Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mulai menjerit akibat melonjaknya harga plastik dan kantong asoy di pasaran. Kenaikan harga yang terjadi pasca-Lebaran ini membuat margin keuntungan para pedagang kecil kian tergerus.
Pantauan detikSumbagsel di beberapa kawasan seperti Pipareja, Swadaya, hingga Palimo menunjukkan kenaikan harga plastik terjadi merata pada berbagai ukuran. Para pedagang mengaku kesulitan menaikkan harga jual produk di tengah melambungnya biaya operasional.
Salah satu pedagang gorengan di kawasan Pipareja, Aam (36) mengungkapkan harga plastik ukuran 15 kini menyentuh Rp 58.000 per kibet. Padahal, sebelumnya harga plastik tersebut hanya berada di kisaran Rp 37.000.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Naik terus sejak Lebaran. Dari Rp 37.000 naik ke Rp 48 ribu, lalu Rp 54.000, dan sekarang sudah Rp 58.000 per kibet. Modal nambah terus, tapi harga gorengan tetap seribu rupiah, tidak bisa kami naikkan, yang pasti keuntungan jadi ke geser juga," ujar Aam, Selasa (7/4/2026).
Kondisi serupa dialami Hanip, pedagang es dogan di kawasan Swadaya. Ia menyebut harga plastik wadah dogan ukuran 15x30 melonjak dari Rp 35.000 menjadi Rp 50.000 per bal, sementara kantong asoy naik sekitar Rp 3.000 per bal.
"Jualan tidak naik harganya, tapi plastik melonjak semua. Untungnya ada, tapi tipis nian. Habis bae (saja) untung untuk beli plastik," keluh Hanip.
Dampak paling signifikan dirasakan oleh Rani (35), pemilik usaha minuman di kawasan Palimo. Ia mengaku omzet penjualannya merosot hingga 50 persen akibat kenaikan harga bahan baku plastik dan cup minuman.
Rani merinci, harga cup ukuran 16 yang biasanya Rp 8.500 kini naik menjadi Rp 13.000. Sementara plastik ukuran kecil melonjak dua kali lipat dari harga Rp 3.000 menjadi Rp 6.000.
"Penurunan omzet sekitar 50 persen. Berdampak banget buat kami. Harapannya harga kembali normal biar pedagang enak carinya, kalau begini terus untungnya makin habis," tegas Rani.
Penjual toko plastik di Palembang, Ayu Lucia mengatakan kenaikan harga paling terasa pada jenis plastik bening. Produk yang semula berada di kisaran Rp 7.000 hingga Rp 8.000, kini merangkak naik hingga menyentuh angka Rp 12.000.
"Hampir naik semua, dari misal kita harga Rp 8.000, jadi Rp 12.000 sekarang biasanya. Itu sejak habis Lebaran lah naiknya," ujar Ayu Lucia kepada detikSumbagsel, Selasa (7/4/2026).
Kondisi serupa dialami oleh Toko Plastik Jepri. Pemilik toko menyebutkan bahwa kemasan jenis cup plastik juga mengalami kenaikan harga, meski tidak sedrastis plastik bening. Untuk kemasan satu wadah berisi 50 buah cup, harga yang sebelumnya Rp 8.000 kini telah naik menjadi Rp 10.000.
"Pas sebelum Lebaran itu harganya Rp 8.000. Paling kita naikin Rp 2.000, jadi Rp 10.000 kita jual sekarang. Isinya 50 se-wadah itu," ungkapnya.
Sementara itu, Akbar pemilik Toko Plastik Jaya, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini hanya menyasar produk berbahan plastik dan produk yang bersifat bening/transparan. Untuk kemasan berbahan dasar kertas, harga cenderung masih stabil dan tidak mengalami lonjakan.
Lonjakan harga ini memaksa para pedagang kecil dan pemilik warung untuk memutar otak agar tidak merugi. Beberapa di antaranya terpaksa menaikkan harga jual produk demi menutupi mahalnya biaya pengemasan.
"Kalau yang berhubungan dengan yang bening-bening seperti itu naik, kalau yang kertas nggak pula," ujarnya.
Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri, Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(csb/csb)











































