.
"Zamannya Soeharto jauh, enggak ada beras yang harganya lebih dari Rp1.000, walaupun moneter, sekarang berapa coba? Rp15-16 ribu," ujar Ahmad menggerutu.
Kondisi ekonomi saat ini mengingatkan Ahmad pada sebuah istilah yang pernah diucapkan orang tuanya dulu, sebuah ramalan tentang masa depan yang kini ia rasakan nyata.
"Makanya kata orang tua saya dulu, nanti kamu bakal punya dapat uang balok. Uang balok itu, uangnya gede tapi olok, epet habis, zaman Pak Harto Rp100 ribu ke pasar bisa makan buat 5 hari, sekarang?" pungkasnya.
Fenomena yang dialami Ahmad bukan kasus tunggal. Di sepanjang Jalan Rangga Gading, tren kenaikan harga ini merata. Gorengan yang dulunya identik dengan harga Rp1.000, kini rata-rata dipatok Rp1.500 per biji. Bahkan, untuk beberapa jenis gorengan dengan ukuran yang lebih jumbo, pembeli harus merogoh kocek hingga Rp2.500 sampai Rp3.000 demi satu potong kudapan hangat tersebut.
Simak Video "Menikmati Keunikan Dessert Pizza Ice Cream di Bandung"
(wip/dir)