Menelusuri Jejak Penjual Bunga di Kota Kembang

Menelusuri Jejak Penjual Bunga di Kota Kembang

Siti Nurhaliza Safitri - detikJabar
Selasa, 20 Okt 2026 06:30 WIB
Toko penjual bunga di Bandung.
Toko penjual bunga di Bandung. (Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar)
Bandung -

Bahasa bukan satu-satunya cara untuk mengungkapkan kasih sayang. Beberapa orang justru memilih bunga sebagai medium dalam mewakili perasaan yang ingin disampaikan terhadap orang terkasih.

Kota Bandung yang juga dikenal sebagai Kota Kembang menjadi lokasi strategis untuk berburu bunga. Tak hanya florist bergaya modern, masyarakat bisa mendapatkan buket bunga dari pasar tradisional yang telah berdiri sejak lama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasar Bunga Wastukencana merupakan salah satu lokasi perbelanjaan bunga yang telah berdiri sejak tahun 1960-an. Hingga saat ini, sejumlah pedagang masih terus bertahan di tengah gempuran penjual bunga generasi baru.

Endang, salah seorang pedagang bunga di Pasar Wastukencana, mengaku telah menjalankan bisnis keluarganya sejak tahun 1990-an. Saat ini ia mengelola usaha yang diwariskan orang tuanya bersama dengan kakak perempuannya.

ADVERTISEMENT

Berbagai jenis bunga ia tawarkan meliputi mawar, hebras, aster, sedap malam, hingga anthurium. Rentang harganya pun beragam, per satu tangkai bunga mawar dihargai sebesar Rp10.000 sementara bunga aster dihargai sebesar Rp25.000 per ikat dengan isi 10 batang bunga. Endang bercerita bahwa bunga dagangannya berasal dari berbagai wilayah di Jawa Barat.

"Banyak macam-macam ya, anthurium kami dapatkan dari Sukabumi. Sementara asternya dipasok dari Lembang sama Cipanas," jelas Endang saat diwawancarai di tokonya, Senin (19/10/2026).

Selain menyediakan bunga tangkai, Endang menjelaskan bahwa sebenarnya pedagang bunga di Pasar Wastukencana lebih dominan menerima pesanan berupa papan bunga berisi ucapan. Harga yang ditawarkan pun beragam sesuai dengan ukuran yang dipesan oleh pembeli dan variasi bunga yang digunakan. Untuk ukuran 2 x 1 meter merogoh kocek mulai dari Rp500.000, sementara ukuran 2 x 1,25 mulai dari Rp600.000 hingga dua juta rupiah.

"Kalau buat papan itu biasanya menggunakan bunga aster, mawar, hebras. Tinggal menyesuaikan sama momennya, apakah momen pernikahan, ucapan selamat dan sukses, atau bunga duka. Kalau bunga duka kan biasanya putih dan kuning, sedangkan kalau untuk wedding sama momen selamat sukses biasanya bunganya lebih ceria dan berwarna," ucapnya lebih lanjut.

Toko penjual bunga di Bandung.Toko penjual bunga di Bandung. (Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar)

Maraknya pesanan berupa papan bunga membuat minimnya pelanggan yang langsung datang ke toko. Endang mengatakan pelanggannya lebih sering memesan melalui WhatsApp dan kemudian akan diambil atau dikirimkan ke lokasi pelanggan yang dominan berasal dari perusahaan.

"Jadi pesan dulu dan request-nya mau kayak gimana. Nanti dibikinkan dan baru diambil atau dikirim. Tapi kalau untuk wisuda itu kadang-kadang pedagang bunga suka datang langsung ke tempatnya. Tergantung rezekinya saja, kalau yang sudah langganan biasanya memang suka datang langsung sebelum event dimulai," tambahnya.

Bergeser sepanjang dua kilometer, terdapat pula pasar bunga tradisional di daerah Cicendo, tepatnya Pasar Bunga Pandu. Menurut kesaksian salah satu penjual bunga, Fadil, kawasan tersebut memang sudah dipenuhi oleh pedagang bunga sejak lama. Walau begitu, Pasar Bunga Pandu baru dihimpun sebagai satu kesatuan sejak 2021.

Fadil sendiri merupakan pedagang bunga generasi kedua yang meneruskan usaha milik bibinya. Ia telah menggeluti bidang tersebut sejak 2019 dan kini telah terbiasa merangkai bunga.

Saat dikunjungi oleh tim detikJabar, gerai milik Fadil diwarnai berbagai jenis bunga seperti gerbera, aster, mawar, daisy, hingga bunga lili yang dipasok dari Lembang. Pelanggan bisa mendapatkan seikat buket bunga mulai dari Rp25.000 saja. Menariknya, pelanggan bisa menyesuaikan jenis bunga dengan selera masing-masing.

"Kalau mawar satu tangkainya Rp5.000 tapi bisa dibikin buket juga. Kalau yang paling mahal itu ada bunga lili yaitu Rp125.000 untuk satu batang yang berisi lima tangkai atau bisa lebih sesuai ketersediaan," jelas Fadil.

Berbeda dengan Pasar Wastukencana, pelanggan yang datang ke gerai bunga di Pasar Bunga Pandu didominasi oleh anak sekolah hingga mahasiswa. Musim wisuda menjadi salah satu acara yang melatarbelakangi maraknya pesanan bunga.

Ketika ditanyai mengenai tantangan berjualan bunga di tengah gempuran toko bunga modern hingga marketplace online, Fadil bercerita tentang pelanggannya yang terkadang labil dalam menentukan kombinasi bunga. Tak jarang pula ia mendapati kisah lucu ketika pesanan yang sudah dibayar namun tak kunjung dijemput oleh pemiliknya.

"Mungkin hubungannya sudah kandas ya," ujar Fadil berspekulasi.

Di sisi lain, Endang menjabarkan pengamatannya bahwa saat ini daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor tantangan usahanya. Selama 30 tahun berkarier di bidang florist, Endang juga merasa terdapat perbedaan karakteristik pelanggan.

"Sekarang daya beli berkurang, terus saingan juga semakin beragam. Kalau dulu tahun 90-an belum ada toko online jadi pelanggan harus datang langsung ke toko. Bahkan dulu pasar bunga ramai layaknya pasar kebutuhan sehari-hari. Sekarang pangsa pasar meluas tapi sebenarnya konsumen menyempit, cenderung ke kantoran-kantoran," ucapnya.

Endang berharap perekonomian nasional dapat segera pulih sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat. Dengan demikian, aktivitas perdagangan di seluruh sektor perekonomian dapat kembali bangkit dan omzet pedagang berangsur membaik.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads