Menjaga Warisan Budaya Gegesik Cirebon, Dede Setia Tekuni Seni Ukir

Menjaga Warisan Budaya Gegesik Cirebon, Dede Setia Tekuni Seni Ukir

Devteo Mahardika - detikJabar
Kamis, 22 Okt 2026 21:00 WIB
Dede sedang melakukan akrivitas memahat kayu
Dede sedang melakukan akrivitas memahat kayu. (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar)
Cirebon -

Bunyi pahat yang beradu dengan kayu menjadi bagian dari perjalanan panjang Dede dalam menekuni seni ukir. Di tengah perkembangan zaman yang kian modern, pemuda asal Desa Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon ini tetap setia mengolah kayu menjadi karya seni bernilai budaya.

Tak banyak yang mengetahui, di desa tersebut terdapat perajin ukiran kayu yang telah berkarya lebih dari satu dekade. Sejak 2014, Dede menekuni seni ukir berawal dari hobi dan ketertarikannya terhadap proses membentuk kayu menjadi beragam motif yang memiliki nilai estetika.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau saya awal coba mengukir kayu dari tahun 2014," hawab singkat Dede, Kamis (22/10/2026).

Bagi Dede, mengukir kayu bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Seiring perjalanan waktu, keterampilan yang awalnya tumbuh dari kegemaran itu berkembang menjadi pekerjaan yang turut menopang kehidupan keluarganya.

ADVERTISEMENT

Lebih dari itu, seni ukir menjadi salah satu cara Dede menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.

"Kalau boleh cerita sih saya cuma iseng awalnya, tapi enggak taunya pas saya tekuni jadi pemaukan utama buat keluarga," paparnya.

Dengan bermodalkan pahat, palu kayu, serta ketekunan, ia mengerjakan setiap pesanan secara bertahap. Potongan kayu yang semula tampak biasa perlahan berubah menjadi karya dengan detail dan karakter tersendiri, bergantung pada desain serta tingkat kerumitan motif yang dibuat.

Dari berbagai karya yang dihasilkan, ukiran bermotif wayang dan blawong menjadi produk yang banyak dipesan pelanggan. Blawong merupakan tempat atau wadah untuk menyimpan keris yang juga dapat memiliki nilai seni melalui ukiran pada permukaannya.

"Sejauh ini yang banyak di pesan sih motif wayang sama blawong ya kalau kata orang sini. Blawong itu tempat untuk keris," bebernya.

Karya-karya Dede tidak hanya diminati warga Cirebon, tetapi juga telah dibeli oleh pelanggan dari luar daerah. Hal ini menunjukkan bahwa kerajinan ukir kayu dari desa tersebut memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Dalam menjalankan usahanya, Dede tidak selalu memproduksi ukiran setiap hari. Ia menyesuaikan pekerjaan dengan pesanan yang masuk. Meski demikian, setiap bulan selalu ada pelanggan yang memesan karyanya.

"Pesanan memang banyak dari Cirebon, tapi di setiap bulan juga ada aja pesanan dari luar kota," ucapnya.

Pesanan tersebut datang melalui dua jalur, yakni pelanggan yang menghubunginya secara langsung dan calon pembeli yang menemukannya melalui media sosial.

Pemanfaatan media sosial menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan karya sekaligus membuka akses bagi pelanggan dari luar wilayah Cirebon. Dengan demikian, hasil kerajinan yang dibuat di lingkungan desa dapat menjangkau orang-orang yang sebelumnya mungkin tidak mengetahui keberadaan perajin tersebut.

"Media sosial sebenarnya sangat membantu juga, karena pesanan dari luar kota banyaknya pesanan lewat media sosial," ungkapnya.

Proses Panjang di Balik Sebuah Ukiran

Membuat ukiran kayu bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Setiap karya membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan agar motif yang diinginkan dapat terbentuk dengan baik.

Dede menjelaskan, waktu pengerjaan sangat bergantung pada tingkat kesulitan desain. Untuk ukiran dengan motif yang relatif sederhana, prosesnya bisa selesai dalam waktu sekitar lima hari. Namun, karya dengan detail yang lebih rumit dapat membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan.

"Itu juga tergantung dari mood, kalau mood nya bagus yang cepet buat ngerjainnya. Kalau mood lagi jelek ya bisa berbulan-bulan ngerjain satu ukiran," tuturnya sambil tersenyu.

Sebelum mulai memahat, ia terlebih dahulu membuat desain melalui gambar. Desain tersebut kemudian dituangkan pada permukaan kayu yang akan dijadikan media ukir.

Setelah pola terbentuk, proses pemahatan dilakukan secara langsung dengan mengikuti rancangan yang telah dibuat. Pada tahap inilah ketelitian menjadi sangat penting karena setiap goresan pahat menentukan bentuk akhir karya.

Semakin rumit motif yang dikerjakan, semakin besar pula waktu dan konsentrasi yang dibutuhkan. Karena itu, proses mengukir tidak hanya mengandalkan kekuatan tangan, tetapi juga kemampuan membaca pola, mengatur kedalaman pahatan, serta menjaga detail agar tetap sesuai dengan desain.

"Awal-awal ngukir kayu ya saya juga merasa susah, apalagi kalau motifnya kecil-kecil. Sampai sekarang saya juga harus teliti kalau motifnya kecil karena harus mengatur kekuatan palu dan pahat supaya dasaran kayu yang di ukir enggak pecah," bebernya.

Lamanya pengerjaan tersebut turut memengaruhi harga jual. Dede menentukan harga berdasarkan tingkat kesulitan ukiran dan jenis bahan kayu yang digunakan.

Dengan sistem tersebut, setiap karya memiliki nilai yang disesuaikan dengan proses pengerjaan dan materialnya. Sebuah ukiran bukan hanya dinilai dari bentuk akhirnya, tetapi juga dari waktu, keterampilan, dan ketelitian yang dicurahkan selama proses pembuatan.

Berharap Seni Ukir Tetap Lestari

Di tengah perubahan selera masyarakat dan perkembangan produk yang semakin beragam, keberadaan perajin seperti Dede menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan seni kerajinan tradisional di daerah.

Ia menyampaikan, keterampilan mengukir membutuhkan proses belajar dan pengalaman yang panjang. Pengetahuan mengenai motif, teknik pemahatan, hingga pemilihan bahan tidak selalu dapat dikuasai dalam waktu singkat. Karena itu, keberlanjutan seni ukir juga membutuhkan minat dari generasi muda untuk mempelajari dan mengembangkannya.

Dede berharap seni ukir kayu dapat terus bertahan dan menjadi salah satu kekayaan budaya Desa Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon.

Baginya, mempertahankan kerajinan ini berarti menjaga keterampilan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mempertahankan tradisi yang patut diwariskan.

Perjalanan Dede sejak 2014 menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari langkah sederhana menekuni keterampilan, menghasilkan karya, dan terus membuka ruang agar masyarakat mengenal seni yang dikerjakan.

"Saya sih berupaya menjaga agar seni ukir tidak berhenti sebagai jejak masa lalu," pungkasnya.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads